Erabaru.net. Petugas krematorium di suatu tempat terkejut melihat setumpukan uang kertas bertebaran yang dilalap kobaran api di dalam pengabuan saat ia sedang mengkremasi jenazah seorang kekek di Krematorium.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Kenapa ia membawa begitu banyak uang dan dibakar? Dan mengapa tidak ada kerabat-keluarga yang melihatnya?

Mendiang adalah seorang kakek bernama Tao.

Sejak puluhan tahun lalu, Kakek Tao telah mewariskan warisannya kepada dua putranya yang telah berkeluarga sesuai dengan adat istiadat setempat.

Kakek Tao menyerahkan dua hektar tanah untuk bercocok tanam anaknya, sementara ia sendiri mengontrak sebuah kamar di pinggiran kota, dan memulung untuk kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi Kakek (Net)

Karena diterpa angin dan terik matahari sepanjang tahun, ditambah lagi merasa sayang untuk mengeluarkan uang, karena ingin hidup hemat, sehingga kekurangan gizi.

Kakek itu merasa tak sanggup bertahan lagi, kakek Tao pun ke rumah putranya, bermaksud tinggal di rumah putranya dalam sisa hidupnya.

Kakek itu juga berharap putra dan menantunya itu bersedia mengantarnya ke liang lahat saat meninggal nanti.

Namun, kakek Tao tak pernah menyangka, ternyata tidak ada satu pun dari kedua putranya itu bersedia menerimanya tinggal di rumah.

Akhirnya kakek Tao pulang ke kontrakannya. Tak lama kemudian, kakek Tao meninggal dalam kesendirian.

Sebelum meninggal, kakek Tao punya firasat bahwa waktunya sudah tiba, ia pun mengenakan graveclothes (Pakaian atau baju untuk orang mati yang dikebumikan) dan memasukkan setumpukan uang kertas di balik pakaiannya.

Kedua putranya yang mengetahui kematian kakek Tao juga tak banyak pikir, kemudian membawa kakek Tao ke krematorium setelah dimusyawarahkan dengan kerabat terkait lainnya.

Tapi mereka sontak tercengang ketika mendengar ada setumpukan uang kertas yang bertebaran di dalam pengabuan kakek Tao.

Kedua putra kakek Tao yang tidak berbakti ini lalu menggeledah harta benda peninggalan ayahnya, dan baru diketahui kalau ternyata ayah mereka telah mengambil semua uang tabungannya yang berjumlah setara 400 juta rupiah.

Akhirnya mereka pun seketika menyadarinya, kenapa ayahnya lebih rela membawa semua uangnya ke alam kubur dan tidak diwariskan sepeserpun kepada mereka.

Netizen yang melihat laporan itu dengan sedih menuturkan: “Kakek Tao lebih rela membawa semua uang simpanannya ke alam kubur, daripada mewariskan kepada ke dua putranya yang tidak berbakti.”

“Jadi jelas sekali, betapa kecewanya kakek Tao atas perlakuan kedua anak durhakanya. Tak ada kesedihan yang paling besar daripada kematian, terlalu dalam luka yang ditorehkan oleh kedua anaknya.”

“Kakek Tao sudah terlanjur kecewa dengan sikap dan perlakuan kedua putranya.”

“Betapa dingin dan perihnya perasaan kakek Tao saat mengenakan pakaian dari kafan (baju untuk orang mati), tragis dan menyedihkan.”

“Jauh lebih menyakitkan daripada mati bagi kakek yang dicampakkan anak-anaknya, bahkan kedua putra durhakanya ini bukannya introspeksi dengan kedurhakaannya, malah hanya merasa sayang dengan setumpuk uang yang hangus terbakar.”

“Dalam masyarakat sekaraang, berbakti pada orangtua adalah prioritas utama, dan apakah anak durhaka ini masih layak disebut manusia?”

“Di dunia ini terlalu banyak anak-anak durhaka pada orang tua. Orang-orang menjadi begitu realistis,egois, dingin, apa yang terjadi dengan dunia ini?”

“Sebagai bangsa timur, berbakti pada orang tua adalah kebajikan tradisional kita, jadi curahkanlah kasih sayang kepada orang tua kita.”

“Ingat! Suatu hari nanti kita semua juga akan menua, dan hanya kebaikan yang tulus yang akan dibalas dengan berkah dari-Nya.”

(jony/asr)

Sumber : Beautieslife

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular