Erabaru.net. Mulai pagi hari sebuah gerobak yang ditarik dengan sepeda motor sudah mulai menelusuri satu dusun ke dusun lainnya. Ini adalah pemandangan biasa di Desa Anak Setata, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Si pengemudi motor gerobak itu tak lain adalah Syafrizal.  Setiap hari dia melakukan ini untuk menjemput anak-anak sekolah. Mereka yang dijemput tak lain adalah anak didiknya sendiri di Sekolah Luar Biasa (SLB) Sekar Meranti di desa itu.

Gerobak yang ditarik oleh motor ini harus melaju di tengah jalanan desa yang berdebu dan beralaskan tanah. Tak bisa dibayangkan betapa susahnya ketika jalanan ini dilalui saat diguyur hujan deras.

Ternyata Syafrizal bukan seperti sosok di kota-kota yakni orang yang berprofesi sebagai supir untuk kenderaan antar jemput anak sekolah. Dia adalah Kepala Sekolah dan sekaligus Ketua Yayasan tempat anak-anak itu belajar.

Syafrizal memilih melakukan menjemput anak didiknya, dikarenakan tak dimungkinkan anak-anak itu datang ke sekolah dikarenakan kesibukan orangtua mereka masing-masing.

Apalagi para orangtua anak-anak penyandang disabilitas ini harus ke ladang atau ke laut untuk menangkap ikan demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari.

Apa yang dilakukan oleh Syafrizal tak hanya sekedar menjemput para anak didiknya untuk duduk di bangku sekolah. Bahkan para murid-murid ini juga diantar ke rumah mereka masing-masing saat usai jam pelajaran sekolah.

Tak sepersen pun uang yang harus dikeluarkan oleh para orangtua sebagai ongkos antar jemput siswa ke sekolah. Bahkan syafrizal yang hanya bergaji Rp 97.000 harus merogoh uang dari koceknya sendiri untuk membeli BBM sepeda motor si penarik gerobak.

Bertindak sebagai penarik gerobak dengan sepeda motor merupakan pekerjaan yang tak tergantikan di sekolah ini. Alasannya, guru-guru di SLB ini mulai SD, SMP, SMA semuanya terdiri 5 guru-guru perempuan.

SLB Sekar Meranti merupakan sekolah yang didirikan oleh Rudi Hartono sebagai pedagang ikan keliling di desa itu. Sedang Syafrizal adalah adik kandungnya sendiri. Mereka berdua bertekad mengelola yayasan ini.

Bagi Syafrizal kegiatan yang dilakukan setiap hari merupakan tanpa pamrih. Harapannya hanya satu yakni bagaimana anak-anak tersebut tetap bisa belajar dan duduk di bangku sekolah.

“Terpenting mereka bisa sekolah,” harapnya. (asr)

Sumber : Tribun Pekanbaru

Share

Video Popular