Erabaru.net. Liu Mei (29 tahun), dan suaminya adalah petani, Liu Mei punya seorang anak laki-laki bernama Lin Hua. Liu Mei dan suaminya sangat menyayangi putra mereka. Suami istri ini tidak ingin anaknya nantinya hidup di desa selamanya. Karena itu mereka berharap anaknya bisa kuliah, dan punya pekerjaan yang bagus, dan menikah dengan wanita yang baik di kota.

Supaya putranya bisa sekolah dan belajar di lingkunganyang baik, suami istri ini pun mencari berbagai pekerjaan, agar bisa mengumpulkan lebih banyak uang, mereka bekerja apa saja.

Meski melelahkan, tapi kedua pasangan ini seketika merasa terhibur begitu mengingat anak kesayangannya. Untungnya, performa Lin Hua juga sangat memuaskan di sekolah, sehingga mereka pun sangat terhibur.

Singkat cerita, sekarang Li Hua berusia 25 tahun, dan memiliki pekerjaan dengan pendapatan yang lumayan memuaskan sejak lulus dari kuliahnya 3 tahun yang lalu.

Selama kerja, Lin Hua juga menjalin hubungan dengan seorang teman wanita dan hubungan keduanya juga sangat baik, hingga akhirnya menjalin hubungan lebih serius.

Setelah lebih dari satu tahun pacaran, keduanya pun merajutnya dalam ikatan pernikahan, dan segala sesuatu yang berhubugan dengan pernikahan sepenuhnya ditanggung oleh Lin Hua sendiri.

Pada hari pernikahan itu, orangtua Lin Hua yang di desa bergegas ke kota menghadiri pernikahan anaknya

Lin Hua juga juga meminta orangtuanya untuk tinggal bersamanya di rumah yang baru dibelinya, namun, istri Lin Hua tampaknya tidak senang dengan maksud Lin Hua, suaminya.

Akhirnya orangtua Lin Hua pun pulang ke rumah tuanya di kampung setelah setengah bulan tinggal di rumah anaknya.

Pernikahan mereka sudah berjalan sekitar 11 tahun, dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang kini berusia sekitar 9 tahun.

Saat hari raya, Lin Hua dan Lu Yan, istrinya selalu mengajak anaknya menjenguk orangtuanya di desa. Lin Hua juga selalu meminta kedua orangtuanya untuk tinggal di kota, tapi ditolak orangtuanya dengan alasan tidak terbiasa tinggal di kota.

Kedua orangtua Lin Hua tampaknya sangat menyayangi cucunya, sehingga setiap menjenguk orangtuanya, Lin Hua dan putranya selalu menginap beberapa hari di desa, sementara isterinya paling lama 2 hari sudah tidak betah dan buru-buru pulang ke kota.

Saat ingat cucunya beberapa hari lagi genap 9 tahun, kebetulan pas akhir pekan, ibu Lin Hua menyembelih satu ayam kampung piaraannya, keesokan paginya ia pun membuat sup ayam kampung untuk cucunya di kota.

Ibu Lin Hua sengaja memilih jadwal kereta yang paling pagi, mengantar serantang penuh sup ayam untuk cucunya. Meski nanti cucunya makan tidak banyak, tapi ia sudah puas bisa melihat cucunya.

Setelah menyiapkan sup ayamnya, ibu Lin Hua pun berangkat ke kota, dalam perjalanan sekitar 3 jam menuju ke kota itu, ibu Lin tampak diserang kantuk berat, mungkin karena bangun terlalu pagi dan masih lelah

Namun, ibu Lin Hua tampak menyunggingkan senyum bahagia begitu membayangkan cucu kesayanganya dan ia juga sudah merasa puas bila cucunya bisa mencicipi sup ayam yang khusus dibuat untuk cucunya itu meski hanya sesuap.

Setelah 3 jam perjalanan yang cukup melelahkannya, akhirnya kereta itu pun tiba di stasiun kota, tapi tampaknya cuaca tidak bersahabat, karena tiba-tiba saja turun hujan lebat.

Hal itu tidak menghalangi niat ibu Lin Hua, ia membuka payungnya sambil mendekap rantang sup ayam dan menuju ke rumah anaknya.

Karena hujan, meski ibu Lin Hua menggunakan paying, badannya tetap saja basah sebagian, kakinya juga tampak kotor, namun, sup ayamnya tetap terjaga dengan baik.

Ibu Lin Hua mengetuk pintu, tak lama kemudian tampak istri Lin Hua atau menantu perempuannya, dan ketika hendak masuk ke dalam, terdengar ocehan menantunya, ”nenek udik tetap saja udik, pakaian basah kuyup begini, kaki juga kotornya bukan main, kalau mau masuk, bersihkan dulu badannya baru masuk.”

Ibu Lin Hua terkejut seketika mendengar ucapan menantunya, ia sadar menantunya ini memang tidak begitu suka dengannya.

Ia sudah nekat menerobos hujan lebat agar bisa secepatnya mengantar rantang sup ayam untuk sang cucu, namun sesampainya di rumah malah dilarang masuk dengan alasan basah dan kotor

“Kenapa sampai segitunya, apa karena nenek udik memang pantas dihina ? Bukankah kamu juga orang desa, hidup sedikit nyaman saja sudah begitu sombomg, dan perlukah bersikap seperti itu pada seorang nenek sepertiku ?” Guman Ibu Lin.

Di saat mertuanya merasa serba salah, Lin Hua, berjalan keluar dan langsung menampar Lu Yan, istrinya.

“Beberapa tahun terakhir ini kamu semakin tidak tahu diri, tidak masalah kalau memang tidak sudi berbakti pada ibuku, sekarang anak sudah besar, tapi kenapa kamu melarang ibuku masuk, apalagi sekarang ibuku dalam keadaan basah kuyup, apa maksudmu bersikap kasar seperti itu pada ibuku ?” kata Lin Hua dengan marahnya.

Tepat pada saat itu, putra Lin Hua yang berusia 9 tahun keluar dari kamarnya, dan memapah neneknya masuk ke dalam, dan menuangkan segelas air hangat untuk neneknya.

Ilustrasi. (Internet)

Anak itu berkata pada dirinya sendiri, “guruku sering mengajari kami harus menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, memberikan tempat duduk untuk orang tua saat di bis yang penuh sesak, harus merawat dan menjaga orangtua, guru bilang semua ini memang sudah seharusnya kita lakukan, selain itu guru juga mengajarkan kepada kami bahwa bagaimana sikap dan perlakuan kita terhadap orang lain, maka kita juga akan diperlakukan seperti itu di kemudian hari, jadi pasti tidak ada salahnya berbuat dan bersikap baik pada siapa pun.”

Setelah masuk ke dalam, sang nenek memanggil cucunya ke meja makan, lalu mengambil sup ayamnya, dan memanaskannya sebentar sambil berkata, “ini sup ayam kampung yang nenek masak tadi pagi, nenek tahu kamu ulang tahun hari ini, tapi nenek tidak punya kado spesial untuk kamu, jadi nenek hanya memasak sup ayam untuk cucu nenek.”

Cucunya tampak asyik menikmati sup ayam buatan neneknya, sementara di sisi lain, Lu Yan, istrinya Lin Hua tiba-tiba berubah drastis, seakan-akan bukan dirinya, dan tiba-tiba berkata, bu mari ikut saya ganti pakaiannya, setelah itu, kita jemput ayah tingal bersama di sini.

“Saya mina maaf, beberapa tahun ini, selalu bersikap kasar dan kurang ajar pada ibu dan ayah, tidak bersikap layaknya menantu yang baik, saya harap ibu memberi kesempatan pada saya agar bisa turut berbakti pada ibu dan ayah, ya bu?”

Ibu Lin Hua hanya diam membisu, lalu berjalan ke kamar mandi.

Di meja makan, cucu si nenek tampak menikmati sup buatan neneknya, saat itu Lin Hua bertanya pada Lu Yan, istrinya, “otak kamu masih sehat kan, kog tiba-tiba berubah drastis.”

Mendengar sindiran Lin Hua, suaminya, Lu Yan pun dengan lembut berkata : “Tadi aku sempat mendengar kata-kata anak kita, tiba-tiba saja aku tersadar mendengarnya, entah kenapa sikapku dulu begitu kasar, sekarang aku mau mengubah semuanya.

Lalu, Lu Yan berkata pada suaminya, “tolong jangan cerita pada orang lain ya kalau dulunya aku keras kepala dan kurang ajar sama mertua, termasuk saudara-saudara dan teman-temanku, sekali lagi tolong jaga rahasianya ya, karena aku benar-benar merasa sangat malu, jaga ya rahasianya, jangan pernah cerita pada siapa pun !”

Lin Hua tersenyum lucu, tidak mengatakan apa-apa, lalu keluar dari kamar tidur menikmati sup ayam kampung buatan ibunya !(jhn/yant)

Sumber: twgreatdaily.com

Share

Video Popular