- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Nenek ini Menyumbang Tanpa Nama untuk Panti Asuhan, Bertahun-tahun Kemudian, Suami dan Anak-anaknya Meninggal Silih Berganti, Dirinya pun Sakit-sakitan. Tepat Pada Saat itu, Muncullah Wanita yang Tak Diduganya…

Erabaru.net. Lin Xue yang kini berusia 30 tahun, memiliki keluarga yang harmonis, pekerjaan yang stabil.

Tapi tidak tahunya dia adalah anak yatim.

Dia yang sekarang memiliki kehidupan yang bahagia tidak pernah melupakan kebaikan dari sesosok orang budiman yang telah dicarinya selama ini

Lin Xue dibesarkan di sebuah panti asuhan tua, yang jauh terpencil di pedesaan.

Anak-anak yatim yang dirawat dan dibesarkan disana adalah anak-anak yang dicampakkan orang tuanya, atau anak-anak jalanan.

Ada puluhan anak yang dirawat di panti itu, sekarang tinggal 9 anak setelah dikurangi anak-anak yang usianya jauh lebih besar.

Anak-anak di panti dirawat seorang kepala panti asuhan dan dua perawat.

[1]
ILUSTRASI. (Internet)

Tapi dikarenakan lokasinya yang terpencil di pedesaan, sehingga tidak diketahui orang luar.

Karena itu tidak mendapatkan dana subsidi, sebagian besar sandang pangan disumbangkan atas kehendak masing-masing penduduk desa yang dermawan.

Tapi semua ini hanya bisa bertahan sementara. Sementara untuk kelanjutan hidup panti tersebut berasal dari kantong kepala panti sendiri.

Dan meski begitu, masih belum bisa memecahkan banyak masalah, misalnya sekolah adalah masalah besar yang harus dicari solusinya. .

Namun, suatu hari dan seterusnya, panti asuhan mendapatkan sumbangan tanpa nama.

Si pendonor yang tidak bersedia mengungkapkan identitasnya itu langsung pergi begitu menyerahkan sumbangannya.

Kini panti asuhan itu seperti disirami air hujan setelah sekian lama ‘gersang’.

Setelah dikurangi biaya hidup sehari-hari, anak-anak sekarang bisa sekolah dari sumbangan anonim itu.

Kepala panti sering mendidik anak-anaknya agar membalas budi siapa pun meski hanya berkah setetes darinya, harus selalu ingat budi orang.

Wejangan dari kepala pantinya ini, meresap ke dalam sanubari Lin Xue hingga tertanam sebutir bibit kebaikan berbudi.

Lin Xue yang dirawat di panti itu pernah kembali ke sana, namun, kepala panti yang dulu sering memberikan wejangan itu kini telah pergi.

Dari kepala panti sekarang, Lin Xue mendapat kabar kalau pendonor panti ketika itu tidak meninggalkan namanya, jadi ia pun tidak tahu sama sekali mengenai si pendonor yang baik hati itu.

Tapi, Lin Xue tidak menyerah begitu saja, dia meminta bantuan teman-temannya dan mencari sendiri serta mencarinya melalui internet.

Selama 6 tahun pencariannya itu, Lin Xue pun telah berumah tangga.

Dan mungkin berkat campur tangan Tuhan, akhirnya pada suatu hari, Lin Xue yang tak pernah putus asa ini pun berhasil menemukan sosok budiman itu.

Ternyata penyumbang itu seorang perempuan bernama Zhang Lian-ying, seorang pengusaha.

Ketika itu, entah dari mana ia tahu mengenai panti asuhan itu, lalu ia melihat-liha sejenak panti tersebut.

Memang sangat memperihatinkan. Fasilitas yang sederhana pun bahkan tidak ada, kemudian ia pun mendiskusikan bersama suaminya mengenai donasi untuk panti tersebut.

Kemudian menitipkan sumbangan anonim itu pada seseorang, karena ia tak berniat mendapatkan balasan budi apa pun.

Hari itu, sambil membawa sekeranjang buah-buahan, Lin Xue mengunjungi sang dermawan.

Berdasarkan alamat yang didapatnya, tak lama kemudian Lin Xue menemukan tempat tinggal si dermawan.

Tempat tinggal si dermawan yang dikunjunginya itu adalah sebuah rumah tua.

Lin Xue mengetuk pintu beberapa kali, tak lama kemudian terdengar “derit” pintu yang terbuka.

Tampak seorang wanita tua berdiri di depan pintu sambil batuk beberapa kali dan bertanya, “Nona, ada apa ya?”

Dengan santun Lin Xue berkata, “Nek, nenek Zhang Lian-ying ya?”

“Ya saya sendiri, nona mencariku, ada apa ya?” kata si nenek diiringi suara batuknya.

Melihat kondisi batuk nenek itu cukup hebat, dengan sigap Lin Xue menepuk punggung si nenek, kemudian memapahnya duduk ke kursi.

[2]
ILUSTRASI. (Internet)

Dengan lembut menuturkan, “Nek, apa nenek masih ingat sumbangan nenek untuk panti asuhan itu? Saya adalah salah satu anak panti asuhan itu nek, berkat sumbangan nenek, kami anak-anak panti asuhan ketika itu bisa sekolah, jujur saja, jika tidak ada sumbangan nenek ketika itu, saya juga tidak mungkin punya kehidupan seperti sekarang, jadi saya secara khusus datang untuk mengucapkan terima kasih kepada nenek.”

Dengan nada yang berwibawa nenek Zhang berkata, “Nenek tidak mengharapkan balas budi kalian atas sumbangan nenek ketika itu, kamu pulanglah.”

Melihat muka nenek Zhang yang pucat, dan batuk tiada henti, Lin xue bersikeras membawanya ke rumah sakit.

Dari hasil diagnosis, dokter mengatakan harus secepatnya operasi.

Setelah itu perlu menjalani pengobatan melalui obat-obatan.

Semua proses itu mungkin butuh biaya yang tidak sedikit, Zhang Lian-ying pun segera melambaikan tangannya dan berkata, “Saya sudah tua, dan tidak lama lagi hidup di dunia, untuk apa kamu menyusahkan diri sendiri, saya tidak mau operasi, kamu antar saya pulang saja. Suami dan anak-anak saya juga telah pergi secara silih berganti meninggalkan saya, sementara menantuku yang tega telah lari sambil membawa uang keluarga. Sekarang nenek tinggal sendiri di dunia ini juga tidak ada artinya lagi, dan inilah saatnya untuk berkumpul kembali bersama suami dan anak nenek di sana.”

Lin Xue mencengkeram erat tangan nenek Zhang, dan berkata, “Nenek kan masih ada aku, aku adalah cucu nenek, dan aku aka berusaha menyembuhkan sakit nenek.”

Hari itu, Lin Xue pulang dan menjelaskan hal itu pada suaminya.

Namun, sang suami tidak bisa memahaminya, menentangnya membantu nenek Zhang.

Dengan nada berat berkata, “Meskipun dia telah mendanai panti asuhan ketika itu, namun anak-anak panti asuhan lain juga diuntungkan, lalu atas dasar apa harus kamu yang mengurusnya, kenapa anak-anak lain yang juga diuntungkan itu tidak mengurusnya?”

Tak pernah terlintas dalam benak Lin Xue, suaminya ternyata sesosok orang yang sangat egois.

Dengan tatapan serius, Lin berkata, “Aku tidak peduli bagaimana dengan pikiran orang lain, aku hanya tahu dan tidak mau bagai kacang lupa kulitnya. Sikapmu benar-benar menyedihkan bagiku, tapi dalam hal ini, aku tidak butuh persetujuanmju.”

Melihat Lin Xue hendak membuka brankas, suaminya langsung menariknya dan berkata, “Ini harta bersama kita, pokoknya aku tidak setuju, jadi jangan harap kamu bisa mengambilnya.”

Melihat sikap suaminya seperti itu, Lin Xue pun naik pitam, dan berteriak, “Aku tidak bisa lagi hidup bersama dengan sosok orang sepertimu, kita cerai saja!”

Tak lama setelah itu, Lin Xue pun cerai dengan suaminya.

Harta yang dibagi untuk Lin Xue kemudian digunakan untuk biaya pengobatan nenek Zhang.

Untung saja, penyakit nenek Zhang berangsur-angsur membaik.

Beberapa bulan kemudian, Lin Xue membawa pulang nenek Zhang ke rumah kontrakannya.

Sejak itu, Lin Xue pun merawat nenek Zhang yang telah dianggapnya sebagai nenek kandungnya.

Ia merawatnya hingga kelak mengantarnya ke peristirahatan terakhir saat nenek Zhang berpulang kepada-Nya. (jhony/rp)

Sumber: Beauties.life

Video Rekomendasi: