Erabaru.net. Semasa kanak-kanak ada satu cerita seperti ini : Ada tiga ayah yang sering ke kuil memanjatkan do’a untuk anaknya , karena seringnya berdo’a di kuil ini, lambat laun akhirnya menggugah Bodhisattva. Suatu hari mereka diundang oleh Bodhisattva, mengizinkan mereka memilih salah satu di antara sekian banyak pusaka, untuk diberikan kepada anaknya.

Ayah pertama memilih sebuah mangkuk perak bertatahkan batu mulia,

Ayah kedua memilih sebuah kereta kuda berlapiskan emas,

Ayah ketiga memilih sebuah busur dan anak panah dari besi.

Anak yang mendapatkan mangkuk perak itu suka makan dan minum setiap hari (berpuas diri-kerjanya hanya makan/minum).

Anak yang mendapatkan kereta kuda berlapiskan emas suka pamer di pasar.

Anak yang mendapatkan busur dan anak panah berburu sepanjang hari di hutan.

Bertahun-tahun kemudian, ketiga ayah dari anak-anak itu pun meninggal.

Anak yang suka makan dan minum, kemudian mengambil manik-manik permata yang melekat di mangkuknya dan dijual, sampai pada akhirnya mengemis dengan mangkuknya ;

Sedangkan anak yang suka pamer setiap hari mengerik emasnya, kemudian ditukar dengan makanan dan melewati hari-harinya dengan susah payah ;

Sementara, anak yang belajar berburu itu sudah menguasai ketrampilan berburu, dan sering membawa pulang hasil buruannya, dan mampu memenuhi sandang pangan sekeluarga.

Makna dari cerita rakyat ini sangat sederhana, tapi mendalam : Sebagai orangtua, jika kita hanya mewariskan sejumlah harta benda untuk konsumsi itu tidak dapat diandalkan ; Hanya dengan mewariskan beberapa kekayan (keterampilan hidup) produktif dan kreatif, ini barulah tanggung jawab orangtua yang sesunggguhnya kepada mereka.

Kalau begitu, Warisan apa yang bisa kita turunkan kepada anak-anak agar bisa menjamin kehidupan yang sehat-bahagia untuk mereka ?

Ilustrasi. (internet)

Warisan pertama : Punya rencana kerja

Mereka yang bekerja dengan perencanaan baru bisa memenangkan/memdapatkan kepercayaan, dengan kerja yang terencana baru tidak akan kalang kabut saat kerja, karena sebelumnya telah direncanakan.

Ada anak-anak yang seketika kalang kabut setiap menjelang ujian, pikirannya menerawang kemana-mana saat mengerjakan PR, kerap tergesa-gesa atau mencari-cari kaus kaki atau semacamnya setiap bangun pagi, uang saku langsung ludes tak tersisa sebelum akhir minggu/bulan.

Ketika anak-anaka punya kebiasaan-kebiasaan buruk ini, selaku orangtua harus mengajarinya tentang pentingnya perencanaan tersebut.

Coba minta anak-anak mengatur sejenak jadwal keesokannya menjelang tidur, minta dia menyalinnya dan tempelkan di dinding untuk memudahkan pelaksanaannya.

Apabila berhasil mengembangkan kebiasaan baik ini, dipastikan si anak akan memetik manfaatnya seumur hidup!Ingat, kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk itu dimulai sejak usia dini,.

Ilustrasi. (internet)

Warisan kedua : Katakan benar jika benar, begitu juga sebaliknya, dan bersikap baik pada semua orang dan murah senyum

Mereka yang memperlakukan orang lain dengan hangat (tersenyum), selalu tulus dan ramah, murah hati dan lapang dada, dipastikan akan selalu disambut dengan ramah dimana pun, kecuali orang yang sirik dan tidak senang.

sebagai orangtua yang bijak, seyogianya mengajar anak-anak tentang etika sopan santun, seperti misalnya dalam kehidupan sehari-hari, selalu tak lupa untuk menyapa.. “halo/hai”, “terima kasih”, “maaf”, saat minta bantuan orang lain jangan lupa selalu kedepankan kata-kata.. “maaf, bisa tolong bantu sebentar?” dan selalu peduli pada orang lain…

Dengan dipupuknya kebiasaan ini, yakin lambat laun si anak akan mendapatkan kekayaan hidup yang lebih bermakna.

Ilustrasi. (internet)

Warisan ketiga : Kerjakan sendiri masalah pribadi

Banyak orangtua takut masalahnya akan menjadi berantakan kalau dikerjakan anak-anak, tapi sesuatu yang baru pertama kali dikerjakan pasti tidak sesempurna yang dibayangkan, bukan ?

Beri dia kesempatan untuk mencobanya, perlahan-lahan, akan Anda temukan kemampuan si anak di luar bayangan Anda! Coba biarkan si anak kembangkan kebisaan baik menyelesaikan pekerjaannya sendiri

Ilustrasi. (internet)

Warisan keempat : Tidak boleh mengambil barang milik orang lain

Bantu anak membangun kesadaran atas hak milik, membedakan batas diri dan orang lain.

Beritahu anak : “Barang milik sendiri boleh sebebasnya dipakai, tapi jangan mengambil barang milik orang lain. Jika ingin mengambil barang orang lain, harus ninta izin dulu, jangan ambil secara diam-diam, juga tidak boleh rampas secara terang-terangan.”

Ada anak yang secara diam-diam mengambil uang orang dewasa untuk membeli barang keperluannya, dan apabila melihat mainan siswa lain, kemungkinan anak itu akan “sekalian” mengambilnya dan dibawa pulang, apa jadinya jika ini sudah menjadi kebiasaan buruk hingga dewasa.

Ini adalah akibat dari tindakan si anak yang tidak memiliki kesadaran tentang hak milik. Dan sebagai orangtua harus membantu anak-anak memikul tanggung jawab.

Saat si anak suka mengambil barang milik orang lain, jangan serta merta menyimpulkan anak itu pencuri, tapi bantu dia untuk membedakannya dulu.

Barang itu milik pribadi atau publik. Jika barang milik pribadi, jangan sembarangan mengambilnya ; terhadap barang publik, dari mana barang itu diambil, letakkan kembali ke tempatnya semula, siapa yang pertama mendapatkannya, dia dulu yang pakai, sementara yang belakangan harus belajar sabar menunggu.

Ilustrasi. (internet)

Warisan kelima : Taati waktu yang telah ditentukan

Atur rutinitas sehari-hari yang sesuai, istirahat yang teratur dapat meningkatkan kedisiplinan anak, bangun konsep tentang waktu untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan sesuatu.

Namun bukan hal yang mudah menyuruh anak belajar mematuhi waktu.

Orangtua bisa memberikan teladan sambil mencoba menyerahkan kendalinya pada si anak : beri toleransi 10 menit saat menontont TV kemudian matikan pesawat TV untuk mengerjakan PR, harus bangun begitu toleransi selama 20 menit waktu tidur berakhir.

Perlahan tapi pasti, si anak pun tidak akan mencari-cari alasan lagi untuk bermalas-malasan.

Ilustrasi. (internet)

Warisan keenam : Tetap rendah hati dan sederhana

Belajar menemukan kelebihan orang lain, kemudian belajarlah dari mereka.

Katakan pada anak, “Setiap orang memiliki titik nyalanya sendiri (kelebihan), kita harus memikirkan titik nyala/kelebihan orang lain, apakah kita sendiri juga bisa seperti itu ?”

Pada poin ini, penting sekali untuk menjaga sikap rendah hati.

Ada seorang anak yang tidak berani mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan, sementara teman semejanya berani berbicara, sehingga sering mendapat pujian dari guru.

Anak itu kemudian mendengarkan kata-kata ibunya untuk minta petunjuk atau belajar “rahasianya”pada teman semejanya, dan dengan rendah hati temannya mengatakan : “tidak apa-apa kalau salah jawab, guru juga tidak akan menyalahkan kita.

Dan kata-kata inilah kemudian membuka hati/keberanian si anak, lalu perlahan-lahan, Anak ini pun mengikuti teman semejanya secara aktif menjawab pertanyaan guru, dan karena keberanian ini jugalah, performa si anak pun membaik, keperibadiarnnya juga lebih ceria.

Ilustrasi. (internet)

Warisan ketujuh : Introspeksi diri dalam kesalahan

Anak-anak melakukan sesuatu yang salah dalam kesehariannya, atau melakukan kesalahan dalam belajar itu adalah hal yang biasa.

Tapi yang terpenting adalah, bagaimana tidak lagi melakukan kesalahan yang sama, inilah yang perlu diintrospeksi oleh anak bersangkutan, dan mengoreksinya.

Sebagai orang tua, harus kita camkan baik-baik : Daripada mewariskan harta segunung, lebih baik membantu anak mengembangkan kebiasaan baik sejak kanak-kanak.

Satu kebiasaan baik, akan membangkitkan kepercayaan diri si anak ; Dengan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik, maka kesempatan sukses si anak di kemudian hari akan lebih terbuka ; dan dengan tertanamnya kebiasaan baik, si anak akan lebih memiliki kemampuan untuk menikmati kehidupan yang cemerlang.(jhn/yant)

Sumber: wechatpress

 

Share
Tag: Kategori: KELUARGA PARENTING

Video Popular