Erabaru.net. Budaya Jepang sangat menarik bagi banyak orang, termasuk orang Barat.

Apalagi, banyak perbedaan antara budaya Barat dengan budaya negeri Sakura itu, sehingga menarik perhatian masyarakat.

Tapi kita tidak boleh lupa bahwa walaupun berbeda, budaya Jepang tetaplah memiliki pesona luar biasa bila dilihat dari perspektif luar.

Mungkin tinggal di Jepang bisa menyulitkan bagi sebagian besar orang Barat, bahkan tak tahan untuk berlama-lama disana, seperti yang bisa diketahui dalam novel “Fear and Trembling” karya Amélie Nothomb.


Tokoh utama dalam buku ini adalah Amélie, seorang wanita Belgia muda yang menghabiskan lima tahun hidupnya di Jepang pertama kali.

Kemudian dalam kehidupannya dia menandatangani kontrak satu tahun dengan perusahaan Jepang yang cukup terkenal, bernama Yumimoto.

Ketika Amélie mencoba memenuhi mimpinya bekerja di perusahaan Jepang dan menjadi bagian dari budaya Jepang, dia mengalami banyak kejutan budaya yang menunjukkan betapa bedanya budaya Jepang dengan budaya Barat.

Salah satu kebiasaan menarik di Jepang adalah “Dogeza”.

Dogeza adalah salah satu sikap yang biasa dilakukan masyarakat Jepang untuk meminta maaf jika melakukan suatu kesalahan kepada orang yang lebih tua, dan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tua atau orang yang paling dihormati.

Selain itu, Dogeza juga dilakukan saat seseorang hendak mengungkapkan keinginan untuk bantuan dari orang tersebut.

Cara melakukan Dogeza adalah dengan berlutut langsung di tanah dan membungkuk untuk bersujud hingga kepalanya menyentuh lantai.

Meski banyak digunakan di masa lalu, ide Dogeza masih menjadi bagian budaya Jepang hingga kini.

Generasi muda yang banyak terpengaruh budaya barat mencoba membuat rasa adat tradisional mereka ini dengan cara yang lebih kreatif

https://www.youtube.com/watch?v=X4bAiICYwlo

(intan/asr)

Sumber : NTD.TV

Share

Video Popular