Erabaru.net. Polisi telah memastikan bahwa mayat-mayat yang baru ditemukan di gletser Swiss adalah pasangan yang hilang di Pegunungan Alpen pada 1942 silam.

Salah satu anak mereka mengungkapkan siksaan yang dia alami setelah orangtuanya menghilang.

Marcelin dan Francine Dumoulin, menghilang di Pegunungan Alpen pada 15 Agustus 1942.

Internet

Baru-baru ini badan mereka ditemukan terbaring bersama di pegunungan bersalju Diablerets, Swiss.

Sumber: Getty Images

Barang-barang lain yang juga ditemukan meliputi ransel, buku, botol, dan jam tangan.

Sumber: Getty Images
Sumber: Getty Images

“Mayat itu adalah seorang pria dan seorang wanita yang mengenakan pakaian dari perang dunia terakhir. Salju pegunungan berhasil menyimpannya dengan sempurna, bahkan barang-barang mereka masih utuh,” kata Bernhard Tschannen, kepala resor ski Glacier 3000, dalam sebuah wawancara dengan Le Matin.

 

Sebelum menghilang, Marcelin adalah seorang pembuat sepatu berusia 40 tahun.

 

Sumber: Getty Images

Sementara Francine adalah seorang guru sekolah berusia 37 tahun.

Mereka pergi untuk memberi makan ternak mereka, namun tidak pernah kembali lagi.

Operasi pencarian dan penyelamatan untuk pasangan ini pernah dilakukan selama lebih dari dua bulan, namun tak membuahkan hasil.

Pada akhirnya, tujuh anak pasangan tersebut ditempatkan di rumah asuh dan tidak pernah melihat orang tua mereka lagi.

Putri sulung pasangan suami istri itu, Monique, yang sekarang berusia 86 tahun, menggambarkan detik-detik sebelum kepergian mereka.

“Mereka pergi ke ladang untuk merawat sapi. Lalu mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka akan kembali nanti di malam hari atau mungkin keesokan harinya jika mereka terlalu lelah untuk mencari makan sapi kami. Itu terjadi pada hari Sabtu. Sebelum berangkat, Ayah memeluk saya dan saudara-saudara saya lainnya,” katanya pada Daily Mail dalam sebuah wawancara.

Namun, Monique menjadi khawatir keesokan paginya dan mendatangi tetangganya yang mungkin melihat orang tuanya.

“Saya pergi ke seorang teman di tepi desa untuk melihat apakah dia melihat orang tua saya kembali. Saat dia bilang tidak, saya mulai menangis. Aku tahu itu adalah berita buruk. Saya pun memberitahu seorang pastor, dan pihak gereja langsung melakukan sebuah pencarian, bersama seorang teman ayah saya. Seluruh masyarakat desa pun turut membantu. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka, tidak ada petunjuk,” katanya.

Sumber: Getty Images

Monique dan enam saudara kandungnya tinggal di rumah keluarga mereka “selama dua sampai tiga minggu” setelah orang tua mereka menghilang.

Mengingat apa yang terjadi selama periode itu, Monique berkata, “Saya adalah yang tertua jadi saya harus melakukan segalanya. Memasak, mencuci baju dan piring dengan tangan. Saya harus menjaga seluruh adik saya. Itu sungguh sulit. Lalu rumah itu ditutup dan dibawa ke tempat penampungan. Kami tidak diizinkan mengambil apapun. Kami pergi tanpa membawa barang-barang kami. Seorang pastor telah mengatur agar kita semua tinggal dengan keluarga lain.”

Sumber: Getty Images | Luis Davilla

“Ada banyak orang yang datang menawarkan bantuan karena ayah saya orang yang sangat populer sehingga setiap orang ingin mengadopsi anak-anak Marcelin. Tapi begitu kami diadopsi, semuanya sangat berbeda. Itu tidak selalu mudah. Keluarga kami menjadi terpisah, akibat kami tidak memiliki orang tua dan tinggal bersama,” lanjutnya.

Dia melanjutkan mengungkapkan kehidupan setelah ditempatkan di rumah yang berbeda.

“Kami tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Kami dikirim untuk bekerja di kebun, ladang, kebun anggur. Kami tidak pernah bersama-sama,” kata Monique.

Menurutnya sekalipun mereka berada di desa yang sama, mereka saling kehilangan satu sama lain karena harus selalu bekerja.

“Terkadang ada festival tapi Anda harus membayarnya. Jadi kita masing-masing tumbuh secara terpisah, tanpa mengetahui keadaan saudara kami yang lain. Hidup kami berubah drastis setelah orang tua kami menghilang,” tambahnya.

Setelah mayat ditemukan, sebuah tes DNA dilakukan, dan polisi mengkonfirmasi mayat tersebut adalah orang tua Monique.

Kerabat pasangan yang telah lama pergi itu mengatakan bahwa mereka akhirnya menemukan apa yang selama ini mereka cari.

Pemakaman telah diatur dan berlangsung. Monique pun mengungkapkan niatnya bahwa dia ingin sekali melihat mereka sebelum pemakaman mereka, hanya untuk memeluk mereka.

Adik perempuan muda Monique, Udry-Dumoulin, 79, berusia empat tahun saat orang tuanya menghilang.

Dia mengatakan kepada Le Matin, “Kami menghabiskan seluruh hidup kami untuk mencari mereka, tanpa henti. Kami tidak pernah menyangka bisa memberikan pemakaman yang pantas bagi mereka. Bisa saya katakan bahwa setelah 75 tahun menunggu berita ini memberi saya ketenangan batin yang mendalam.”

Menurut Monique, itu pertama kalinya ibunya pergi bersama ayah dalam sebuah kunjungan.

Dia hamil dan tidak bisa memanjat pegunungan gletser yang berbahaya.

Setelah beberapa saat, dirinya hidup terpisah dan dirawat dalam keluarga yang berbeda.

“Saya beruntung bisa tinggal bersama bibi saya. Kami semua tinggal di wilayah yang sama, tapi tak pernah bertemu satu sama lain dan menjadi orang asing,” lanjutnya.

Saat pemakaman orang tuanya, ia memilih tidak memakai pakaian warna hitam.

“Saya pikir pakaian berwarna putih akan lebih tepat. Ini merupakan harapan karena dapat bertemu mereka sekali lagi setelah sekian tahun tak bertemu, yang tak akan pernah pudar,” tambahnya. (intan/rp)

Share

Video Popular