Erabaru.net. Pada awal musim panas 2004 lalu, ia terbaring lemah di ranjang pasien, sambil meneteskan air mata, ia berkata dengan suara lemah “Aku kangen sama ibu!”. Malam itu, secara diam-diam dia melepas tabung oksigennya, dan sejak itu ia pun pergi ‘tuk selamanya’.

Ia lahir di sebuah desa dari keluarga petani, tidak kaya, selain harus banting tulang membajak sawah, orang tuanya juga bekerja serabutan di pinggiran kota.

Meskipun kondisi hidup saat itu biasa saja, tapi orangtuanya sangat sayang padanya, selalu memberikan yang terbaik untuknya.

Berkat kerja keras orang tuanya, boleh dikata hidupnya termasuk bahagia ; Namun, tanpa disadari momok penyakit pun secara diam-diam menyerang anak yang polos ini ! Dan dengan kejamnya merampas kebahagiaan hidupnya!

Saat usia 11 tahun ketika itu, ia mengeluh pada ibunya kepalanya pusing, ketika itu, sang ibu pikir mungkin kurang gizi, ia pun segera merebus beberapa butir telur untuknya.

Namun, selama beberapa hari diberi asupan makanan bergizi, kondisinya tidak juga membaik, malah justeru demam tinggi.

Ibunya pun panik, dan segera membawanya ke rumah sakit dengan sepeda.

Ilustrasi.

Ketika dokter mengambil laporan hasil pemeriksaan, dan memberitahu ibunya, bahwa anaknya menderita leukemia, si ibu pun langsung ambruk karena sangat terkejut.

Tak pernah terlintas dalam benaknya, anaknya akan terkena leukemia. Dan setelah meratapi kesedihan, mereka bertekad bagaimana pun juga akan berusaha menyembuhkan buah hati mereka.

Keesokan paginya, ayahnya pulang ke rumah, mengambil satu-satunya tabungan yang tersisa sekitar 40 juta rupiah. Uang sejumlah itu jauh dari cukup untuk biaya pengobatan di rumah sakit, apalagi leukemia.

Ayahnya pun berusaha mencari pinjaman dari semua kerabat dan teman-temannya, namun, setelah tahu kondisinya, ada beberapa kerabat yang dengan terpaksa meminjamkan uangnya.Sebagian besar lainya buru-buru menghindar.

Sang ayah telah berusaha pinjam ke semua kerabatnya, dan total uang yang terkumpul sekitar 60 juta.

Setelah itu, sang ayah mencari tiga pekerjaan sekaligus ; sementara ibunya, selain merawatnya juga mencari beberapa pekerja lepas di sekitar rumah sakit.

Mata si bocah basah oleh linangan air sedih melihat bayangan ayah-ibunya yang banting tulang setiap hari demi dirinya.

Kondisinya penyakitnya tidak menentu, belum ada tanda-tanda membaik, sementara dalam lubuk hatinya ia juga menyadarinya.

Dia melihat ibunya yang semakin kurus dan setiap hari terus membawakan makanan untuknya!

Lama kelamaan ia pun tak tahan lagi, ia tak tahan lagi dengan siksaan penyakit yang menyiksanya, dan tak ingin lagi menyusahkan orangtuanya yang setiap hari bekerja keras untuk kesembuhannya, tapi tidak jua ada tanda-tanda membaik.

Malam itu, ibunya tidak datang, hanya ayah yang datang menemaninya, ia memandang ayahnya yang benar-benar tampak sangat lelah, sambil mengguman “aku kangen sama ibu!”, “Aku benar-benar tak tahan lagi!”, mendengar suaranya yang lemah, sang ayah pun menggenggam tangan anaknya seakan-akan menyalurkan kehangatan untuknya dengan pandangan samar-samar.

Ilustrasi. (Internet)

Saat fajar, tanpa sengaja ayahnya melihat anaknya memegang tabung oksigen yang telah dilepasnya, sontak ia pun berteriak seperti orang gila memanggil dokter dan perawat.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, 13 tahun sudah sejak kematian anaknya, sang ayah duduk termenung di depan pintu sambil memandang jauh ke depan, melihat anak-anak desa yang menikah.

“Seandainya masih hidup, anakku mungkin juga sudah menikah seperti mereka.” gumamnya dalam hati.

Sementara ibu yang sedang bekerja tampak menghentikan pekerjaan yang sedang dikerjakannya, wajahnya tampak larut dalam kegetiran.

Bayangannya kembali pada masa 13 tahun silam, saat anaknya mengguman “aku kangen sama ibu” pada detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, namun, ia terlambat tidak bisa mendengar suara lemah anaknya untuk terakhir kalinya, meski sepatah kata pun.

Selamat jalan bocah yang tidak tega melihat penderitaan orangtuanya.(jhn/yant)

Sumber: coco01.net Jhony

Share

Video Popular