Erabaru.net. Saat Eko yang berusia 16 tahun masih duduk di bangku SMA, entah kenapa ayahnya pergi sambil membawa simpanan uang keluarga dan tak ada kabarnya sejak itu.

Ibu Eko kerja di sebuah pabrik, dengan gaji yang tidak seberapa.

Sandang pangan mereka juga sangat sederhana, hidup serba kekurangan.

“Meskipun hidup kita serba kekurangan, tapi kamu harus tekun belajar, untuk kebanggaan keluarga,” kata ibu Eko.

Tapi belakangan krisis ekonomi melanda pabrik tempat ibu Eko mencari nafkah, akhirnya ibu Eko yang berusia 46 tahun kena PHK, sehingga membuat keluarga miskin ini semakin terpuruk.

Ibu Eko hanya bisa mengiba kepada pimpinan perusahaan agar tetap bisa dipekerjakan di bagian apa saja.

Akhirnya Ibu Eko dipindahkan ke bagian lain dengan gaji lebih rendah, tapi ibu Eko masih bersyukur daripada diberhentikan.

Belakangan, Eko berhasil lulus, dan mendapatkan beasiswa karena prestasinya yang gemilang, kemudian direkomendasikan melanjutkan studi ke jenjang doctoral.

Ia dapat bekerja di lembaga riset bergengsi di dunia, dengan pandapatan miliaran per tahun.

Ini adalah sesuatu yang dimimpikan Eko. Namun, di saat-saat gemilangnya, ibunya jatuh sakit.

Setelah beberapa hari rawat inap di rumah sakit dan menjalani operasi, namun, tiba-tiba terserang Cerebral infarction, tertidur dalam keadaan koma.

Saat seperti itu, Eko menghadapi pilihan yang sulit. Antara pilihan ke luar negeri melanjutkan program studi doktornya dan mendapatkan gaji tahunan yang jumlahnya sangat menggiurkan atau tetap di rumah merawat ibunya?

Terbayang dalam benak Eko getirnya perjuangan hidup yang dilalui bersama dengan ibunya ketika itu.

Akhirnya Eko pun membulatkan tekatnya tetap di rumah merawat ibunya, meninggalkan studi dan penghasilan yang menggiurkan.

Dokter mengatakan kepada Eko, “Untuk membangunkan penderita syndrome apallic, perlu orang-orang terdekat untuk selalu berkomunikasi dengannya, panggilan orang-orang terdekat mungkin dapat mendatangkan mukjizat.”

Internet

Sebenarnya, kata-kata dokter secara samar-samar telah menunjukkan bahwa untuk membangkitkan kesadaran penderita sindrom apallic itu adalah hal yang sangat sulit.

Namun, Eko tidak mau menyerah, ia berharap dirinya dapat membangunkan ibunya, dan selama bisa membangunkan ibunya, ia rela melakukan apa pun meski harus ditebus dengan waktu seumur hidup.

Eko bercerita pada ibunya, mengenang kembali masa-masa sulit hidup berdua bersama dengan ibunya.

Cerita tentang mimpinya untuk sekolah di luar negeri, cerita tentang balas budinya kepada ibu yang telah merawat membesarkannya selama ini dan sebagainya.

Karena takut ibunya mengalami dekubitus akibat lama berbaring tanpa gerak, Eko selalu membalikkan badan ibunya setiap 2, 3 jam dan tak lupa bercerita selama 5 atau 6 jam setiap hari.

Ia juga membantu ibunya membasuh muka, memandikan dan mengganti baju ibunya setiap hari, agar sang ibu tetap bersih dan terlihat segar.

Internet

Para dokter dan pasien pun ikut terharu melihat seorang pemuda bisa begitu telaten merawat ibunya.

Begitulah Eko yang setiap hari dengan telaten merawat ibunya selama 1 tahun lebih!

Hingga suatu hari, bibir ibu Eko tampak sedikit bergerak, seperti ingin mengatakan sesuatu dengan suara yang lemah.

Itu adalah tanda-tanda ibunya akan sadar. Dan memang tak lama kemudian, ibu Eko pun sadar dari koma panjangnya, bahkan sudah bisa duduk, tapi tidak bisa berjalan.

Dokter yang merawatnya juga dengan berapi-api mengatakan, “Ini sebuah keajaiban, adalah mukjizat Tuhan untuk seorang anak yang berbakti!”

Kemudian, seseorang bertanya kepadanya, “Demi merawat ibumu, pernahkah kamu sesali melepaskan studi dan penghasilan yang menggiurkan ketika itu?”

 “Saya tidak akan bisa berdiri disini apalagi sekolah kalau tidak ada ibu,” kata Eko sambil tersenyum bahagia melihat ibunya telah siuman dari tidur panjangnya.

Sekarang, Eko masih terus merawat ibunya, namun, raut wajah ibu da anak ini tampak selalu tersenyum bahagia.

Mereka yakin mendung pasti berlalu dan akan menunjukkan langit biru untuk mereka, dan segalanya akan menjadi lebih baik.

Satu bakti yang tulus mendatangkan berkah yang tak terduga. Semoga ibu dan anak yang berbakti ini selalu hidup bahagia dalam lindungan-Nya. (jhony/rp)

Sumber: coco01.net

Video Rekemondasi:

Share

Video Popular