Oleh Dr. John Briffa

Erabaru.net. Ada pandangan yang mengungkapkan bila kelebihan berat badan dan obesitas disebabkan terlalu banyak makan atau tidak cukup olahraga.

Pada prinsipnya, konsep pemikirannya adalah obesitas diakibatkan oleh perilaku malas dan rakus. Saya yakin hal ini bisa terjadi pada sebagian orang.

Begitu juga saya yakin bahwa pemikiran semacam ini terlalu menyederhanakan permasalahan dan tidak cukup menjelaskan mengapa sebagian orang menjadi terlalu gemuk.

Kami mengetahui bahwa akumulasi lemak di bawah suatu tingkat kendali hormonal. Pemeran utamanya adalah hormon insulin, yang menaikkan pembuatan lemak maupun memperlambat tingkat pemecahan lemak.

Maka, ada kemungkinan bagi seseorang untuk menghimpun kelebihan lemak bukan karena mereka terlalu banyak makan, namun karena mereka mengonsumsi makanan yang mempercepat sekresi sejumlah besar hormon insulin (karbohidrat berindeks glisemik tinggi adalah faktor tertuduh utama).

Contoh hormon lain yang memainkan peranannya pada obesitas adalah kelenjar gondok. Organ ini berada di leher dan memproduksi beberapa hormon yang merangsang metabolisme.

Namun demikian, bila produksinya tidak mencukupi, metabolisme akan terhenti, dan jika hal tersebut terjadi, akan sulit bagi seseorang untuk menghasilkan energi dari makanan. Kelelahan dan kelebihan berat badan adalah konsekuensi yang umum terjadi.

Selama praktek, saya melihat banyak orang (umumnya perempuan) yang memiliki fungsi tiroid rendah, mereka mengungkapkan bahwa seberapapun banyaknya mereka makan, hanya berpengaruh sedikit atau bahkan tidak mempengaruhi berat badan mereka. Beberapa orang yang berpikiran sinis menganggap mereka pasti berbohong.

Saya yakin beberapa orang terkadang tidak sejujur seperti yang mereka inginkan, namun saya yakin pasien saya menceritakan hal yang sebenarnya, dan menganggapnya semacam diskon nilai kebenaran.

Konsep yang menyatakan bila kegemukan mungkin sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal lebih diperkuat oleh studi yang diterbitkan baru-baru ini di jurnal Obesity.

Studi ini memusatkan perhatiannya pada perempuan gemuk yang mengalami peningkatan berat badan secara cepat ketika mengalami peristiwa penuh stres.

Perempuan yang mengalami obesitas berkaitan dengan stres ini (stress-related obesity atau SRO) dibandingkan dengan kelompok perempuan lain yang mengalami kegemukan, namun tidak ada laporan peningkatan berat badan secara cepat setelah peristiwa penuh stres (Non-SRO).

Kelompok ketiga sebagai perbandingan adalah perempuan yang tidak mengalami kegemukan.

Semua perempuan di studi ini mengandung sejumlah hormon kortisol pada air seni yang diukur satu periode 24 jam.

Kortisol adalah hormon stres utama, dan hormon ini dikenal mempunyai kemampuan mempengaruhi kegemukan (seperti halnya kehilangan otot). Kelompok SRO menghasilkan dan mengeluarkan tingkat cortisol lebih tinggi dibandingkan kelompok non-SRO dan tidak gemuk.

Juga ditemukan, tingkat kortisol yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan berat badan yang lebih cepat dan lebih besar. Penulis menyimpulkan, “Penemuan ini mendukung konsep jika SRO mempunyai mekanisme patofisiologis yang berbeda…”

Singkat kata, studi ini menyatakan semakin tinggi kadar kortisol, berkaitan dengan stres, mungkin merupakan faktor yang mempengaruhi kelebihan berat badan.

Dengan kata lain, stres mungkin dapat membuat sebagian orang menjadi gemuk. Ini adalah contoh lain bagaimana kelebihan berat badan mungkin merupakan akibat yang dipengaruhi oleh hormon ‘salah’, dan tidak hanya diakibatkan oleh terlalu banyak makan atau tidak cukup olahraga.

(Dr. John Briffa/ feb/asr)

Dr. John Briffa adalah seorang dokter dan penulis kesehatan berkediaman di London dengan minat di bidang nutrisi pengobatan alami. Situsnya adalah Drbriffa.com

Sumber : The Epoch Times

Share

Video Popular