Erabaru.net. Masyarakat umum telah mengetahui jika TBC (Tuberculosis, khususnya TBC Paru) adalah penyakit yang mudah menular.

Maka tak dapat disalahkan ketika salah seorang anggota keluarga menderita TBC, keluarga lain cenderung mengucilkan atau memintanya untuk pindah.

Tentu tak dapat dibayangkan betapa besar penderitaan para Lansia bila menderita TBC.

Oleh karena itu, perlu dilakukan beberapa tindakan pencegahan, agar terhindar dari penyakit TBC mengingat para Lansia rentan terhadap TBC.

Lansia rentan terhadap TBC

Penyakit TBC telah terjangkit di seluruh dunia sejak lama, tak terkecuali Indonesia, khususnya di masa perang kemerdekaan.

Seiring bertambahnya kemakmuran negara semakin sedikit penderita TBC, terutama setelah tahun 1990-an saat semakin digalakkan pemberantasan TBC.

Kelompok lansia yang berusia diatas 60 tahun, rata-rata lahir tahun 1950-an, dimana TBC masih merupakan “penyakit rakyat” di Indonesia.

Dengan demikian, mereka pasti pernah tertular basil TBC sewaktu masa kecilnya. Namun hanya sebagian kecil (10%) dari mereka yang benar-benar menderita TBC.

Sebagian besar akan sembuh dengan sendirinya berkat sistim kekebalan tubuh (imunitas).

Tetapi tidak semua basil (kuman) yang masuk dapat ditangani oleh Sistim Imunitas. Basil yang “tertidur” (sleepers) sebelum terbunuh tidak dapat dideteksi oleh Sistim Imunitas.

Sekali waktu sleepers ini dapat terbangun. Bahaya dapat timbul jika sleepers terbangun saat Sistim Imunitas lemah, maka mereka akan cepat berkembang biak dan menyebabkan timbulnya penyakit TBC.

Share
Tag: Kategori: NEWS SEHAT

Video Popular