Erabaru.net. Pada mata pelajaran mengarang di sebuah sekolah dasar di Amerika, tema karangan yang diberikan guru pada murid-muridnya adalah: “Cita-citaku”.

Seorang murid sangat menyukai tema itu, dan di atas buku catatannya, dengan segera menuliskan cita-citanya. Ia berharap, kelak di masa yang akan datang bisa memiliki sebidang tanah dengan luas, menanam rerumputan hijau bagaikan permadani.

Dan terdapat pondok kayu yang tak terhitung jumlahnya, tempat pemanggangan, serta sebuah vila peristirahatan.

Selain untuk ditinggali sendiri, juga bisa dinikmati bersama dengan wisatawan yang datang berkunjung, dan disediakan tempat bagi mereka untuk istirahat.

Setelah karangannya selesai dan diperiksa oleh gurunya, di atas buku catatan murid tersebut diberi sebuah huruf “X” merah yang besar-besar, kemudian dikembalikan padanya.

Sang guru menyuruhnya untuk mengarang ulang. Si murid melihat dan melihat lagi dengan cermat isi karangan yang ditulisnya sendiri, dengan rasa tidak bersalah, lalu sambil membawa buku karangannya, ia meminta penjelasan dari gurunya.

Sang guru memberitahu, “Saya menyuruh kalian menulis cita-cita kalian sendiri, bukan khayalan-khayalan kosong yang bagaikan mimpi ini, saya menginginkan cita-cita yang riil, bukan khayalan yang hampa, tahukah kamu?”

Si murid mengajukan bantahan yang keras atas dasar yang benar, “Tetapi… guru, ini memang benar-benar cita-cita saya!”

Namun, sang guru bersikeras, “Tidak, itu tidak mungkin terwujud, itu hanya setumpukan impian kosong, saya menginginkan kamu menulis kembali.”

Si murid tidak mau berkompromi dan memberitahu pada gurunya, “Saya tahu jelas, ini baru merupakan keinginan saya yang sesungguhnya, dan saya tidak mau mengubah isi karangan perihal cita-cita saya itu.”

Sang guru menggelengkan kepalanya, “Kalau kamu tidak menulis ulang, saya tidak akan membuatmu lulus, kamu harus tahu itu.”

Si murid juga turut menggelengkan kepalanya, tidak bersedia menulis ulang, dan karangan itu lantas mendapatkan sebuah nilai “E” yang ditulis besar-besar.

Setelah 30 tahun berlalu, guru itu membawa sekelompok murid pergi bertamasya ke sebuah tempat rekreasi yang indah pemandangannya, menikmati pemandangan hijau yang tak bertepi dengan sepuasnya, tempat tinggal yang nyaman.

Ketika sedang memanggang daging dengan abu sedap yang bertebaran di mana-mana, ia melihat seorang laki-laki paruh baya berjalan menghampirinya, dan menyatakan pernah menjadi muridnya.

Laki-laki paruh baya ini memberitahu pada gurunya, bahwa ia adalah si murid yang karangannya tidak lulus waktu itu, dan kini, ia memiliki lahan tempat berlibur yang luas ini, dan benar-benar telah mewujudkan impiannya sejak kecil.

Sang guru memandangi pemilik lahan ini, teringat perjalanan hidup diri sendiri sebagai guru yang tidak berani dibayangkan selama 30 tahun lebih, dan tak tahan ia mengeluh dengan berat, “Selama 30 tahun dan demi diri pribadi, tidak tahu sudah berapa banyak mengubah impian anak-anak karena prestasi.

“Namun kamu, adalah satu-satunya murid yang tetap mempertahankan impian diri sendiri, yang tidak berubah oleh karena saya. (asr)

Share

Video Popular