Erabaru.net. Bagi kita, bisa duduk santai sambil menikmati citarasa makanan yang harum semerbak bukanlah hal yang sulit, namun, bagi sejumlah besar keluarga miskin, untuk bisa sekadar menikmati makanan yang sederhana saja sulitnya bukan main.

Bahkan ada keluarga yang setiap hari mencemaskan bagaimana dengan menu makan siang atau sore/malam nanti, dan ini sangat ironis bila dibandingkan dengan banyaknya perilaku orang-orang yang semaunya membuang-buang makanan.

Pernah mendengar istilah “Pagpag”? Istilah ini diterjemahkan sebagai “Makanan Sampah” atau “ Ayam Sampah”, adalah sumber makanan di kawasan kumuh Tondo, Utara Manila, Phiilipina.

Sekadar diketahui, makanan-makanan ini sebenarnya berasal sampah makanan dari kota lain.

Data survei terbaru di Phipilina menunjukkan, bahwa jumlah keluarga miskin di Philipina mencapai 4,8 juta keluarga, atau 23,8% dari total populasi negara ini.

Daerah Tondo merupakan kawasan kumuh yang sangat terkenal di Philipina

Warga di sini sangat miskin, sama sekali tidak memiliki uang lebih untuk membeli makanan segar, jadi mereka mengandalkan sampah makanan yang diangkut dari kota untuk sekadar bertahan hidup.

Sampah-sampah makanan ini juga tidak gratis, karena permintaannya banyak, sehingga harus merogoh kocek dulu baru bisa mendapatkannya !

“Pagpag” disebut sebagai “Ayam Sampah”, karena makanan ini adalah sisa makanan dari restoran fast food, dan karena dari sisa-sisa ayam inilah baru bisa mendapatkan isi daging ayam lebih.

Setiap pagi ketika truk sampah yang mengangkut kantong demi kantong sampah ke sini, orang-orang yang menjual “Pagpag”pun kemudian mengais sampah-sampah busuk yang menusuk hidung ini, dan mengumpulkan sisa daging yang belum membusuk dan masih bisa dimakan.

Bagaimana cara membedakan daging-daging yang menurut mereka masih bisa dimakan ini?

Kebanyakan orang akan mencium dulu aromanya, kemudian mencicipinya, dan setelah daging-daging ini dibawa pulang, para pedagang akan membagi menjadi dua jenis daging kemasan.

Daging yang isi lebih banyak dijual seharaga 30 peso atau sekitar Rp. 7.800,- per kantong, sementara isi daging sedikit dijual seharga 20 Peso atau sekitar Rp.5.200,- per kantong.

Karena harganya jauh lebih murah dibanding dengan daging ayam segar, jadi penjualan“Pagpag” di kawasan kumuh Tondo ini selalu laris manis.

Meski para keluarga miskin yang membeli “Pagpag”ini punya cara mengolah makanannya masing-masing, namun sebagian besar hanya dicuci biasa dengan air.

Diracik dengan bumbu beraroma tajam, seperti lada, cabai, saus tomat dan campuran bahan lainnya kemudian diolah sesuai selera masing-masing, dan “pagpag” ini pun siap dihidangkan untuk makan siang dan malam sekeluarga.

Mereka umumnya berpendapat, bakteri-bakteri dari sampah makanan ini bisa dihilangkan selama memasaknya dengan suhu tinggi.

Hal ini tentu saja menjadi masalah kesehatan jika menyantap makanan-makanan seperti ini, sehingga kerap ditemui penduduk di daerah kumuh ini mengalami gejala sakit perut, mual-mual dan muntah.

Meskipun tahu akan menyebabkan masalah kesehatan, dan pemerintah setempat juga telah berulang kali menyatakan bahwa sampah-sampah makanan ini dapat menyebabkan hepatitis A dan penyakit serius lainnya, tapi bagi penduduk miskin di daerah kumuh ini, tidak ada pilihan lain, karena inilah satu-satunya makanan terjangkau mereka.

Dengan menyaksikan film dokumenter ini, kita bisa instrospeksi diri dengan melihat orang lain, dan seyogianya semakin sadar akan pentingnya menghargai makanan ! jhn/yant)

https://www.youtube.com/watch?v=AtKkvjz7lCM&feature=youtu.be

Sumber: coco01.net

Share

Video Popular