Erabaru.net. Pada artikel sebelumnya diberitakan bahwa gempa beruntun terjadi di Tiongkok. Berikut artikel lanjutannya.

Menurut pandangan masyarakat kuno, bencana alam ini adalah cerminan dari kehendak Langit.

Begitu kerap terjadi peringatan dari Langit, apa makna yang disampaikan?

Menurut penjelasan Zhang Heng, munculnya petir menyambar dan bumi terbelah yang aneh adalah karena terjadi penyelewengan pemerintahan negara, di dalam buku sejarah juga ada penjelasan terkait.

(STR/AFP/Getty Images)

1. Peringatkan Mungkin Akan Terjadi Kudeta

Gempa  memperingatkan akan adanya pejabat tinggi yang hendak memberontak dan negara akan terjadi kudeta, pemerintahan mungkin akan berganti penguasa.

Di dalam sejarah raja You dari Zhou (795 SM – 771 SM, raja kedua belas dan yang terakhir dari Dinasti Zhou) dan kaisar Yang dari Sui (569 – 618, putra kedua dari Kaisar Wen dari Sui, dan kaisar kedua Dinasti Su) terbunuh akibat kudeta.

2. Isyaratkan Pejabat Korup Merajalela

Contoh dalam sejarah kaisar Xian dari Han (181 – 234, naik tahta sejak kanak-kanak dan menjadi kaisar boneka dalam cengkraman beberapa penguasa militer di penghujung Dinasti Han) pada tahun kedua dinobatkan, terjadi gempa bumi.

Penguasanya adalah pejabat korup bernama Dong Zhuo (138 – 192).

Dong Zhuo, seorang warlord pada penghujung zaman Dinasti Han. Ia menguasai Luoyang pada tahun 189 setelah ibukota jatuh kedalam kekacauan karena tewasnya Kaisar Ling.

Selain itu, pada Dinasti Ming juga ada seorang pejabat licik bernama Yan Song mengalihkan kekuasaan pada oposisi, juga terjadi gempa dahsyat.

(STR/AFP/Getty Images)

3. Peringatkan Akan Terjadi Perubahan Besar Pejabat atau Pemerintahan, Diiringi Kematian Penguasa

Kejadian yang paling tipikal adalah sebulan setelah terjadi Gempa dahsyat Tangshan yang terjadi pada 28 Juli 1976, petinggi Partai Komunis Tiongkok/PKT Mao Zedong meninggal dunia.

4. Gempa Refleksikan Kehidupan Rakyat Merana dan Menderita

Selama periode Revolusi Kebudayaan (1966-1976), di Tiongkok terjadi berkali-kali gempa dahsyat, selain Gempa Tangshan, antara Maret 1966 hingga Mei 1976 terjadi sejumlah gempa berkekuatan 6,8 sampai dengan 7,9 SR.

Tiongkok pada saat itu berada dalam keadaan pergolakan politik pasca pemerintahan PKT, rakyat tak hanya menjalani kehidupan yang sulit, dalam hal psikologis juga kenyang atas penganiayaan PKT.

Internet

Sedangkan pada 8 dan 9 Agustus 2017 lalu, dua gempa berurutan selama Rapat Beidaihe berlangsung, apakah Langit sedang memberikan peringatan munculnya penyelewengan pemerintahan negara?

Untuk diketahui rapat Beidaihe adalah rapat rahasia internal elit PKT, yang diadakan di Beidaihe, suatu tempat wisata di dekat pulau Qin Huang provinsi Hebei.

Atau adanya pejabat korup yang berkuasa, akankah terjadi kudeta atau pemberontakan?

Atau mungkin sebagai peringatan akan terjadi perubahan besar pada tampuk kepemimpinan atau pemerintahan?

Apakah refleksi kehidupan rakyat yang menderita dan taraf hidup yang miskin?

Itu semua bisa menjadi tafsiran bagi para pejabat tinggi PKT yang sedang menghadiri rapat non-formal di Beidaihe, sekaligus mengatur penyelenggaraan Kongres Nasional PKT ke-19 itu.

Internet

Tapi tidak diragukan lagi, kedua gempa dahsyat yang terjadi bertepatan dengan Rapat Beidaihe bukanlah suatu kebetulan.

Perlu diketahui, sejak Kongres Nasional PKT ke-18, lima tahun lalu, meskipun dengan mengatasnamakan pemberantasan korupsi PKT telah banyak menciduk pejabat tinggi dari kubu Jiang yang sebagian besarnya terlibat penindasan terhadap Falun Gong, namun hingga saat ini, masalah penindasan Falun Gong belum berhenti.

Penindasan itu terutama kejahatan perampasan organ tubuh para praktisi Falun Gong.

Gembong koruptor utama PKT yang sekaligus sebagai dalang penindasan Falun Gong yakni Jiang Zemin sampai saat ini belum dijerat hukum.

Jika pemusatan kekuasaan para petinggi PKT hanya demi membentuk kewibawaan pribadi, hanya untuk melindungi kelangsungan PKT semata, dan tidak mengikuti kehendak langit serta aspirasi rakyat untuk menyelesaikan akar permasalahan kekacauan di RRT saat ini, maka pemerintahan negara ini akan mengalami penyimpangan dan berlawanan dengan kehendak langit.

Akibatnya musibah pun akan terus bermunculan, dan setelah itu bahkan akan terjadi bencana alam yang lebih tragis.

Internet

Mungkin bagi para pejabat tinggi yang berharap menyelamatkan nasib PKT, sangat penting bagi mereka untuk merenungkan kembali peristiwa jatuhnya meteor di Jilin sebelum meninggalnya Mao.

Pada 20 Juli 1976, Mao Zedong mendengar perawatnya Meng Jinyun membacakan koran.

Ketika membaca berita soal hujan meteor di Jilin, raut wajah Mao langsung berubah, dan berkata, “Kejadian seperti ini telah sering terjadi dalam sejarah, catatan sejarah resmi juga tidak sedikit, yang tercatat di sejarah non resmi lebih banyak lagi. Di Tiongkok kuno ada semacam ajaran tentang hubungan ikatan langit dan manusia. Dikatakan jika akan terjadi peristiwa besar di dunia, maka alam semesta akan memberikan pertanda, sebagai ramalan bagi manusia, peristiwa baik akan ada pertanda baik, peristiwa naas akan ada pertanda buruk. Langit berguncang bumi bergetar, jika jatuh meteor dari langit itu berarti akan ada orang (tokoh) mati!”

Meng Jinyun tidak percaya dan menganggap itu hanya takhyul, hanya sekedar karangan masyarakat kuno.

Mao menjawab, “Lalu untuk apa masyarakat kuno mengarang cerita seperti ini?”

Ramalan Mao sangat tepat, beberapa bulan kemudian, Mao meninggal dunia.

Mao yang seumur hidupnya terus menerus membohongi rakyat Tiongkok menjelang ajalnya justru mengakui dirinya percaya pada ajaran “hubungan ikatan langit dengan manusia” ini, bagaimana pemikiran para pejabat tinggi PKT lainnya?

Dan pada Selasa (8/8/2017), pada langit di Beijing muncul sebuah pilar cahaya keemasan, pertanda apa lagi itu?

Namun bisa dipastikan, jika para pejabat tinggi PKT yang sedang menghadiri Rapat Beidaihe tidak mengindahkan pertanda ini dan tidak respek terhadap pertanda langit, maka masa depannya pasti mengkhawatirkan. (zhouxiaohui/sud/whs/rp)

SELESAI

Share

Video Popular