Erabaru.net. Saat seseorang sedang kelaparan, kemudian anda memberinya semangkuk nasi, maka masalahnya pun beres, dan ia akan sangat bersukur.

Tapi jika terus-terusan memberinya nasi, maka ia akan merasa itu sudah sewajarnya.

Semangkuk nasi tidak cukup, dua mangkuk juga tidak cukup, tiga, empat mangkuk tetap saja ia merasa kamu hanya memberinya sebutir padi di lumbung.

Keinginan seperti air laut, makin banyak minum semakin dahaga. Keinginan itu sebenarnya adalah “kegatalan (hasrat yang tak terbendung)” dalam jiwamu.

Kalau rasa sakit, itu masih bisa ditahan, tapi kalau gatal makin digaruk semakin ingin menggaruknya.

Alkisah pada zaman dahulu kala, ada dua keluarga yang tinggal bersebelahan, satunya lebih kaya, sementara satunya lebih miskin.

Sebelumnya, dua keluarga ini sangat akur, mereka sama sekali tidak pernah bertengkar.

Tapi suatu hari, terjadi bencana besar di desa mereka, bencana tersebut membuat seluruh padi di sawah rusak.

Keluarga yang lebih miskin pun kehilangan pendapatan, sawah mereka hancur, uang pun tak ada, sepertinya hidup mereka tinggal menunggu mati.

Sementara keluarga yang lebih kaya punya banyak simpanan makanan, lalu mereka memberi si miskin semangkuk besar beras sebagai bantuan darurat.

Internet

Keluarga miskin ini sangat berterima kasih pada sang keluarga kaya, keluarga miskin ini berencana, saat mereka sudah melewati masa sulit, mereka pasti akan mencari keluarga kaya itu untuk membalas budi.

Kedua keluarga ini pun tetap menjalin hubungan yang baik, sampai di tahun kedua, sawah si miskin belum pulih juga.

Akhirnya si kaya pun memberikan satu karung beras lagi kepada si miskin, tujuannya untuk dijadikan benih padi tahun depan.

Internet

Dengan penuh berterima kasih dan wajah ceria, si miskin pulang ke rumah dengan sekarung beras.

Sesampainya di rumah, salah satu anggota keluarga miskin berkata, “Sekarung beras ini bisa buat apa? Mana cukup untuk dijadikan benih, mereka benar-benar keterlaluan, keluarganya kan kaya raya, seharusnya memberikan sedikit bahan makanan lagi dan uang! Masa mau bantu orang, kasihnya sedikit ini.”

Keluhan keluarga miskin itu pun sampai di telinga si kaya, si kaya tentunya sangat marah.

Ia berpikir, saya memberikan dengan ikhlas begitu banyak makanan, bukannya terima kasih tapi malah caci maki?

Karena hal ini, kedua keluarga yang awalnya berhubungan baik ini pun putus dan menjadi musuh.

Semangkuk nasi membuat orang berterima kasih, sekarung beras membuat orang tidak tahu diri.

Kalimat ini sebenarnya sedang menggambarkan sifat egois orang-orang zaman sekarang.

Bila ada yang kelaparan, kemudian Anda memberinya satu liter beras, dia akan memperlakukan Anda sebagai dermawan.

Tapi jika Anda memberi seember nasi, dia akan berpikir, karena Anda bisa membeli seember nasi, maka Anda pasti bisa memberinya lebih banyak lagi. Jika anda tidak memberi saya, maka Anda akan menjadi musuh saya.

Yang ingin disampaikan di sini tentunya bukanlah melarang kamu berbuat baik.

Berbuat baik pasti akan ada pahalanya, menolong orang lain pun pasti akan mendatangkan keberuntungan padamu.

Internet

Yang ditekankan di sini adalah, janganlah menganggap kebaikan orang lain menjadi sebuah “kebiasaan”, atau jangan membuat orang lain “terbiasa” mendapatkan pertolongan.

Sekali orang itu sudah “terbiasa” ditolong, maka dia akan menganggap pertolonganmu itu memang sudah sewajarnya, hal ini dapat menyebakan efek yang sangat berbahaya.

Pemikiran dan prinsip seseorang, akan menentukan ke mana arah jalan hidupnya.

Bila anda selalu hidup dengan rasa syukur, maka kebahagiaan pasti sudah di depan mata! (jhony/rp)

Sumber: iread.one

Share
Kategori: Uncategorized

Video Popular