- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dia Meminta Bosnya Makan Bersama Ayahnya, Walaupun Awalnya Dia Suka Menutup Diri, Suasana Kantor Pun Beda,Tapi Tak Disangka Tindakan Bosnya Membuat Haru Segenap Karyawan!

Erabaru.net. Ini adalah cerita seorang karyawan yang memiliki kebiasaan suka menutup diri. Tak sepenuhnya dia dengan teman-teman sekantornya membuka komunikasi lebar-lebar.

Namun demikian karyawan adalah sosok rajin dan menyelesaikan seluruh pekerjaannya.

Ketika suatu ketika, dia memiliki permintaan dengan bosnya, hal tak terduga terwujud juga datang dari rekan-rekannya.

Berikutnya ceritanya lebih lengkap :

Setelah lulus kuliah, aku bekerja di bagian administrasi pada sebuah perusahaan ekspor-impor.

Pekerjaanku sehari-hari adalam mengetik, fotokopi, membereskan dokumen.

Aku bekerja keras menuntaskan semua pekerjaan dan tanggungh jawabku agar dapat bertahan hidup di kota ini.

Karena sifat ku yang pemalu dan cenderung menutup diri, tidak suka bertingkah (mencari perhatian), sering kali tidak mau bicara di kantor.

Aku jarang ngobrol dengan teman kerja, mereka juga tampaknya sedikit sungkan dan mencoba menjaga jarak denganku.

Suatu hari, ayahku menelpon, katanya ia ingin datang dan tinggal di tempat ku beberapa hari.

Sebenarnya, aku tahu, ayahku hanya ingin melihat bagaimana kehidupanku disini, tinggal dimana? Lingkungan kerja seperti apa? Sudah punya pacar atau belum ?

Ibuku sudah meninggal lebih awal, tinggal ayah yang membesarkanku seorang diri.

Dalam ingatanku semasa kecil, aku selalu terbayang ayah memboncengku dengan sepeda ontelnya sambil berjualan tahu di sepanjang jalan.

Sepanjang hari itu, diam-diam aku perhatikan gerak-gerik bos ku, dia pasti tidak kenal denganku, bagaimana aku harus mengawali pembicaraanku dengannya?

Mungkinkah dia akan menyanggupi permintaanku yang lucu ini ?

Aku menjadi galau, sampai pada jam pulang kantor, akhirnya aku memberanikan diri mengetuk pintu ruangan bos.

Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke ruangan bos setelah setengah tahun bekerja.

Saat melihat aku masuk, dengan kening berkerut dan bingung, ia bertanya siapa aku ?

Aku makin gugup, dan dengan terbata-bata aku memperkenalkan diriku.

Saat bos melihat mukaku yang merona merah karena gugup dan tegang, bos pun berkata sambil tersenyum, “santai saja, ceritakan pelah-pelan kalau ada perlu.”

Aku terdiam cukup lama lalu berkata : “Saya mohon bantuan Bapak untuk mentraktir ayah saya makan, atau, jika tidak, utus salah satu staf kantor untuk mentraktir ayah saya makan atas nama perusahaan.”

Dengan penuh keberanian, aku pun menceritakan banyak tentang aku dan ayahku, “Ayah selalu khawatir dengan keadaanku, ia takut aku menderita di luar, padahal sebenarnya aku sangat baik di sini, pekejaanku stabil. Pimpinan dan rekan-rekan sekantor juga sangat baik padaku.”

Karena gugup, wajah ku pun seketika menjadi sangat merah, takut bos menolaknya, aku pun segera menambahkan, “Tentu saja, untuk biaya makannya nanti aku yang tanggung.”

Sebelum menungguku selesai bicara, bos langsung menimpali : “Jumat malam kita makan bersama-sama. Oke?”

Aku tertegun mendengarnya, dan langsung menjawabnya, “bo, boleh, kapan pun kami siap.”

“Baiklah, ambilah cuti beberapa hari. Ajak orangtua mu jalan-jalan. Aku akan memberitahu supir, beberapa hari ini pakai mobil perusahaan untuk jalan-jalan.”

Buru-buru aku bilang sama bos : “Tidak, tidak usah. terima kasih banyak!”, entah apa yang harus kukatakan lagi, aku pun langsung berdiri dan membungkukkan badan di hadapannya.

Jumat depan sebelum pulang kerja, supir langsung mencariku, membawa ku ke stasiun kereta api untuk menjemput ayahku menuju restoran.

Saat supir menyebutkan nama restorannya, aku terkejut bukan main, sebab itu adalah restoran termewah di kota ini.

Itu adalam acara makan malam yang mewah dan hangat.

Beberapa rekan kerja pun hadir. Semua orang saling bercanda, ngobrol dan menemani ayah ku minum dengan bahagia.

Banyak orang yang sebenarnya tidak mengenal aku, biasanya juga hanya menganggukkan kepala setiap kali bertemu.

Namun saat makan malam itu, mereka bersikap seolah-olah sangat akrab denganku, memuji bahwa pekerjaan ku sangat baik dan selalu tepat waktu dalam menyelesaikan tugas-tugasku.

Dua hari kemudian, supir bosku pagi-pagi sudah menunggu di lantai bawah kontrakanku, membawa ayah ku jalan-jalan mengitari kota yang indah ini.

Setelah beberapa hari tinggal bersama dan melihat keadaanku, ayah pun membeli tiket pulang dan berkata, “Sebelum datang, ayah sangat tidak tenang dengan keadaanmu.”

“Awalnya ayah ingin tinggal lebih lama lagi disini. Tapi, setelah melihat kehidupan mu begitu baik di sini, ayah sekarang bisa pulang dengan lega.”

Setelah ayah pulang, aku bersiap-siap menghadap bos untuk mengucapkan terima kasih. Namun sebelum aku menemuinya, ia sudah terlebih dahulu memanggil semua karyawannya untuk rapat bersama

Dalam rapat terebut, bos menyebut nama ku, ia minta maaf karena tidak terlalu memperhatikan aspirasi karyawannya.

Ia juga mengatakan, mau mengucapkan terimakasih pada ku karena sudah menyampaikan permohonanku seperti itu kepadanya.

Ia kini menjadi tahu, bahwa sebagai sebuah tim, perusahaan bukan saja sebagai tempat kerja, tapi juga sebuah keluarga besar yang saling peduli dan cinta kasih antar sesama karyawan.

Selain kompetisi, karir, keuntungan dan kemajuan, diperlukan juga kehangatan seperti sebuah keluarga.

Ini barulah sebuah tim yang sehat, tim yang dapat berkembang.

Setelah selesai menyampaikan itu, bos pun berdiri, membungkuk dan memberi hormat pada semua karyawannya.

Di tengah tepuk tangan yang cukup lama, aku pun menangis haru!

Aku merasakan kehangatan yang luar biasa dalam suasana kekeluargaan seperti ini. Dan sejak saat itu, aku menjadi orang yang aktif dan semangat.

Perusahaan juga berubah, tidak seperti dulu lagi. Setiap orang menjadi saling peduli, saling membantu dan saling menghargai. Suasana menjadi lebih hangat dan harmonis.

Tahun 2009, saat krisis ekonomi dunia, banyak perusahaan perdagangan internasional yang bangkrut dan rugi habis-habisan. Sementara perusahaan kami bukan saja tidak bangkrut, malah semakin berkembang..

3 tahun setelahnya, dari seorang administrator biasa, kini aku menjadi Manager Administrasi.

Setiap ada karyawan yang baru, aku akan menceritakan kisah ini. Aku ingin mengembangkan konsep, bahwa “Kekuatan kasih sayang itu melebihi segalanya!”

Sampai hari ini, semua orang di kantor mengatakan bahwa itu adalah pelajaran paling berharga dalam hidup mereka.

Entah ada berapa banyak pengusaha atau pimpinan perusahaan yang dapat menyimak dan menarik hikmah dari cerita ini.

Tidak banyak yang dituntut karyawan, jangan selalu meminta karyawan untuk menjadikan “tempat kerja sebagai rumah”, apakah kamu sudah memberikan rasa hangatnya keluarga kepada mereka?

Jadilah seorang pemimpin atau sesosok orang yang peduli pada setiap orang, tidak hanya karyawan, disaat memperlakukan pelanggan dengan tulus.

Jangan lupa perlakukanlah karyawan anda dengan sepenuh hati dan berikan perhatian pada mereka agar mereka merasakan kehangatan keluarga di tempat kerjanya !

Di mata orang yang bajik tidak ada yang namanya musuh, karyawan yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, baru bisa menyebarkan kasih sayang itu pada pelanggan.

Dan pelanggan yang mendapatkan perhatian itu baru bisa membuat perusahaan anda menjadi tak terkalahkan.

(joni/asr)

Sumber : Beautieslife