Erabaru.net. Tim peneliti melakukan perjalanan ke pedalaman Amazon dan menemukan spesies monyet yang belum pernah terlihat dalam 80 tahun terakhir.

Pakar monyet saki (jenis monyet yang hidup di hutan Amerika Selatan), Laura Marsh, sebelumnya terus mencari sesuatu yang bisa membawanya ke monyet ‘Vanzolini’ saki yang langka.

Dia telah mempelajari monyet saki selama 10 tahun. Pada 2014, dia sudah mengidentifikasi lima spesies monyet saki baru, namun spesies Vanzolini masih tetap sulit ia pahami.

Marsh bersama tim ahli primatologi, fotografer, operator pesawat tak berawak, konservasionis, dan pemandu lokal berangkat untuk menemukan Vanzolini saki yang berwajah botak.

Mereka berangkat ke sebuah rumah kecil berlantai dua di Sungai Eiru, dekat perbatasan antara Brasil dan Peru, seperti dilansir oleh National Geographic.

Misi utama tim itu selain menemukan monyet tersebut, juga untuk meneliti keanekaragaman hayati wilayah Amazon yang hingga kini masih sedikit dieksplorasi itu. Mereka berencana menghabiskan empat bulan di sana.

Marsh pertama kali melihat monyet itu setelah menjalani empat hari perjalanannya, dan dia pun langsung menangis terharu. “Luar biasa,” katanya pada National Geographic. “Saya gemetar dan sangat gembira sehingga saya hampir tidak bisa memotret.”

Vanzolini saki pertama kali terlihat pada 1936 oleh naturalis Ekuador, Alfonso Ollala. Itu juga penampakan terakhir monyet itu dalam kondisi hidup-hidup.

Vanzolini saki merupakan monyet yang unik karena ekor mereka panjang dan lebat, tidak berbulu tipis seperti monyet lainnya.

Lengan dan kaki mereka ditutupi bulu emas. Mereka menggunakan tangan dan kaki mereka untuk berkeliling di pohon dengan cara yang menyerupai kucing.

Meskipun monyet itu memiliki penampilan yang unik, para ilmuwan masih perlu menentukan keanehan genetiknya, karena sekarang monyet itu telah terlihat lagi.

Marsh akhirnya harus menentukan label yang tepat untuk status populasi monyet itu bagi Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

Menurut National Geographic dia kemungkinan akan memilih “terancam”, tapi pertama-tama ia harus menganalisa seberapa aktif spesies tersebut diburu.

Primata besar memang kerap kali dimakan oleh penduduk setempat. Habitat hutan hujan tropis mereka pun seringkali tergusur oleh pembangunan, pertanian, atau peternakan.

“Jika hanya bertahan pada tingkat dampak sekarang, hal ini tidak ideal untuk konservasi populasi Vanzolini, yang pada akhirnya jutsru akan membunuh seluruh spesies karena manusia hanya dapat menangkapi mereka semua,” kata Marsh, dalam sebuah artikel Mongabay.

Marsh mengamati bahwa berburu, bahkan di daerah terpencil yang liar ini, adalah sebuah masalah besar.

“Saya belum pernah melihat orangorang secara terus-menerus menggunakan senjata api,” kata Marsh. “Memancing dan berburu masih dilakukan di setiap sudut kecil. Burung-burung besar jarang ditemukan. Burung hutan telah lenyap … Seluruh Amazon masih tetap tidak homogen. Sudut-sudut kecil kita masih terus memiliki hewan dan spesies baru.”

Amazon adalah prioritas utama bagi para konservasionis, karena mengandung 10 persen keanekaragaman hayati dunia.

Tapi saat populasi bergeser dan kota-kota Amazon tumbuh, melindungi kawasan ini menjadi lebih menantang. Pembatasan pembalakan juga kian sulit dilakukan. (osc/yant)

Sumber: ntd.tv

Share

Video Popular