Dalam artikel dikatakan, otak manusia dibawah tekanan dapat mengalami keruntuhan total.

Hal itu berasal dari penemuan yang mengejutkan.

Pada tahun 1990-an abad ke 20, dalam perang Teluk pemerintah Israel telah melakukan persiapan yang matang demi melindungi serangan gas beracun dari Irak yang mungkin terjadi.

Warga diminta begitu mendengar sirine, harus mengungsi ke dalam bunker dan memakai masker gas serta disuntik obat penawar racun.

Mulai 19 – 21 Januari, telah terjadi 23 kali penyerangan. Jumlah bahan peledak berkuatan tinggi sebanyak 11.000 kg telah dijatuhkan di kota Tel Aviv yang padat penduduk.

Walau tidak menggunakan senjata kimia, masih terdapat 1.000 orang lebih terluka.

Namun hanya 22% yang terluka langsung dari bahan peledak, sisanya 800 orang terluka oleh “reaksi yang tidak tepat”.

Bencana datang begitu cepat dan dahsyat, sedangkan otak manusia begitu lambat berputar, bahkan dibawah kondisi terbaik pun, sungguh sulit dimengerti.

“Orang-orang itu seringkali hanya menunggu, sampai mereka menyaksikan timbulnya asap, namun ini seringkali berarti terlambat, kesempatan untuk dievakuasi sudah tidak mungkin lagi. Mereka telah terkungkung dalam rumah yang sudah dipenuhi kobaran api besar yang tidak dapat diatasi lagi, atau berusaha meninggalkan tempat dengan memberanikan diri menerjang bahaya bisa terpanggang mati,” ungkap Andrew Gissing, ahli penanganan bahaya darurat dari kantor konsultan Risk Frontiers. 

Mematuhi Kebiasaan Lama

Share

Video Popular