Erabaru.net. Rinku Hooda, pria berusia 18 tahun dari Rohtak, India yang telah kehilangan tangan kirinya saat dia berusia 3 tahun karena terjebak dalam mesin penggiling padi!

Saat ini ia telah membuat negara India bangga dengan memenangkan medali perak dalam perlombaan Lempar Lembing di Para Atletik U-20 Pertama yang diselenggarakan di Nottwil, Swiss.

Dia membuktikan bahwa ‘Kesuksesan tak hanya bisa diraih karena penampilan fisik Anda, namun kemampuan dan usaha keras Anda untuk mencapainya-lah yang lebih banyak berbicara!’

(Foto: Twitter.)

Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, Rinku berasal dari sebuah desa kecil Dhamar, Rohtak di Haryana, India. Dia diberi tugas membantu ayahnya, Rohtash yang bekerja sebagai petani di lahan pertanian seluas 12 hektar.

Dia memiliki sedikit memori yang menyebabkan ia harus kehilangan lengannya dan mulai memfokuskan diri untuk mendapatkan medali emas di tingkat distrik dan negara bagian selama masa sekolahnya dalam kejuaraan lempar lembing.

Kekuatan terbesarnya adalah tidak menghiraukan kejadian menyakitkan yang menimpanya pada usia muda!

(Foto: Hindustantimes.com.)

Saat ini dia telah membuat pengakuan untuk dirinya sendiri dan telah mengangkat derajat orang-orang yang memiliki tantangan fisik di India.

Dia berpartisipasi dalam lomba lempar lembing, dia berhasil melempar sejauh 59,42 meter, dan berhasil menempatkan dirinya di urutan ke-2!

Meski diundang ke acara tersebut hanya dengan menjalani pelatihan sekitar satu minggu akibat pemberitahuannya yang cukup mendadak. Namun, sorak sorai penonton membantunya memenangkan pertandingan untuk negaranya!

(Foto: thebetterIndia.com.)

Prestasi sebelumnya yang berhasil ia raih adalah di Kejuaraan Dunia Atletik Dunia IPC di London, namun saat itu ia baru mencapai juara keempat dengan lemparan terbaiknya sejauh 55,12 meter.

Posisi kelima di Olimpiade Rio lalu menjadi dorongan lain baginya untuk mendapatkan medali di pertandingan olahraga selanjutnya!

Rinku mendapat inspirasi setelah menyaksikan Chak De India, film India yang bertemakan olahraga. Ini memberinya keberanian untuk menjadi olahragawan, di tengah keterbatasan fisiknya.

Sangat menghangatkan hati untuk melihat bagaimana kecacatan fisik bukanlah beban dan hambatan hidup, namun sebaliknya, itu bisa menjadi berkah dan motivasi.(intan/yant)

Sumber: ntd.tv

Share

Video Popular