Erabaru.net. Ini adalah di balik pengendalian terhadap emosi yang kita miliki. Sungguh banyak hal-hal yang membahagikan di baliknya.

Ini dimulai cerita-cerita kecil yang patut direnungkan:

Seorang istri sedang sibuk memasak di dapur.

Sang suami mengoceh tak berkesudahan di sampingnya, “Hati-hati! Apinya terlalu besar, baliklah ikan dengan perlahan. Tambahkan lagi sedikit minyak! Perhatikan.”

“Iya, saya tahu, saya tahu, …mengesalkan! Bukankah saya lebih mengerti bagaimana memasak!” jawab istrinya jengkel.

“Tentu saja kamu mengerti! Saya hanya ingin melalui hal ini membuatmu menyadari bahwa setiap kali ketika saya mengemudi mobil, kamu sering mengoceh tiada habisnya.

“Perasaan saya waktu itu bagaimana,” jawab sang suami dengan tenang.

Mendengar ini si istri tak dapat menahan senyum tanda mengerti.

Menunjukkan pengertian dan simpati pada orang lain dengan memosisikan diri sendiri pada posisinya sebenarnya tidaklah sulit, asal kita mempunyai hati.

Mau menggunakan hati berdiri di pihak lawan untuk melihat suatu permasalahan.

Masalah apapun yang besar dapat diperkecil, yang kecil dapat ditiadakan, seperti perahu yang melewati air tidak meninggalkan bekas luka, inilah yang disebut “dunia sebenarnya tidak ada masalah, manusia sendirilah yang membuat kekacauan”.

Kita juga akan menjadi tua

Seorang ayah tua yang buta duduk berdampingan dengan putranya yang sedang membaca surat kabar, di bawah pohon rindang.

Saat itu mereka menikmati kebahagiaan keluarga dengan bermandikan kehangatan sinar mentari sore, sungguh sebuah pemandangan yang indah.

Sang ayah mendengar ada kicauan burung, beruntun telah bertanya 4 kali kepada sang putra, “Suara apa itu?”

Sang putra kelihatan tidak sabaran menjawab, “Itu burung gereja.”

Untuk ke-4 kalinya, ia sudah tak tertahankan dan marah-marah.

Ayahnya tak menjawab apa-apa hanya berjalan masuk ke rumah.

Tak lama kemudian ia berjalan keluar menghampiri putranya, sambil menyerahkan buku harian yang ditulisnya waktu masih muda. Ia meminta anaknya membacakannya.

“Beberapa hari yang lalu, putra kecilku berjalan-jalan di kebun bersamaku, dia beruntun bertanya 21 kali ‘itu apa’, saya menjawabnya 21 kali ‘burung gereja’, setiap kali kupeluk anak kecil yang masih polos itu, dengan penuh kasih sayang memberi jawaban kepadanya…”

Sang putra membaca sampai di situ tiba-tiba merasa sangat menyesal, tak tertahankan dipeluknya erat-erat sang ayah sambil berkata, “Maafkan aku ayah! Maafkan aku ayah!”

Besok akan lebih baik

Kita masing-masing mempunyai latar belakang, pikiran, kebiasaan yang berbeda-beda, bagaimana mungkin membuat pihak lain seluruhnya sesuai dengan hati kita?

Di dunia ini tidak ada orang yang sempurna, antara orangtua dan anak-anak, suami istri yang paling akrab sekalipun, tak akan terhindar dari waktu-waktu tidak selaras. Karena kesenjangan antar generasi yang berbeda memang ada.

Cerewet sudah merupakan karakteristik yang muncul, orangtua selalu ingin melindungi, karena perhatian dan kekhawatirannya maka akan tak bosan-bosannya mengingatkan.

Orangtua yang cerewet banyak jumlahnya, orangtua yang tidak cerewet justru sangat jarang, karena daya ingatan mereka juga sudah semakin menurun.

Acap kali karena kita bicara terlalu blak-blakan, sehingga pertemuan menjadi tidak enak, bubar dengan tidak menyenangkan, bahkan terjadi permusuhan dengan orang lain.

Saat demikian mengapa tidak berpikir dari sudut pandang lain, bila kita dengan tenang mengerti perasaan orang lain, daripada berdalih habis-habisan untuk suatu percekcokan.

Lebih baik mencari kesenangan hati diri sendiri dengan melepaskan rasa harga diri, curiga cemburu, bersaing, khawatir dan lain lain yang berlebihan, maka semuanya akan terasa menjadi lebih ringan dan menyenangkan!

Apabila kita dapat berusaha agar tidak terpengaruh oleh lingkungan, memelihara hati yang tenang damai, saling memberi peluang yang lebih banyak, membiarkannya terjadi secara alami, tentu saja tidak akan mudah menjadi resah dan naik darah.

Kita sering kali mudah tersesat dalam mitos untuk menilai terlalu tinggi diri sendiri dan mengabaikan orang lain, mengharapkan orang lain menyetujui pandangan kita.

Bahkan sering kali menganggap diri sendiri saja yang benar dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Membenarkan pernyataan sendiri dan menuntut orang lain sangat ketat, namun longgar terhadap diri sendiri.

Pengendalian perasaan adalah bidang ilmu pengetahuan yang besar, sangat tinggi dan mendalam.

Perasaan positif: penuh suka cita, gembira, hangat, lembut, harmonis, santai, tenang, damai dan lain lain barulah merupakan sasaran yang dengan gigih dan sungguh, harus dikejar.

Sebagian besar perdebatan dan pertentangan adalah direka-reka dan sama sekali tidak bermanfaat, terkadang hanya karena atmosfir percakapan yang kurang menyenangkan, ekspresi yang tegang, wajah tanpa senyum, suara yang mendesak dan faktor-faktor lain yang secara kebetulan menimbulkan salah kaprah.

Ditambah lagi hal lain yang mana kita terlalu menaruh perhatian terhadap cerita di balik kata-kata yang diucapkan secara sengaja atau tidak sengaja, terlalu mengkhawatirkan perasaan diri sendiri, sehingga begitu mendengar kata-kata yang tidak sesuai hati kita segera meledak, segera menggempur balik.

Dengan demikian, meskipun pandangan yang dinyatakan berbeda, sangat mudah menimbulkan pertikaian karena telah mengabaikan pemberian penjelasan dan penghargaan yang sesuai.

Kalau toh hati sudah tenang dan damai, masih ada untung rugi atau benar salah apa lagi yang mesti diperdebatkan? Sesungguhnya, tindakan yang pandai dan bijak adalah:

-Banyak mendengarkan (mengamati perkataan dan mimik wajah) banyak berusaha memahami dengan mengandaikan diri sendiri ada pada posisi orang lain.

Memandang tapi tidak nampak, mendengarkan tapi tidak masuk ke telinga, dengan hati tidak bergerak mengendalikan semua perubahan, merupakan tingkat tertinggi dari suatu kemampuan penguasaan diri.

– Sedikit berbicara (sedikit mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan maknanya yang sesungguhnya, sedapat mungkin menghindari penggunaan kata-kata yang tajam. Diam dengan tenang belum tentu menunjukkan suatu persetujuan karena dapat juga merupakan penolakan sebesar-besarnya).

Bila kita dapat membuat diri sendiri waspada, banyak memikirkan orang lain, memiliki saling pengertian, perhatian dan maaf, memperhatikan situasi pada saat kita berbicara dan nada bicara kita.

Jika kita juga dapat selalu ingat agar bertindak perlahan-lahan (lemah lembut), lambat (tidak terburu-buru), sempurna (berlangsung dengan sempurna tanpa halangan), dapat diyakini bahwa setiap langkah di esok hari akan menjadi lebih baik. (Guo Weiyan /prm/asr)

Sumber : The Epoch Times

Share

Video Popular