Tampak seorang wanita tua berdiri di depan pintu sambil batuk beberapa kali dan bertanya, “Nona, ada apa ya?”

Dengan santun Lin Xue berkata, “Nek, nenek Zhang Lian-ying ya?”

“Ya saya sendiri, nona mencariku, ada apa ya?” kata si nenek diiringi suara batuknya.

Melihat kondisi batuk nenek itu cukup hebat, dengan sigap Lin Xue menepuk punggung si nenek, kemudian memapahnya duduk ke kursi.

ILUSTRASI. (Internet)

Dengan lembut menuturkan, “Nek, apa nenek masih ingat sumbangan nenek untuk panti asuhan itu? Saya adalah salah satu anak panti asuhan itu nek, berkat sumbangan nenek, kami anak-anak panti asuhan ketika itu bisa sekolah, jujur saja, jika tidak ada sumbangan nenek ketika itu, saya juga tidak mungkin punya kehidupan seperti sekarang, jadi saya secara khusus datang untuk mengucapkan terima kasih kepada nenek.”

Dengan nada yang berwibawa nenek Zhang berkata, “Nenek tidak mengharapkan balas budi kalian atas sumbangan nenek ketika itu, kamu pulanglah.”

Melihat muka nenek Zhang yang pucat, dan batuk tiada henti, Lin xue bersikeras membawanya ke rumah sakit.

Dari hasil diagnosis, dokter mengatakan harus secepatnya operasi.

Setelah itu perlu menjalani pengobatan melalui obat-obatan.

Semua proses itu mungkin butuh biaya yang tidak sedikit, Zhang Lian-ying pun segera melambaikan tangannya dan berkata, “Saya sudah tua, dan tidak lama lagi hidup di dunia, untuk apa kamu menyusahkan diri sendiri, saya tidak mau operasi, kamu antar saya pulang saja. Suami dan anak-anak saya juga telah pergi secara silih berganti meninggalkan saya, sementara menantuku yang tega telah lari sambil membawa uang keluarga. Sekarang nenek tinggal sendiri di dunia ini juga tidak ada artinya lagi, dan inilah saatnya untuk berkumpul kembali bersama suami dan anak nenek di sana.”

Lin Xue mencengkeram erat tangan nenek Zhang, dan berkata, “Nenek kan masih ada aku, aku adalah cucu nenek, dan aku aka berusaha menyembuhkan sakit nenek.”

Hari itu, Lin Xue pulang dan menjelaskan hal itu pada suaminya.

Namun, sang suami tidak bisa memahaminya, menentangnya membantu nenek Zhang.

Dengan nada berat berkata, “Meskipun dia telah mendanai panti asuhan ketika itu, namun anak-anak panti asuhan lain juga diuntungkan, lalu atas dasar apa harus kamu yang mengurusnya, kenapa anak-anak lain yang juga diuntungkan itu tidak mengurusnya?”

Tak pernah terlintas dalam benak Lin Xue, suaminya ternyata sesosok orang yang sangat egois.

Dengan tatapan serius, Lin berkata, “Aku tidak peduli bagaimana dengan pikiran orang lain, aku hanya tahu dan tidak mau bagai kacang lupa kulitnya. Sikapmu benar-benar menyedihkan bagiku, tapi dalam hal ini, aku tidak butuh persetujuanmju.”

Melihat Lin Xue hendak membuka brankas, suaminya langsung menariknya dan berkata, “Ini harta bersama kita, pokoknya aku tidak setuju, jadi jangan harap kamu bisa mengambilnya.”

Melihat sikap suaminya seperti itu, Lin Xue pun naik pitam, dan berteriak, “Aku tidak bisa lagi hidup bersama dengan sosok orang sepertimu, kita cerai saja!”

Tak lama setelah itu, Lin Xue pun cerai dengan suaminya.

Harta yang dibagi untuk Lin Xue kemudian digunakan untuk biaya pengobatan nenek Zhang.

Untung saja, penyakit nenek Zhang berangsur-angsur membaik.

Beberapa bulan kemudian, Lin Xue membawa pulang nenek Zhang ke rumah kontrakannya.

Sejak itu, Lin Xue pun merawat nenek Zhang yang telah dianggapnya sebagai nenek kandungnya.

Ia merawatnya hingga kelak mengantarnya ke peristirahatan terakhir saat nenek Zhang berpulang kepada-Nya. (jhony/rp)

Sumber: Beauties.life

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular