Erabaru.net.  Melalui kerja sama interdiksi antara BNN, Polri dan Bea Cukai di wilayah perbatasan darat di Kalimantan Barat, wilayah laut di Pantai Cermin Sumatera Utara, dan bandara di Jambi, Palembang, Bali dan Soekarno Hatta, berhasil diungkap jaringan peredaran gelap narkotika Malaysia-Indonesia.

Kali ini Badan Narkotika Nasional (BNN) mengamankan seorang anggota jaringan sindikat narkotika internasional jenis sabu di sebuah rumah di kawasan Kavling Pancur Baru, Sei Beduk, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (19/7/2017).

Dari tangan tersangka bernama Jan (28), petugas menyita sabu seberat 10.534 gram yang disembunyikan dalam mesin cuci.

Kronologi kejadian pada 19 Juli 2017, petugas berhasil mengamankan Jan di sebuah rumah di daerah Sei Beduk, Batam yang diduga kuat berperan sebagai pengepul dan pengedar narkotika yang peredarannya telah berhasil ditangkap.

Mereka yang ditangkap Tim BNN adalah di Bandara Soekarno Hatta seberat 2.02 kg sabu dengan jumlah tersangka 3 orang tersangka (semuanya laki-laki), Jambi seberat 1 kg sabu dengan jumlah tersangka 2 orang (semuanya perempuan).

Lokasi lainnya adalah di Bali seberat 0,5 kg sabu dengan jumlah tersangka sebanyak 2 orang (semua laki-laki), dan Palembang seberat 4 kg sabu dengan tersangka 4 orang (3 perempuan dan seorang laki-laki), dengan total barang bukti sabu seberat 7,52 kg dengan modus diselipkan di dalam sepatu.

Setelah dilakukan penggeledahan di rumah Jan, petugas menyita sabu seberat 10.534 gram yang disembunyikan dalam mesin cuci. Sabu ini berasal dari Malaysia. Jadi total sabu yang berhasil diamankan sebanyak 18 Kg.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengungkapkan bahwa upaya yang dilakukan para pelaku ini supaya tak dihukum mati maka dipecah penyebaran sabu-sabu ini sedikit demi sedikit pada sejumlah daerah.

Menurut Budi, pengiriman sabu ini dengan mesin cuci juga merupakan modus yang dilakukan para sindikat ini. Selanjutnya pengepul sabu-sabu ini membagi-bagi dalam bungkusan seperti yang ditemukan di Jambi dan Batam sehingga jumlahnya diketahui dalam jumlah kecil.

Lebih jauh Buwas mengungkapkan sistem yang dibangun oleh sindikat ini, setelah pengepul membagikannya dalam jumlah kecil maka selanjutnya dikirman kepada kurir-kurir sabu ini. Para kurir pun selanjutnya membuat bungkusan yang lebih kecil untuk diedarkan.

“Ini modus juga dan pengepulnya dipecah-pecah tadi sehingga jumlahnya kecil, kalau ditangkap tidak dihukum mati,” kata Budi Waseso di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (25/7/2017).

saat konfrensi pers Komjen Budi Waseso didampingi oleh Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Arman Depari dan Kabag Humas BNN Kombes Sulistriandriatmoko.

Pengungkapan sabu ini diketahui berasal dari Malaysia masuk dalam jumlah besar hingga selanjutnya dikumpulkan oleh pengepul. Sedangkan di mana asal produksi sabu ini diketahui berasal dari Tiongkok yang masuk dari Malaysia.

“Kalau kita lihat dari kemasanya produksi China lagi, tapi jaringan ini masuknya dari Malaysia termasuk yang kita ungkap di Medan, sebenarnya jumlahnya beberapa narkoba yang masuk,” jelas Buwas.

Kepala BNN Komjen Budi Waseso

Pada kesempatan itu, Komjen Budi Waseso menegaskan peredaran narkoba di Indonesia terjadi dalam jumlah besar. Walaupun semakin gencar dilakukan operasi maka semakin banyak kasus-kasus narkoba yang berhasil dibongkar.

Jika dipertanyakan kenapa sekian kasus sabu banyak berasal dari Malaysia? Komjen Budi Waseso mengakui pihaknya memiliki kesulitan dikarenakan tak sesuai yang diinginkan oleh BNN kepada Malaysia.

Akibatnya, wilayah Indonesia justru menjadi daya pasar untuk peredaran-peredaran sabu dari Malaysia. Bahkan Budi Waseso menegaskan sekan-akan menjadikan wilayah Indonesia sebagai sampah pengiriman narkoba.

“Kita harus serius menangani ini, kalau tidak manusia-manusia seperti ini terus bekerja,” harapnya. (asr)

Share

Video Popular