Oleh: Thang Xiao-xiao

Erabaru.net. Saat sedang kerja,  tiba-tiba mendapat telepon dari mertua.

Dia berkata bahwa ada tamu di rumah. Lalu menanyakan padaku apa bisa makan siang bersama di rumah.

Saat itu lagi sibuk-sibuknya, benar-benar tidak sempat, tapi kalau tidak temani tamu makan siang juga rasanya kurang etis.

Kemudian aku bilang pada mertuaku untuk membeli beberapa macam sayur di restoran, nanti aku langsung pulang seusai jam kantor.

Namun, telepon baru saja ditutup, mertua kembali menelepon.

Tamunya bilang pada mertuaku bahwa dia cukup makan seadanya saja di rumah, kalau memang aku tidak sempat, ya tidak apa-apa, jangan dipaksakan, jangan dipaksakan.

Mana boleh begitu? Ini keterlaluan namanya!

Namun, aku menjadi lega ketika mertuaku bilang tamu itu adalah ibuku.

ILUSTRASI. Sumber: jonwitsell.com

Kalau ibu ya tidak perlu terlalu formal dan tatakrama juga tidak masalah, seadanya sajalah.

Jadi, saat itu mertua dan ibuku makan siang bersama, dua macam sayur satu dan sup, sangat sederhana, sementara aku, makan siang bersama dengan rekan-rekan kantor.

Malamnya, saat pulang seusai kerja, ibu sudah pergi.

Sementara di ruang tamu, aku melihat setumpukan hanya barang-barang bawaan ibu. Macam-macam barang yang dibawanya, apa pun ada, lengkap.

Aku melihat tumpukan barang-barang itu, sambil membayangkan lauk pauk sederhana yang dinikmati ibu saat makan di rumah tadi, tiba-tiba hatiku merasa sedih.

Dan tak disangka saat menyinggung masalah itu dengan teman, seketika mengingatkanku tentang ibu.

ILUSTRASI. Sumber: vagabondish.com

Temanku cerita kalau ia orang yang tidak suka melakukan pekerjaan rumah tangga.

Biasanya di rumah, bahkan untuk sekadar menuang teh saja malas, tapi begitu ada tamu, sikapnya pun berubah seperti orang baru, menjadi sosok orang lain.

Dia akan menyeduh teh untuk tamu, meski tamu itu bilang tidak minum teh, tapi tetap saja ia tuang untuknya.

Dia juga menawari tamunya tidak usah sungkan, makan saja apa yang disukai, ada buah-buahan atau camilan yang disediakan di atas meja.

Dia merasa, orang yang berkunjung ke rumah sebagai tamu itu harus membuat tamu itu merasa nyaman, jika tidak, siapa yang mau datang bertamu lagi.

Lalu, saat tamu pergi, dia pun menjadi sibuk, menyapu, ngepel, cuci gelas dan sebagainya.

Meskipun dia tidak suka melakukan hal-hal ini, tapi demi menyenangkan tamu, dia pun berusaha bersabar.

Share
Tag: Kategori: Headline

Video Popular