Bocah laki-laki itu pun mulai minum obat, meski obatnya pahit sekali pun, ia tidak mengeluh sedikit pun.

ILUSTRASI. http://clipground.com/images/ill-clipart-5.jpg

Dia ingin tubuhnya menjadi kuat, dan tidak mau kalah dengan ayahnya.

Beberapa hari kemudian, kondisi fisik ayahnya semakin buruk secara fisik dan mental, sementara kondisi anaknya jauh lebih baik daripada ayahnya.

Dalam kondisi ini, si ibu dan dokter pun memutuskan untuk menyelamatkan anak laki-laki itu.

Singkat cerita operasi itu berjalan lancar. Tubuh anak laki-laki itu pulih dan semakin baik dari hari ke hari, sebaliknya tubuh sang ayah menyusut dari hari ke hari.

Ketika anak itu pulang dari rumah sakit. Sang ayah juga pulang ke rumah.
Anaknya pulang jalan kaki sendiri, sementara sang ayah harus diangkut pulang ke rumah.

ILUSTRASI. http://dougdillon.com/wp-content/uploads/2015/03/Old-man-hospital.jpg

Setelah pulang ke rumah, anak itu mengisi hari-harinya dengan ceria, bercanda dan tertawa gembira.

Sementara ayahnya telah meninggal di suatu pagi. Badan ayahnya ketika itu hanya sisa seonggok tulang belulang.

Terhadap kematian ayahnya, anak itu sama sekali tidak sedih, sementara ibunya sangat sedih.

“Nak, ayahmu telah meninggal, tapi kenapa ya kamu tidak sedih sedikit pun? Ayo bungkukkan badanmu dan beri hormat pada mendiang ayahmu nak!” kata sang ibu.

Bocah itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Dia bukan ayahku! Aku tidak mau beri hormat padanya!”

“Nak, asal tahu saja, faktanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Sebenarnya sejak awal, ayahmu telah melepaskan pengobatannya, dialah yang menyuruh ibu untuk menyelamatkanmu,” tutur ibunya.

Ibunya melanjutkan ceritanya. Menurutnya ayahnya khawatir karena menyelamatkan anakanya dan mencampakannya, akan membuat sang anak merasa bersalah seumur hidup.

“Jadi ayahmu sengaja mengucapkan kata-kata yang egois, meskipun itu mungkin akan menyakiti perasaanmu, tapi itu bisa membangkitkan semangatmu untuk berlomba dengannya, dan membangkitkan tekatmu untuk bertahan hidup. Sebenarnya, selama dalam perawatan, ayahmu tidak minum obatnya, tapi semuanya disisakan untukmu. Jika bukan demi kamu, mungkin sekarang ayahmu masih hidup!” katanya.

Si bocah yang mendegar cerita ibunya itu pun seketika meneteskan air mata, kemudian berjalan ke depan peti mati sang ayah.

ILUSTRASI. http://ak2.picdn.net/shutterstock/videos/1795136/thumb/1.jpg

Ia berlutut memberi hormat kepada ayahnya. Ketahuilah, di dalam peti jenazah itu, berbaring abadi sesosok ayah yang hebat. (jhony/rp)

Sumber: Wechatpress

Share
Tag: Kategori: Uncategorized

Video Popular