Erabaru.net. Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan tiga kali pidato kenegaraan jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke 72 di Komplek Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2017).

Pidato Presiden RI pertama disampaikan pada sidang tahunan MPR RI Tahun 2017 yang dipimpin oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.

Pidato kedua adalah Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka HUT RI ke-72 pada sidang bersama DPR RI dan DPD-RI.

Selanjutya Presiden Jokowi akan menyampaikan pidato sekitar pukul 14.00 WIB dalam rangka Penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2018 disertai Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya pada Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2017 – 2018.

Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato Rabu 16 Agustus 2017 (Foto : Rahmat/Humas Kepresidenan)

Ada yang berbeda pada tahun ini mengenai pakaian yang digunakan Jokowi dan Jusuf Kalla. Mereka berdua bertukar pakaian khas daerah masing-masing.

Jokowi saat itu mengenakan pakaian khas bugis lengkap dengan songkok Recca. Sedangkan JK mengenaikan pakaian khas Jawa lengkap dengan blangkon.

Saat menyampaikan pidato dalam rangka HUT RI ke 72, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar, bukan hanya karena jumlah penduduknya yang lebih dari 250 juta jiwa. Tak hanya dikarenakan memiliki 17 ribu pulau dan sumber daya alam yang melimpah.

Tapi, kebesaran Indonesia karena bangsa Indonesia ini sudah teruji oleh sejarah, bisa tetap kokoh bersatu sampai menginjak usianya ke-72 tahun. Sementara di beberapa negara lain, dilanda konflik kekerasan antar suku, perpecahan antar agama, pertikaian antar golongan.

Oleh karena itu, selayaknya bersyukur bahwa Indonesia tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Bahkan sekarang ini, bangsa Indonesia menjadi rujukan banyak negara dalam hal mengelola ke-Bhinnekaan dan membangun persatuan.

Presiden menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa petarung yang berani berjuang dengan melakukan kekuatan sendiri meraih kemerdekaan. Anak bangsa merebut kemerdekaan berkat perjuangan para pahlawan, ulama, para santri, pemimpin agama-agama, dan pejuang dari seluruh pelosok Nusantara.

Semua itu harus membuat bangsa semakin bangga pada Indonesia, negeri yang dicintai bersama. Semua itu, harus membuat bangsa percaya diri untuk menghadapi masa depan. Oleh karena itu, harus meninggalkan warisan kolonialisme yang menjadikan bangsa Indonesia bermental budak, karakter rendah diri, pecundang dan selalu pesimis dalam melihat hari esok.

Presiden menyampaikan semuanya harus membuang jauh-jauh mentalitas negatif yang membuat sesama anak bangsa saling mencela, saling mengejek dan saling memfitnah. Karena semuanya adalah bersaudara, saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air.

Presiden dalam pidatonya menyampaikan harus membangun fondasi kultural yang kuat. Termasuk harus bersatu dan berdiri gagah untuk menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks, yang semakin ekstrem, dan berubah dengan sangat cepat. Hanya bangsa yang cepatlah yang akan memenangi persaingan global.

Hadir pada kesempatan pidato kenegaraan,  anggota MPR/DPR/DPD RI, pimpinan lembaga tinggi negara,  perwakilan diplomatik asing, menteri Kabinet Jokowi-JK, Panglima TNI, Kapolri dan Tiga Kepala Staf TNI.

Hadir pada pidato tahunan ini Presiden RI ketiga BJ Habibie, Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden Ri ke-6 Try Sutrisno,  Wakil Presiden RI ke-11 Boediono, Shinta Nuriyah Wahid, dan Karlina Umar Wirahadikusuma. (asr)

Share

Video Popular