Erabaru.net. Seorang wanita baik hati asal Pakistan telah membangun rumah untuk orang miskin. Meski menggunakan “sampah” untuk membangun, namun jangan berpikir bahwa sampah yang digunakan adalah sampah kotor. Namun sebaliknya, ia menggunakan sampah plastik, kaca dan logam yang telah dibersihkan dan didaur ulang.

Nargis Latif, wanita berusia 60 an, dari Karachi, Pakistan, secara aktif mengkampanyekan daur ulang sampah selama lima dekade, demi meminimalisir pembakaran sampah yang menyebabkan polusi.

Semuanya berawal saat dia menderita penyakit yang luar biasa. “Saya bahkan tidak bisa mengatakan betapa sakitnya saya saat itu. Itu benar-benar tak tertahankan,” kata Latif. “Pada saat itulah saya berdoa kepada Tuhan dan meminta-Nya untuk membunuh atau menyelamatkan saya, jangan meninggalkan saya di tengah-tengah. Saya mulai menangis, dan sepertinya air mata pertama jatuh di lantai, saya merasa bahwa doa saya dijawab.”

Kondisi latif mulai membaik, dan dia berjanji untuk memenuhi janjinya yang dia berikan pada Tuhan jika dia hidup kembali, yaitu untuk memperbaiki dunia.

Jadi, di tahun 1960an, ketika dia bertengkar karena pembakaran sampah yang terjadi di luar apartemennya, dia menyadari bahwa inilah tempat dimana dia bisa membuat perbedaan.

“Dulu saya sangat marah saat sampah terbakar,” katanya.” Itu juga keputusan yang sulit karena ayah saya sempat menentang ide saya ini. Dia menyuruh saya untuk tidak masuk ke dalamnya dan melakukan hal ini, jika tidak, saya akan hancur.”

Wilayah Karachi menghasilkan sekitar 12.000 ton sampah sehari, jadi pemandangan sampah yang terbakar cukup umum terjadi.

(Foto : Facebook | Gul Bahao.)

Dia kemudian mendirikan sebuah organisasi non-pemerintah yang disebut “Gul Bahao” untuk meningkatkan kesadaran publik tentang daur ulang.

“Saya berbicara dengan ratusan Kabarias (pengepul sampah) untuk membawa kembali kertas, kardus, tas belanja, plastik, kaca, dan logam dan menyerahkannya kepada saya.

Saya membayar mereka dengan baik, dan saat itulah nasib mereka berubah secara perlahan. Sampai saat itu, Kabarias hanya tertarik untuk membeli peralatan rumah tua seperti radio dan jam,” katanya pada Hindustan Times .

(Foto : Facebook | Gul Bahao.)

Namun, dia kekurangan dana untuk membayar pedagang sampah.

“Saya harus meminjam dari rentenir dengan harga superlatif. Tapi hasilnya luar biasa,” katanya kepada Dawn.com dalam sebuah wawancara.

Dengan persediaan sampah cukup banyak yang dia terima dari pengepul sampah, dia mengubahnya menjadi berbagai barang, termasuk bantal dan toilet.


(Foto : Facebook | Gul Bahao.)

Setelah gempa di Pakistan, Gulbahao memasok “Blok Wastik” yang terbuat dari tas belanja, untuk membangun rumah sementara di tempat-tempat terpencil.

Rumah-rumah tersebut disebut Chandi Ghars (rumah perak), dan sejak gempa 2005, dia telah membantu membangun 150 rumah di seluruh negeri.

(Foto : Facebook | Gul Bahao.)

Meski ada banyak rumah yang dibangun, untuk meyakinkan orang supaya tinggal di dalamnya bukanlah tugas yang mudah.

“Orang –orang bilang rumah ini terbuat dari sampah, dan mereka pasti banyak yang tidak mau tinggal atau duduk di tempat sampah.

“ Tapi kami harus berusaha meyakinkan mereka bahwa sampah yang digunakan adalah bahan bersih, terutama plastik. Memang sulit untuk menghilangkan pemikiran dan persepsi masyarakat tentang sampah,” katanya kepada Aljazeera .

(Foto : Facebook | Gul Bahao.)

Masalah lain yang harus dihadapi Latif adalah penurunan drastis tenaga kerja.

Awalnya, ada 70 orang yang bekerja untuknya, namun kini hanya tujuh yang tersisa karena organisasi yang didirikan Latif mengalami kesulitan dalam penggalangan dana. Tapi dia terus bekerja tanpa henti.

“Ini tidak mudah,” katanya. “Saya menyadari bahwa saya harus mengabdikan seluruh hidup saya untuk itu. Begitu saat Anda sudah berkomitmen, Anda tidak bisa mundur.”(intan/yant)

(Foto : Facebook | Gul Bahao.)

Sumber: ntd.tv

Share

Video Popular