Erabaru.net. Kakekku memiliki tujuh anak, empat laki-laki dan tiga perempuan. Saat masih muda kakek mempunyai sebuah pabrik, dan pabrik itu pun menjadi rebutan ayah,paman dan bibiku, tapi kakek tidak memberinya, karena dia masih sanggup mengurusnya sendiri.

Belakangan, karena usia yang semakin tua, kakek pun menyerahkan pabriknya kepada empat anak laki-lakinya, namun, tiga anak perempuannya tidak rela, tapi tidak ditanggapi.

Ayah mendapatkan bagian paling banyak, jadi kakek tinggal bersama kami.

Mungkin karen ingin hartanya saja, setelah mendapatkan bagiannya , orangtuaku menjadi tidak perhatian lagi pada kakek.

Bahkan terkadang tidak membolehkan kakek makan bersama semeja dengan mereka, aku pun menjadi marah melihat sikap mereka, tapi juga tidak berdaya

Beberapa kali Kakek terjatuh, namun setiap ke rumah sakit, beberapa pamanku juga tidak peduli, tidak menjenguk apalagi keluar uang untuk perawatan, termasuk orangtuaku.

Ilustrasi. (Internet)

Semua kakek sendiri yang membayar dengan uang simpanannya.

Orangtuaku sendiri juga melarangku membuat masakan untuk kakek dari sayur yang mereka beli, hatiku pun merasa pilu jadinya.

Kakek yang sudah tua bahkan tidak dikasih makan, jadi aku selalu menggunakan uang kakek untuk membelikan makan.

Singkat cerita, aku sudah berkeluarga dan tinggal di kota , dan secara diam-diam aku sering memberi pada kakek, supaya kakek bisa membeli apa yang dia sukai.

Dulu, saat aku masih tinggal di rumah, orangtuaku tidak berani keterlaluan terhadap kakek, tapi semenjak aku tidak ada, dimana saat sesekali menjenguk orangtua, terkadang aku mendengar caci maki ibu membentak-bentak kakek dengan kasar.

Aku tahu batin kakek pasti sangat tersiksa, aku pun menceritakan pada istriku yang baik dan sabar.

Mendengar ceritaku, dia pun mengusulkan agar membawa kakek tinggal bersama, kita yang akan merawatnya.

Kakek sangat senang tinggal bersama kami, bahkan ia berteman dengan komunitas orang tua di sekitar tempat tinggalku, kakek tidak lagi merasa tertekan saat tinggal d rumah dulu.

Belakangan kakek lumpuh, tapi kami tetap merawatnya, tidak berani membawanya pulang ke rumah dulu, karena tidak ada orang yang akan merawatnya.

Aku ceritakan pada mereka bahwa kakek sekarang lumpuh, namun, sikap mereka dingin dan hanya menyuruhku merawat kakek .

Menyedihkan, tak pernah sekalipun mereka menelepon apalagi menjenguk kakek.

Bagi mereka yang pernah mengurus orang tua lumpuh pasti tahu betapa susahnya.

Selama lima tahun ini, kami merawat kakek dengan telaten.

Meskipun hidupku tidak kaya, aku tidak boleh menelantarkan orang tua.

 

Lima tahu kami merawat kakek, namun kondisinya semakin buruk dari hari ke hari, hingga akhirnya kakek merasa tidak tahan lagi, lalu ia menarikku ke tempat tidur, dan memberiku kartu ATM.

Kakek bilang masih menyisakan uang untuknya sendiri saat membagi warisannya dulu, sekarang ia memberikan uangnya kepada kami, karena menurut kakek kami telah merawatnya selama ini.

Kakek juga banyak bercerita, dan tak tahan kami pun menangis tersedu mendengar cerita kakek yang memilukan.

Kartu ATM kakek selalu kami simpan, aku terus berpikir jika nanti ada yang bersedia mengadakan upacara pemakaman untuk kakek, maka kartu ATM ini akan aku berikan.

Dan karena kondisi kakek yang semakin memburuk, akhirnya kakek meninggal.

Tapi, tak seorang pun yang bersedia mengadakan upacara pemakaman kakek.

Aku pun bilang pada kedua orangtuaku, bahwa aku juga akan bersikap seperti itu jika mereka tidak mau mengadakan upacara pemakaman untuk kakek.

Mendengar itu, orangtuaku pun mencak-mencak dan memarahiku, hingga akhirnya upacara pemakaman kakek pun selesai.

Baru saja kakek dikuburkan, mereka pun datang menanyakan tentang warisan kakek, tapi aku tidak cerita tentang kartu ATM. Karena kakek mengatakan kepadaku bahwa ia tidak ingin memberi sepeser pun uang pada anak-anaknya yang durhaka.

Sesampainya di rumah, aku pun memeriksa sebentar saldo kakek. Dan tak disangka masih ada sekitar 1 miliar rupiah! Aku tertegun dan mengucurkan keringat dingin…

”Banyak sekali” gumanku.

Tepat pada saat itu, orangtuaku mencariku, mereka bilang pabrik hampir bangkrut, mendengar itu aku pun serba salah, dan bingung apakah harus menceritakan tentang ATM peninggalan kakek atau tidak…

Karena aku ingin usaha yang dirintis kakek tetap bertahan, jadi aku benar-benar bingung, mau mengatakan hal yang sebenarnya pada orangtuaku dan memberikan uang itu atau tidak.(jhn/yant)

Sumber: coco01.net

Share

Video Popular