Erabaru.net Aku dirawat dan dibesarkan ibu sejak ayah meninggal ketika aku masih kanak-kanak. Kami hanya tinggal berdua, kami hidup dalam kemiskinan, karena itu, ibu selalu mengharapkan agar aku cepat dewasa dan menikah dengan pria yang mapan.

Suatu ketika, aku berkenalan dengan seorang pria tampan dan cukup mapan, sesosok pria yang hangat.

Pada awalnya orangtuanya mencibir dengan maksud pernikahan kami, tapi ketika ibu bilang akan menyediakan puluhan juta sebagai mahar pernikahanku, maka pernikahan kami pun ditetapkan, waktu itu aku juga memuji keputusan ibuku yang bijak.

Pada pembicaraan waktu itu hanya menyingung masalah mahar, tidak menyebut ibu tinggal bersama kami.

Ketika aku mengusulkan ibu tinggal bersama, suamiku sepertinya tidak senang dengannya, sehingga aku pun berusaha membujuknya, setelah menjelaskan panjang lebar alasanku, akhirnya dengan terpaksa ia pun menerimanya

Tak disangka, bujukan dan alasanku pada suami waktu itu dipandang serius olehnya, ia menganggap ibuku layaknya pembantu, dan sikapnya pada ibuku juga sangat buruk.

Bahkan dia tidak pernah memanggil mertuanya dengan sebutan ibu, aku pun menjadi tidak senang atas sikapnya, tapi aku masih bisa bersikap sabar dan menyampaikan kepadanya.

Namun, ia tidak menanggapinya, dan setelah berulang kali seperti itu, ia pun mulai berkata dengan jengkel dan ketus.

Share

Video Popular