Erabaru.net. “Pemanah tanpa lengan” ini memenangkan medali perak di Paralimpiade 2012 dan tercatat di Guinness World Record untuk kategori pemanah pada tahun 2015. Tujuan selanjutnya adalah bisa bersaing di Olimpiade Tokyo 2020, melawan pemanah papan atas dunia.

Dia berkata, “Untuk menjadi yang terbaik, saya harus bertarung melawan pemanah terbaik di dunia.”

Matt Stutzman, pria berusia 34 asal Iowa, AS, ditinggalkan oleh orangtua kandungnya saat ia masih berusia tiga bulan.

Dia kemudian diadopsi oleh sebuah keluarga, dan beruntungnya ia diperlakukan sebagai anak normal.

Orangtua barunya tak segan untuk mengajarinya makan, mengemudi, dan tentu saja, memanah, yang mana semuanya dilakukan hanya dengan menggunakan kakinya.

“ Dia bisa menyesuaikan dengan rumah kami,” kata ayah Matt kepada HBO . Orangtua angkatnya memutuskan untuk membesarkannya dengan satu peraturan sederhana: “Lakukan sendiri. Kamu bisa melakukannya sendiri.”

(Foto: Facebook | Deccan Herald)

Matt mengatakan apa yang dikatakan orang tuanya kepadanya: “Kamu bisa duduk di rumah dan menangis, mengeluh, karena kamu tidak memiliki tangan. Tapi kenyataannya adalah mereka (kedua tanganmu) tidak akan pernah kembali. Namun jangan khawatir, kami akan membantumu belajar bagaimana menjalani kehidupan tanpa tangan.”

(Foto: Facebook | Media BowJunky)

“Tumbuh dewasa, saya diperlakukan seperti anak normal lainnya,” kata Matt kepada WBUR.

“Saya harus melakukan pekerjaan rumah sendiri. Harus mengumpulkan telur. Memberi makan sapi dan ayam.”

“Saya berkata, ‘Ayah, saya ingin memanjat pohon apel!’ Dan dia berkata, ‘silahkan! Tapi jika kamu memanjatnya sendiri, kamu juga harus turun sendiri. Kami tidak akan menyelamatkanmu jika terjadi apa-apa.”

“Jadi saya memanjat pohon apel, lalu saya mencari cara untuk turun kembali sendiri.”

(Foto: Getty Images | THOMAS LOVELOCK)

“Mereka membiarkan saya … mereka membiarkan saya mengalami banyak kegagalan. Karena orangtua saya mengajari saya untuk melihat suatu situasi dan belajar menyesuaikan diri dengan dunia ini. Mereka membuat saya mampu melakukannya, dan seiring bertambahnya usia, mencapai hal-hal yang dapat saya inginkan. ”


(Foto: Facebook | TheSavageGentleman.com)

Pendidikan orangtuanya tersebut telah membuat Matt mampu melakukan apa saja.

Matt pertama kali mulai memanah tanpa tangan, karena dia mengalami kesulitan untuk menemukan pekerjaan di kota kecil tempat dia tinggal. Karena dia harus memberi makan istri dan tiga anaknya.

“Bila keluargamu lapar, kamu tidak punya pilihan. Kamu melakukannya karena kamu harus melakukannya, bukan karena kamu ingin melakukannya,” ujar Matt kepada HBO. “Namun pada saat itu, pikiranmu akan menjadi terbuka untuk mencoba apa pun.”

(Foto Getty Images | Jonathan Moore)

Tak lama kemudian, ia mulai mengikuti turnamen memanah.

“Pada tahun 2011 saya berada di Vegas untuk sebuah turnamen, dan seseorang mendekati saya dan berkata: ‘Kamu harus mengikuti lomba memanah di Paralimpiade’,” kata Matt kepada World Archery .

(Foto : Getty Images | Berita Kyodo)

Tapi dia tidak tahu apa Paralimpiade saat itu.

“Jadi saya mencarinya di Google,” katanya. “Maksud saya, saya mencari ‘bagaimana memanah tanpa lengan,’ di Google, namun saya tidak menemukan apa-apa.’

(Foto : Facebook | Armless Archer)

Dia memiliki teknik khusus untuk menembak dengan busur. Dia memegangi busurnya dengan kaki kanannya dan memicu pelepasannya dengan rahangnya.

(Foto : Facebook | Armless Archer)

“Di London, saya menggunakan pemicu yang diaktifkan oleh rahang saya. Yang baru sebenarnya ada engselnya, dan itu diaktifkan oleh punggungku. Jadi ini menjadi proses tembakan yang mengarah ke tengah. Ini memungkinkan saya untuk menjadi jauh lebih konsisten sebagai pemanah,” katanya.

(Foto : Getty Images | Simon Bruty)

Ia berhasil meraih medali perak di Paralimpiade tahun 2012. Namun pengalamannya di Olimpiade Rio 2016 sedikit berbeda.

(Foto: Facebook | Armless Archer)

“Pertandingan di Rio ini sedikit berbeda, tingkat keahlian yang dibutuhkan jauh lebih tinggi. Saya tahu perbedaan antara saya yang memenangkan medali dan tidak memenangkan medali adalah permainan mental saya. Jadi saya ingin lebih fokus pada sisi mental saat ini daripada yang pernah saya miliki,” katanya.

(Foto : Facebook | Armless Archer)

“Apakah saya menang atau kalah, saya bisa meninggalkan inspirasi bagi orang-orang. Lihatlah orang itu, dia tidak memiliki tangan, namun bisa memanah. Dia tidak membiarkan orang lain untuk menghalangi sesuatu yang dia ingin lakukan, dan bagi saya itulah yang terpenting, bisa mengubah hidup satu orang saja,” katanya sebelum mengikuti kompetisi.

(Foto: Facebook | Armless Archer)

Meski gagal meraih medali di tahun 2016, ia sudah memiliki rencana untuk masa depan. “Berikutnya adalah Olimpiade Tokyo 2020, dan itulah yang harus saya mulai pikirkan dan persiapkan,” kata Matt kepada NBC Sports.

“Fokus saya tahun depan adalah menjadi atlit pemanah yang hebat,” katanya kepada World Archery. “Jika ingin menjadi pemanah terbaik, saya harus bersaing melawan pemanah terbaik di dunia.”(intan/yant)

Sumber: ntd.tv

Share

Video Popular