Erabaru.net. Baru-baru ini seorang netizen menceritakan kisah yang sangat mengharukan, tentang uang pensiun ayah mertuanya yang digunakan untuk membantu orang lain. Setelah kematian sang ayah, mereka pun meneruskan keinginannya, terus mendonasikan uang untuk membantu siswa miskin di desa.

Netizen tersebut menceritakan, menurut cerita teman-teman suaminya, bahwa suaminya itu adalah seorang pemuda desa, ibunya sudah tiada sejak ia masih belia, ia dibesarkan ayahnya seorang diri sejak kecil.

Sebagai seorang guru di desa, gaji ayahnya saat itu sangat kecil, sehingga keluarganya sangat miskin secara ekonomi, sementara biaya kuliahnya didapat dari hasil pinjaman kerabat dan teman-teman.

Suami netizen tersebut setelah lulus kemudian kerja di kota, dan saat menikah juga dengan biaya sendiri, setelah mengumpulkan cukup uang ia mengangsur sebuah rumah di kota.

Ditambah dengan gajinya yang lumayan tinggi, sehingga hidupnya pun termasuk nyaman.

Tiga tahun kemudian, ayahnya yang di desa itu pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang guru.

Mereka berencana menjemput sang ayah tinggal bersama di kota, namun sang ayah bersikeras tidak mau tinggal di kota dengan alasan tidak terbiasa, dan lebih suka dengan suasana desa.

Tetapi sang ayah punya satu permintaan, minta dikirimi uang sebesar 600 yuan (sekitar 1.1 juta rupiah) setiap bulan.

Netizen itu heran lalu mencoba menghitung-hitung : Ayah mertuanya adalah pensiunan guru, setiap bulan mendapat uang pensiun 2.000 yuan (3.9 juta) apa masih kurang ? Biaya hidup di desa sekarang tidak tinggi, jadi untuk apa uang sebanyak itu ?

Lalu dia dan suaminya berencana untuk mengirim makanan atau barang-barang saja buat ayah di desa, daripada kirim uang nanti untuk membeli barang sembarangan, tapi ayahnya bersikeras maunya dikirimi uang.

Apa boleh buat, mereka pun mengirim uang setiap bulan sesuai permintaan sang ayah.

Namun suatu ketika, saat mereka pulang menjenguk ayahnya di desa, mereka tidak melihat ada barang-barang baru di rumah.

Lalu mereka berkelakar menggoda ayahnya : Ayah kita jangan-jangan punya simpanan baru ? Tapi ayahnya hanya senyam-senyum saja.

Sang ayah masih tampak sehat secara fisik, di desa juga banyak kerabat dan teman, jadi mereka pun tidak khawatir, tapi secara tiba-tiba ayahnya mengalami pendarahan otak, dan tak bisa diselamatkan ketika dilarikan ke rumah sakit di kota.

Ayah mereka meninggal pada usia 76 tahun, saat pemakaman, selain kerabat, banyak juga terlihat orang-orang yang tidak dikenal, mereka merasa heran, tapi karena terlalu sibuk, hal itu pun tak dia pikirkan lagi.

Ketika mereka merapikan barang-barang peninggalan ayahnya, mereka menemukan sebuah buku catatan

Di atasnya tercantum secara rinci pengeluaran uang mendiang ayah mereka.

Karena masih penasaran digunakan untuk apa uang kiriman itu, mereka pun memeriksa catatan mendiang ayahnya dengan teliti.

Ilustrasi.

Setelah melihat catatan itu, tampak tertulis sejumlah uang untuk keperluan keluarga. Tapi setelah membuka lembaran berikutnya, mereka melihat hampir semua uang kiriman mereka itu digunakan untuk membeli barang-barang untuk sekolah di desa, dan “beasiswa” untuk siswa yang menonjol.

Pada saat ini, dia tiba-tiba menyadari bahwa orangtua mereka begitu hebat, akhirnya dia mengerti mengapa kerabat dan teman begitu respek terhadap ayahnya, mengapa begitu banyak orang datang saat mengantar ke pemakamannya.

Dan suaminya pun tak kuasa menahan linangan air mata setelah melihat catatan mendiang ayahnya.

Ilustrasi.

Sejak kecil ayahnya mengajarinya untuk tahu membalas budi, dia berharap kelak jika anaknya sukses, tidak melupakan dengan mereka yang pernah membantunya.

Kemudian, ia dan suaminya memutuskan menyumbangkan uang sebesar 1.1 juta rupiah setiap bulan untuk membantu anak-anak sekolah di desa!

Ia berharap ayahnya bisa beristirahat dengan tenang setelah keinginannya dilanjutkan oleh putranya.

“Saya merasa bangga memiliki sesosok ayah mertua seperti ini, sekaligus juga bangga pada suami saya yang baik”, tulisnya. (jhn/yant)

Sumber: beauties.life

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular