Erabaru.net. Aku baru berusia enam tahun kala itu, ayahku kecelakaan jatuh dari lantai enam, dan tewas seketika.

Sejak itu ayah pun pergi meninggalkan ibu, aku dan adik perempuanku.

Tujuh belas tahun yang lalu dini hari itu, kurang lebih jam 02:00 dini hari, ibu dan paman keduanku pulang dari luar daerah, dari tangan ibu tampak membawa abu jenazah ayah.

Sesampainya di rumah, nenek terus menangis, demikian juga ibu, aku dan adikku, semuanya ikut menangis.

Mungkin itu adalah sesuatu yang paling membekas dalam ingatanku tentang ayah.

Demi hidup, ibu sendirian kerja dan tinggal di luar kota, meninggalkan aku, adik dan nenekku, hanya pada saat Tahun Baru baru bertemu dengan ibu.

Dan kondisi seperti itu berlangsung selama enam tahun berturut-turut.

Sementara frekuensi bertemu dengan ibu juga kurang dari 10 kali selama waktu itu.

Terkadang sangat rindu padanya, terlebih lagi ketika melihat anak-anak lain diantar jemput oleh ibunya.

Ilustrasi. (c.stocksy.com)

Rasanya iri sekali melihat kebersamaan itu, dan ingin sekali rasanya menangis, tapi aku hanya bisa berjalan pulang sendiri ke rumah.

Setiap kali saat mendengar seseorang berbicara tentang ayah, aku pun pergi secara diam-diam atau diam membisu tidak bicara.

Sejak kecil aku selalu takut membicarakan tentang ayah di depan orang lain.

Aku takut orang-orang tahu aku anak yang tidak memiliki ayah, mungkin karena takut diejek, atau merasa rendah diri.

Ketika duduk di kelas enam SD, ibu membawa pulang seorang pria, atau lebih tepatnya ayah tiri, tapi aku dan adikku memanggilnya paman.

Paman berasal dari luar desa, yang sudah ibu kenal sejak kerja di pabrik.

Usianya kurang lebih sama dengan ibu, sekilas terlihat pendiam, orangnya sangat tinggi sekitar 1.8 meter.

Paman tidak punya anak, kerja di bagian konstruksi, atau yang biasa disebut pekerja migran.

Ketika pertama kali bertamu di rumah, paman membelikan masing-masing satu stel pakaian baru untukku juga adikku, kemudian memberi uang saku masing-masing 1 juta rupiah.

Itu adalah uang paling banyak yang pernah aku terima dari orang lain, dan untuk pertama kalinya punya uang paling banyak di usia sebesar itu kala itu.

Awalnya, tidak begitu akrab dengan paman, jarang komunikasi, bahkan sedikit rasa segan.

Tapi belakangan, seiring berjalannya waktu, dan seringnya bertemu, aku merasa paman sosok orang yang sangat sederhana, sangat baik terhadapku dan adikku.

Ia juga tak pernah memarahi kami, apalagi memukul.

Saat ngobrol juga ia lebih banyak memberikan dorongan semangat dan perhatian.

Jujur saja, sejak kedatangan paman di rumah, kondisi hidup keluarga perlahan-lahan lebih baik.

Suatu hari, ibu membeli sebuah TV berwarna, waktu itu adalah era adanya pesawat TV berwarna.

Belakangan, rumah kami pun diganti dengan dinding beton.

Bagian atap juga telah dialasi, sehingga tidak perlu khawatir bocor lagi saat hujan.

Tak lama kemudian, rumah kami pun dilengkapi lagi dengan lemari es, dan sejak itu, kami pun tidak pergi lagi ke warung di gang depan untuk membeli es krim.

Dulu ibu selalu meminjam uang untuk biaya sekolah kami, tapi sejak kedatangan paman, ia mengambil alih tanggung jawab keluarga.

Dapat dikatakan, paman adalah sinar harapan bagi sebuah keluarga yang hampir pudar cahaya hidupnya.

Dari lubuk hatiku, aku sangat berterima kasih padanya. Tapi waktu itu, aku masih belum berani terus terang menceritakan tentang keluargaku pada orang lain.

Suatu hari saat hujan, ketika pulang sekolah, paman menjemputku pulang.

Kami berdua berjalan bersama di jalan, karena badannya yang tinggi, ia melindungiku dari hujan dengan payungnya, sementara ia sendiri berjalan di tengah hujan.

Ilustrasi. (opposingviews.com)

Saat itu kebetulan sebuah mobil temanku lewat, dan masih ada tempat kosong di dalamnya.

Semula kupikir mau menumpang mobilnya karena searah, tapi aku ragu, karena aku takut temanku bertanya tentang pria itu. Aku tidak berani orang lain tahu.

Akhirnya terpaksa hanya melihat mobil temanku pergi dan hilang dari pandangan.

Ilustrasi. (weareclassiccars.com)

Sesampainya di rumah, sekujur badan paman sudah basah oleh air hujan.

Sejak itu, aku sadar aku telah berutang budi padanya, terlalu banyak, banyak dan banyak berutang budi padanya.

Saat duduk di SMU ketika itu, aku mengontrak sebuah tempat tinggal di luar sekolah.

Paman yang menemaniku, sementara ibu di rumah, karena sedang tidak enak badan.

Selama sekolah di sana, paman yang mengurus kehidupanku sehari-hari.

Setiap pulang sekolah, paman selalu menungguku makan dengan hidangan yang telah disiapkan.

Adapun mengenai studiku, paman juga tidak banyak menuntut, yang penting aku bisa merasa nyaman dan fokus dengan studiku.

Selebihnya paman mendorong semangatku.

Sejujurnya, aku benar-benar sangat berterima kasih kepadanya, singkat cerita aku pun berhasil lulus dan kuliah di sebuah universitas.

Setiap mengenang masa-masa itu, aku tidak akan lagi merasa kesepian dan kurangnya kasih sayang.

Di bawah curahan kasih sayangnya, perlahan-lahan aku pun jadi berani dan kuat.

Ilustrasi. (pigeonframe.com)

Untuk pertama kalinya aku mulai berani menceritakan tentang sosok ayahku.

Dan untuk kali pertamanya juga aku menceritakan bahwa pria itu adalah ayah angkatku.

Sejak itu, aku tidak lagi merasa rendah diri seperti dulu, aku melepaskan segenap diriku yang tertekan dan menghadapi semuanya dengan tenang.

Jika tidak ada “paman”, mungkin keluarga sudah lama jadi kenangan.

Jika tidak ada “paman”, aku tidak tahu akan seperti apa sosok diriku ini, pemalu? Rendah diri?

Jika tidak ada “Paman”, mungkin aku sudah berhenti sekolah dan bekerja, apalagi sampai perguruan tinggi.

Sepuluh tahun sudah berlalu, waktu yang terhitung panjang bila dipikirkan.

Selama itu juga aku tetap saja memangilnya “paman”, tapi jauh di lubuk hatiku, aku telah menganggapnya ayah.

Beberapa tahun terakhir ini sebenarnya aku ingin memanggilnya ayah, tapi tidak kulakukan.

Karena aku pikir tidak lama lagi akan segera menikah, aku ingin memanggilnya ayah di hadapan para kerabat dan teman-teman bersama-sama dengan isteriku pada hari bahagia dalam pernikahan kami nanti! (jhony/rp)

Sumber: orgs.one

VIDEO REKOMENDASI

Share

Video Popular