Gerakan Spiritual Versus PKT

388
Saat Praktisi Falun Dafa menggelar nyala lilin di depan Konsulat RRT di New York, Amerika Serikat 16 Juli 2017 (Benjamin Chasteen/The Epoch Times)

Oleh : Fadjar Pratikto*

Tiap jelang tanggal 20 Juli, para pengikut Falun Gong (Falun Dafa) di seluruh dunia gelar aksi damai di depan kedutaan besar Tiongkok.

Minimal ada sekelompok orang duduk meditasi dan bentangkan spanduk yang antara lain berbunyi, “Stop the persecution, torture and forced organ harvesting of Falun Gong in China”. Di Jakarta aksi serupa diadakan di Mega Kuningan pada 15 Juli lalu.

Sudah 18 tahun ini kelompok spiritual beraliran Fa Budha ini menentang penganiayaan yang dilakukan oleh Zhōngguó Gòngchandang atau Partai Komunis Tiongkok (PKT), dengan caranya yang unik.

Kejahatan dilawan dengan ahimsa, tanpa kekerasan. Dan itu jadi momok menakutkan bagi rejim komunis Tiongkok, yang selama ini berusaha menutupi kejahatannya rapat-rapat dengan topeng kedermawanan yang mengobral pinjaman untuk developing countries termasuk Indonesia.

Sejak rejim Jiang Zemin berkuasa, PKT lancarkan penindasan terhadap Falun Gong pada 20 Juli 1999 silam, dengan memfitnahnya sebagai aliran sesat. Dengan gunakan 1/4 anggaran negara, mendirikan Kantor 610, segala macam metode penyiksaan dalam sejarah diterapkan untuk hancurkan mereka.

Ratusan ribu pengikut Falun Gong ditangkap, dijebloskan ke penjara/ kamp konsentrasi tanpa proses pengadilan, disiksa hingga mati, serta diambil organ tubuhnya untuk kepentingan industri transplantasi.

Hasil investigasi David Matas dan David Killgour dari Kanada menunjukan fakta mencengangkan terjadinya praktek pengambilan organ dalam keadaan hidup terhadap tahanan dari pengikut Falun Gong, serta muslim Uighur dan kelompok Katolik.

Dua film dokumenter berjudul “The Bleeding Edge” dan “Human Harvest”, karya Leon Lee dari Vancouver- Canada, jadi gambaran tentang sisi gelap kekuasaan PKT yang bersimbah darah dan air mata.

Para dokter diseluruh dunia yang tergabung dalam DAFOH ajukan petisi untuk akhiri kejahatan organ tersebut.

Itu juga yang mengilhami Hendrini Renola dari program Master of Arts in International Relations (MAIR) Fisipol Universitas Gadjah Mada menulis tesis tentang “Memahami Perdagangan Organ di China” yang ungkap komersialisasi medis untuk keuntungan negara.

Tak hanya itu, komunitas Falun Gong di seluruh dunia telah ajukan tuntutan hukum pada mantan presiden Jiang Zemin dan pejabat lainnya.

Mereka juga lancarkan gerakan Tuidang (mundur dari PKT) bersamaan dengan terbitnya Jiuping atau Sembilan Komentar (Mengenai Partai Komunis) yang diproduksi koran Dajiyuan (The Epoch Times) pada akhir 2004 lalu.

Buku ini mengungkap segala kejahatan yang pernah dilakukan oleh PKT selama berkuasa. Tak lama setelah beredarnya Jiuping ke seluruh penjuru khususnya di Tiongkok, setiap hari puluhan ribu orang secara terbuka mundur dari keanggotaan PKT dan organ sayapnya.

Kini pengaruh partai komunis sudah merosot, rakyat Tiongkok sudah tak peduli lagi. Bahkan jumlah anggota PKT yang tuidang sudah capai lebih 100 juta orang. Itu belum pernah terjadi dalam sejarah pengunduran diri anggota partai secara massal. Mereka pun desak pemimpin PKT saat ini mengikuti jejak Mikhail Gorbachev dengan cara bubarkan partai komunis.

Gerakan spiritual Falun Gong dengan aksi damainya mampu jadi kekuatan perlawanan yang efektif terhadap PKT.

Rejim Xi Jinping pun mulai lunak dengan akomodir tuntutannya, via Wang Qishan (Kepala Komisi Inspeksi Disiplin Pusat) singkirkan faksi konservatif-Maoisme dalam tubuh partai yang sebagian besar pengikut Jiang Zemin, yang berperan besar dalam penganiayaan Falun Gong.

Dari Zhou Yongkang, Bo Xilai dkk. Satu per satu kekuasaannya dipreteli, dijerat hukuman berat dengan tuduhan korupsi. Xi Jinping pun sempat menawarkan rekonsiliasi pada pemimpin Falun Gong tapi tanpa rehabilitasi.

Jelang Kongres Nasional ke-19 PKT kelihatannya Xi ingin menunjukan sisi yang berbeda dari para pemimpin komunis Tiongkok sebelumnya.

Saat ini keberaniannya untuk ambil jalan demokrasi menuju “Tiongkok baru” tanpa partai komunis, sedang ditunggu rakyatnya.

Perkiraan Gordon C. Chang akan rontoknya PKT dalam “The Coming Collapse of China” barangkali sudah tak jauh lagi.

Semoga semua mahluk berbahagia.****