Erabaru.net. Anda adalah orangtua yang mengagumkan, di luar pelajaran sekolah, Anda bahkan bisa ngobrol dengan anak Anda tentang teman-temannya, tentang asmara barunya.

Tetapi tidak tahu mengapa, hasilnya selalu tidak baik ketika mengajar anak-anak tentang bagaimana mengelola keuangan.

Memiliki banyak pengalaman dan kearifan, tapi tidak bisa diwariskan.

Tidak peduli apakah Anda seorang yang hebat dalam hal mengelola keuangan atau sama sekali tidak mengerti, dan tidak peduli apakah usia anak itu 3 tahun atau 30 tahun, coba terapkan kelima metode berikut ini!

Sumber: usnews.com

Jika Anda terapkan, niscaya akan dapat membantu anak Anda belajar penyimpanan uang (menabung)!

Mari kita simak bersama metode berikut ini.

1. Menetapkan aturan sederhana : Simpan 1/4 dari hasil yang didapat.

Sama seperti menyikat gigi, sebaiknya sejak usia 2 tahun, Anda harus mulai mengembangkan kebiasaannya menabung.

Setiap kali anak-anak mendapatkan uang, jangan lagi memaksakan menyimpan semua uangnya ke dalam celengan, tapi menetapkan formula ini, yakni simpan ¼ dari hasil yang diperoleh.

Sumber: httpworkfromhomeadviser.com

Lama kelamaan, dengan sendirinya ia akan menyimpan ¼ dari hasil yang di dapat, karena praktis dan mudah diingat.

1/4 tampaknya tidak begitu banyak, sehingga tidak peduli apakah uang jajan dari kakek atau nenek, atau uang yang terkadang didapat dari saudara, anak Anda pasti akan bisa menabung ¼ nya.

Kemudian yang harus kita lakukan selaku orangtua adalah mengingatkan lagi jumlah ¼ untuk di tabung, agar ia hapal secara alami seperti setiap kali berjalan pulang ke rumah.

Sebenarnya, jumlah orang yang mengingat dan menggunakan aturan praktis, jauh lebih banyak dibandingkan dengan berbagai metode manajemen keuangan yang populer.

Penelitian dari New York University, AS, yang ditujukan terhadap perilaku ekonomi juga menyebutkan, bahwa orang-orang akan menggunakan cara yang paling sederhana untuk memecahkan masalah ketika memutuskan sesuatu, agar hidup menjadi lebih baik.

Berikut ini adalah 4 alasan mengapa orang-orang lebih memilih hukum ekonomi:

1. Membantu kita mengurangi tekanan setiap hari dalam mengambil keputusan berat.

2. Praktis dan mudah dilaksanakan, menghindari keterlambatan

3. Menjadikan informasi yang berlebihan dan kacau menjadi jelas

4. Mudah diingat.

Atas pertimbangan ini, dimana ketika Anda ingin mengajarkan anak Anda tentang aturan menyimpan uang, ingat, sedikit berarti banyak, dan satu butir (aturan) ini juga sudah cukup.

2. Jangan lagi memberikan uang jajan.

Banyak orangtua suka memberikan beberapa kali uang jajan dalam jumlah kecil pada anak-anak.

Menggunakan waktu mingguan mengajarkan konsep yang sulit dimengerti pada anak-anak, seperti sedang mengajarkan seni bela diri. Tapi hasilnya?

Sumber: s-media-cache-ak0.pinimg.com

Anak mereka hanya ingin segera mendapatkan uang jajan, apa yang dikatakan orang tua hanya angin lalu dan dalam sekejab dilupakan mereka.

Penelitian di Inggris menyebutkan, bahwa dibandingkan anak yang bekerja untuk mendapatkan uang, anak-anak yang mendapatkan uang saku itu pada kenyataannya lebih tidak tahu bagaimana menyimpan uang.

Selain itu, anak-anak yang menerima uang jajan itu tidak mengerti akan nilai pekerjaan, yang penting bisa jajan.

Sementara pekerjaan (bekerja) itu sendiri apakah mendatangkan rasa keberhasilan, apakah membuat hidup itu lebih baik, bagi mereka itu sama sekali tidak penting.

Jadi, hentikanlah kebiasaan buruk memberikan uang jajan! Coba perbaiki dengan metode berikut ini :

Ketika anak Anda membutuhkan sesuatu, belikan untuknya. Ketika ia menginginkan sesuatu, beri ia tugas (pekerjaan) sebagai imbalan untuk mendapatkan barang yang diinginkan, misalnya menjaga adiknya yang masih kecil, atau menyiram tanaman, membuang sampah dan pekerjaan rumah lainnya.

3. Biarkan anak-anak menggunakan uang tunai, bukan kartu kredit tambahan Anda.

Ketika menggunakan kartu kredit bukan uang tunai, orang-orang cenderung akan menghabiskan lebih banyak uang.

Penelitian di MIT menyebutkan, orang-orang bersedia menghabiskan rata-rata 29 dollar secara tunai untuk membeli tiket pertandingan football.

Sumber: howkidscanearnmoney.com

Namun, ketika menggunakan kartu kredit, kerelaannya merogoh kocek lebih dalam justru meningkat hingga 61 dollar.

Tentu saja, harga tiket masih pro-rakyat (murah) ketika melakukan penelitian pada tahun 2000 silam.

Intinya, menggesek kartu kredit ternyata bisa menggoda orang-orang untuk menghabiskan lebih banyak uang!

Meskipun saran ini tampaknya sudah usang, tetapi, ketika Anda mengajarkan anak-anak membangun konsep penggunaan uang, maka tanamkanlah konsep bahwa uang tunai itu lebih berguna daripada uang plastik (kartu kredit), karena lebih memiliki rasa yang nyata.

4. Jangan lagi berbicara panjang lebar tentang bagaimana cara menyimpan uang, meminta anak-anak membayangkan masa tuanya kelak.

Bantu anak Anda memahami betapa pentingnya menabung, Anda harus menumbuhkan pandangannya yang jauh ke depan.

Sumber: selfsufficientkids.com

Jadi coba saksikan ini.

Biarkan anak Anda membayangkan dirinya di saat mereka sudah tua.

Stanford pernah melakukan sebuah percobaan yang menarik.

Ia menyuruh mahasiswanya melihat simulasi komputer yang menggambarkan sepanjang hidup yang dilukiskan mereka.

Setelah menyaksikannya, mereka memilih menyimpan sebanyak dua kali lipat uang pensiun sebelum melihat simulasi itu.

Aplikasinya bisa disaksikan di rumah, cukup men-download aplikasi Oldify ini, anak Anda akan merasa lucu sendiri dan tak habis mengerti melihat masa depannya itu menjadi gemuk, botak dan banyak keriput.

Tahun ini, bagaimana konsep mengelola keuangan yang akan Anda ajarkan pada anak-anak anda? (jhony/yant/rp)

Referensi penulis asli: Beth Kobliner, dan salah satu karyanya : “Make Your Kid a Money Genius (Even If You’re Not)”.

Share

Video Popular