Erabaru.net. 2-3 Berikut ini artikel lanjutan Resensi Buku: Pengungkapan Kehidupan dari Luar Planet Bumi bagian (4)

Koin Perak Kuno Menembus Waktu.

Pada 1994, media mengungkap sebuah berita ajaib yang terjadi di Mesir dimana waktu mundur selama 4000 tahun.

Sebuah koin uang Amerika Serikat yang baru diedarkan 3 tahun kemudian yakni pada 1997, ditemukan tersembunyi di bawah Kuil Dewa Matahari di Mesir.

Sebuah tim arkeologi yang dipimpin oleh arkeolog Prancis tiba di tepi Sungai Nil di tempat dimana pertama kalinya terlihat kegiatan manusia untuk melakukan penelitian ilmiah.

Mereka menemukan sebuah Kuil Dewa Matahari, yang telah berusia 4000 tahun hingga saat ini.

Karena tidak ada jejak manusia disana, kuil tersebut telah roboh sejak lama, dan hanya tinggal puing-puing saja, sehingga terlihat sangat rusak dan terbengkalai.

Pada saat tim arkeolog tersebut melakukan penggalian di reruntuhan kuil itu, di bawah sebongkah batu prasasti kuno, ditemukan sebuah koin tertimbun cukup dalam di tanah.

Hal yang mengherankan, koin itu bukan koin perak dari zaman Mesir kuno, melainkan sebuah koin Amerika Serikat.

Anehnya lagi, koin itu juga bukan koin perak kuno Amerika, melainkan sebuah koin perak modern!

Lebih tidak masuk akal lagi adalah koin tersebut adalah koin AS senilai 25 sen yang sudah dibuat dan dipersiapkan untuk diedarkan pada 1997!

Waktu itu koin itu masih ‘berdiam’ di dalam Gudang Departemen Keuangan AS dan belum diedarkan.

Mengapa sebuah koin modern Amerika 1997 bisa “lari” ke dalam sebuah kuil kuno yang berusia 4000 tahun itu?

Para ilmuwan tidak bisa menemukan jawabannya.

Pada 2010, sebuah artikel di situs True Vision berjudul “Eternal Life of Egypt Dynasty” dituliskan, ada seorang penulis bernama Shan Yong yang memiliki kemampuan clairvoyance, mengungkap tentang munculnya sebuah koin modern yang belum diedarkan di pasaran muncul di kerajaan Mesir kuno, mengungkap fakta ini.

Clairvoyance adalah kemampuan untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu secara langsung tanpa melalui indera. 

Eternal Life of Egypt Dynasty, Penulis: Shan Yong

Negara Republik Mesir yang berada di antara dua benua yakni Asia dan Afrika, pernah merupakan lokasi suatu peradaban yang paling terkenal di dunia.

Mesir berada di daratan sebelah timur Benua Afrika, memiliki Sungai Nil yang melintas di sepanjang negeri itu dari selatan sampai ke utara.

Mesir merupakan tempat asal muasal berbagai legenda kuno.

Kepercayaan masyarakat Mesir kuno terhadap Dewa sudah sangat lama, kisah legenda yang diwarisi turun temurun juga membuat peradaban Mesir kuno yang begitu misterius itu menjadi penuh daya tarik tersendiri.

Kepercayaan rakyat Mesir kuno adalah Dewa Matahari. Firaun sebagai putra dari Dewa Matahari, dilindungi oleh para Dewa di langit.

ILUSTRASI. Piramida. Sumber (files.illuminati.am)

Bagi rakyat Mesir kuno, hidup manusia di bumi ini hanya sangat pendek, dan masa depan adalah abadi.

Gerbang menuju masa depan abadi adalah kematian.

Masyarakat Mesir berpendapat, kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.

Ketika kehidupan meninggalkan dunia manusia ini, maka roh akan tertidur di dalam makam, dan dewa dari masa depan akan datang ke dunia serta membangunkan mereka yang tertidur itu, lalu membawa mereka kembali ke negeri yang abadi.

Seorang rekan praktisi yang telah mengenal saya bertahun-tahun, sejak SD ia telah terobsesi akan peradaban Mesir.

Saya membuka kembali lembaran sejarah kehidupannya, dan mendapati ternyata dulunya teman saya itu adalah seorang Firaun dari zaman Mesir kuno, namanya adalah Den (disebut juga: Dewen, Hor-Den dan Udimu).

Firaun Den naik tahta pada usia muda, memerintah Mesir kuno di pesisir Sungai Nil selama 37 tahun, meninggal pada usia 58 tahun.

Setelah Firaun Den naik tahta di usia mudanya, mulai membangun makamnya, piramida.

ILUSTRASI. Piramida. Sumber (images.huffingtonpost.com)

Demi secepatnya menyelesaikan pembangunan piramida itu, Firaun memberi perintah untuk menaikkan pajak, manambah jumlah budak pekerja menyebabkan seluruh rakyat seantero Mesir menderita.

Beberapa tahun kemudian Firaun Den menderita suatu penyakit aneh, berbagai pengobatan tidak bisa menyembuhkannya, sakit ini membuat sang firaun sangat menderita.

Setiap kali penyakitnya kumat, sering kali kepalanya kesakitan sepanjang hari dan tidak bisa tidur semalaman.

Suatu pagi beberapa bulan kemudian setelah melalui siksaan rasa sakit semalaman, Firaun Den berkunang-kunang antara ngantuk dan sadar, tiba-tiba dari tengah sinar fajar muncul Dewa Matahari yang bersinar kemilau, Den buru-buru bersujud menyembah.

Dewa Matahari mengatakan, “Den, mengapa kau menderita sakit kepala ini?”

Den menjawab: “Dewa Matahari yang terhormat, mohon berikan petunjuk bagi anakMu ini.”

Sang Dewa berkata, “Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, membangun makam raja, mengumpulkan budak seluruh negeri, menyebabkan banyak rakyat dan pejabat terpisah dari keluarga mereka, dan menderita sakit dan letih. Sakit kepala itu adalah akibat dari keluhan para pejabat dan rakyatmu. Jika ingin cepat sembuh, lepaskanlah egomu, memerintah negeri ini dengan moral, memperlakukan rakyat ibarat anakmu sendiri, maka kesulitan ini akan bisa kau lalui.”

Den seolah tersadar dari sebuah mimpi, ia berterima kasih dan bertobat pada Dewa Matahari.

Sejak saat itu Firaun Den langsung menurunkan pajak dan mengurangi budak, memerintah negeri Mesir dengan moral, sakit kepalanya pun sembuh dengan sendirinya.

Setiap tahun memasuki musim hujan di wilayah Sungai Nil dan pegunungan Ethiopia, Sungai Nil akan meluap.

Pertengahan Juli air sungai perlahan menenggelamkan seluruh lembah.

Pada akhir November air sungai akan surut dan meninggalkan tanah berlumpur yang subur.

Setelah tanah berlumpur itu mengering, masyarakat akan mulai bercocok tanam lagi di lahan yang subur itu.

Setiap tahun sebelum menyemai benih, Firaun akan pergi ke Kuil Dewa Matahari, berdoa memohon Dewa Matahari untuk memberikan tahun yang berkelimpahan bagi rakyat, mendoakan stabilitas negara, dan kemakmuran warganya.

Pernah suatu kali setelah selesai upacara doa, Firaun Den bertanya pada pendeta di sampingnya, “Bagaimana masa depan saya?” (chensongling/sud/whs/rp)

BERSAMBUNG

Artikel Sebelumnya:

Hukum Linier Penerbangan UFO (Bagian 1)
Distorsi Dimensi Ruang dan Waktu (Bagian 2)
Kasus Nyata Terkait Distorsi Ruang Dimensi (Bagian 3)

Erabaru.net

Share

Video Popular