Erabaru.net. Pada Selasa (8/8/2017) malam hari, di Jiuzaigou provinsi Sichuan, Tiongkok yang memiliki wisata alam terkenal diguncang gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR).

Guncangan itu mengakibatkan daerah sekitarnya seperti Lanzhou, Chengdu, Chongqing, Mianyang, Xi-an dan lain-lain ikut merasakan dampaknya.

(STR/AFP/Getty Images)

Hingga Kamis (10/8/2017) yang lalu telah diketahui korban tewas 20 orang dan 431 lainnya terluka.

Belum sempat tenang akibat gempa Jiuzaigou ini, pada Rabu (9/8/2017) pagi hari di kabupaten Jinghe provinsi Xinjiang kembali diguncang gempa berkekuatan 6,6 SR.

(STR/AFP/Getty Images)

Efek guncangannya terasa sampai ke Urumqi, Karamay, Ili, Aksu dan lain-lain.

Gempa berurutan dalam 24 jam berkekuatan di atas 6 SR, sejumlah kalangan mencurigai adanya kaitan antara keduanya.

Namun pakar menyatakan, karena kedua tempat itu letaknya berjauhan, ini termasuk suatu kebetulan.

Bagi masyarakat Tiongkok kuno, ini jelas bukan suatu kebetulan.

Masyarakat kuno memiliki suatu ungkapan “hubungan ikatan langit dan manusia”, yang maksudnya antara langit dan manusia terdapat semacam ikatan dan hubungan yang terjalin.

Perubahan fenomena langit dapat mendorong sejumlah perubahan yang terefleksi pada masyarakat manusia.

“Apakah takdir langit dapat diubah?”

Dong Zhongshu (179 SM – 104 SM, cendekiawan dan politisi) di zaman kaisar Wudi Dinasti Han menjawab pertanyaan tersebut.

Share

Video Popular