Erabaru.net. Aku dan suamiku adalah teman sekampus.

Setelah lulus kuliah aku ikut suamiku ke kota.

Di sana aku mendapatkan pekerjaan yang lumayan baik.

ILUSTRASI. (ak5.picdn.net)

Suamiku dari daerah pedesaan, dia anak tunggal.

Menurut ceritanya, fisik ibunya tidak begitu baik.

Beberapa tahun kemudian ibunya pun meninggal.

Saat menikah, ibu mertua memang sudah tidak ada, dan tinggal ayah mertua.

Belakangan ayah mertua hidup sendirian di rumah.

Kemudian, aku pun berdiskusi dengan suami, menjemput ayah mertua tinggal bersama kami, karena kasihan juga melihatnya tinggal sendirian di desa.

Rumah yang kami tempati sekitar 140 meter persegi, cukup besar.Kami juga bisa lebih mudah merawatnya kalau ayah mertua tinggal bersama kami.

Suami langsung memelukku bahagia, karena dia juga punya maksud yang sama denganku.

Awalnya ayah mertua merasa kurang nyaman tinggal bersama kami, mungkin memang begitulah kalau orang tua tinggal di rumah berlantai.

Aku menyiapkan sebuah kamar untuknya, meski tidak begitu besar, tapi cukuplah untuk satu orang.

Di dalam ada sebuah ranjang lengkap dengan dua laci di sisinya, dan satu lemari pakaian.

Kurang lebih tiga bulan kemudian, ayah mertua selalu menyembunyikan dirinya di kamar dan jarang keluar.

Juga tidak begitu suka jalan-jalan keluar meski di sekitar rumah.

Ia selalu langsung menuju ke kamarnya begitu pulang ke rumah, dan baru keluar saat makan.

ILUSTRASI. (alluringview.com)

Selain itu, ayah mertua juga selalu mengunci pintu kamarnya dan melarang kami masuk, selain itu juga jarang mau bicara.

Setelah satu bulan, suatu hari ayah mertua tiba-tiba saja menambah kunci lagi untuk kamarnya.

Melihat itu aku pun merasa agak aneh, sebenarnya apa yang disembunyikan ayah mertua di kamarnya, sampai-sampai harus menambah kunci sendiri.

Malamnya, aku pun menceritakan hal itu pada suami.

Awalnya ia terkejut juga mendengarnya, dan setelah beberapa kali ditanyakan pada ayah mertua, ia juga tidak banyak bicara.

Ia hanya memberitahu kami agar jangan mencampuri urusannya.

Sejak itu, kami pun telah terbiasa dengan prilaku aneh ayah mertua seperti itu, yang penting ia sehat-sehat saja, cukuplah.

ILUSTRASI. (dom.interinvest.su)

Begitulah selama 3 tahun, ayah mertua selalu seperti itu.

Suatu hari, ayah mertua jatuh sakit keras, terbaring lemah di ranjang.

Kami memanggilnya tapi ia tak mau keluar, sampai-sampai kami menjadi panik.

“Jangan sampai terjadi sesuatu yang tak diharapkan,” gumam kami dalam hati.

Karena panik, suamiku pun langsung mendobrak pintu kamar ayah mertua.

Kami tercengang melihat ayah mertua berbaring tenang di atas ranjang sambil mendekap di dada potret mendiang isterinya atau ibu mertuaku alamarhumah.

Di depan ranjangnya juga terdapat selembar potret mendiang isterinya.

Sementara di atas sebuah meja terdapat beberapa lembar surat yang dipenuhi dengan huruf demi huruf yang berjejel di atas kertas surat itu.

Saat itulah kami baru tahu ternyata selama ini ayah mertua selalu menulis surat untuk mendiang isterinya di ujung dunia sana, sebagai wujud titipan rindunya.

Pada saat itu, mata kami sudah berkaca-kaca dan tak kuasa menahan tetesan air mata yang berlinang membasahi wajah kami.

Ternyata inilah sebabnya ayah mertua melarang kami masuk  ke kamarnya.

Tak disangka aku dan suamiku telah mengabaikan kebutuhan rohaninya selama ini.

Melihat ayah mertua yang tak mampu berdiri lagi, dan dengan linangan air mata yang terus mengalir, kami pun memeluknya erat sambil terisak. (jhony/rp)

Sumber: coco01.net

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular