Sepanjang hari itu, diam-diam aku perhatikan gerak-gerik bos ku, dia pasti tidak kenal denganku, bagaimana aku harus mengawali pembicaraanku dengannya?

Mungkinkah dia akan menyanggupi permintaanku yang lucu ini ?

Aku menjadi galau, sampai pada jam pulang kantor, akhirnya aku memberanikan diri mengetuk pintu ruangan bos.

Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke ruangan bos setelah setengah tahun bekerja.

Saat melihat aku masuk, dengan kening berkerut dan bingung, ia bertanya siapa aku ?

Aku makin gugup, dan dengan terbata-bata aku memperkenalkan diriku.

Saat bos melihat mukaku yang merona merah karena gugup dan tegang, bos pun berkata sambil tersenyum, “santai saja, ceritakan pelah-pelan kalau ada perlu.”

Aku terdiam cukup lama lalu berkata : “Saya mohon bantuan Bapak untuk mentraktir ayah saya makan, atau, jika tidak, utus salah satu staf kantor untuk mentraktir ayah saya makan atas nama perusahaan.”

Dengan penuh keberanian, aku pun menceritakan banyak tentang aku dan ayahku, “Ayah selalu khawatir dengan keadaanku, ia takut aku menderita di luar, padahal sebenarnya aku sangat baik di sini, pekejaanku stabil. Pimpinan dan rekan-rekan sekantor juga sangat baik padaku.”

Karena gugup, wajah ku pun seketika menjadi sangat merah, takut bos menolaknya, aku pun segera menambahkan, “Tentu saja, untuk biaya makannya nanti aku yang tanggung.”

Share

Video Popular