Erabaru.net. Apakah kamu akan memilih euthanasia?

Perlu diketahui, Euthanasia adalah tindakan sengaja untuk mengakhiri hidup seseorang yang sangat tersiksa oleh rasa sakitnya dan sudah tak tersembuhkan.

Ini adalah cara yang relatif cepat dan tanpa rasa sakit, mengakhiri hidup seseorang untuk alasan kemanusiaan.

Hidup itu serba tidak menentu, tidak pernah terlintas dalam benak siapa pun alur cerita dalam drama televisi yang masa hidupnya tinggal beberapa bulan lagi karena mendadak mengidap penyakit mematikan dan tak tersembuhkan.

Itu  akan terjadi pada diri kita, namun, apa yang akan kamu lakukan seandainya itu terjadi ?

Jika suatu hari, dokter tiba-tiba mengultimatum, hidup kamu hanya sisa setengah tahun, dan selama ultimatum itu kamu akan berangsur-angsur kehilangan kemampuan verbal, dan lumpuh, lalu apa yang akan kamu lakukan?

Terkait Euthanasia atau suntik mati ini, hari ini erabaru.net akan mengangkat kisah yang dialami oleh pebisnis Inggris Simon Binner yang menghadapi dilema semacam itu!

Simon adalah sarjana jebolan dari Universitas Cambridge, Inggris. Dia bisa dikatakan sebagai sosok orang yang memenangkan kehidupan, bukan hanya memiliki karir di bidang medis yang sukses, tapi juga sangat harmonis dalam rumah tangganya!

Internet

Namun, pada awal 2015 lalu, dia didiagnosis menderita Motor neurone disease-MND atau penyakit neuron motorik yang mematikan, dan semuanya itu tampaknya membuatnya putus asa seperti jatuh ke jurang neraka.

Dokter mengatakan kepadanya bahwa penyakit ini hanya akan memperpanjang hidupnya selama enam bulan sampai dua tahun, dan akan membuat otak dan ototnya sedikit demi sedikit mengalami penyusutan, serta kehilangan fungsi yang dominan!

“Ketika mengetahui kondisi penyakit itu, saya pun mengatakan pada diri sendiri saat dalam perjalanan pulang, kalau bukan mati secara Euthanasia, ya bunuh diri. Tubuh saya sekarang tak ubahnya seperti sebuah mobil yang rusak, tidak sepadan menghabiskan waktu untuk membaruinya,” kata Simon.

Internet

Lalu dengan yakin Simon pun membuat keputusan, bahwa dia akan terbang ke negara yang melegalkan kematian secara euthanasia yaitu Swiss, pada 2 November tahun yang sama atau tepatnya pada hari ulang tahunnya itu mengakhiri hidupnya.

Namun, laju kecepatan semakin lemahnya tubuh Simon sangat cepat, sampai pada September 2015 lalu, dia sudah tidak bisa berbicara, berjalan menggunakan tongkat!

Internet

Kemudian dia memutuskan memajukan tanggal euthanasia sampai Oktober, lalu terbang ke Swiss ditemani isteri, keluarga dan tiga sohibnya.

Internet

Pada 19 Oktober 2015, Simon mengenakan kemeja yang paling disukainya, ia tampak tersenyum sambil menyuntikkan jarum suntiknya sendiri, kemudian tertidur abadi sambil menggenggam erat tangan isterinya.

Seluruh proses euthanasia Simon telah disaksikan oleh jutaan netter melalui film documenter sambil meneteskan air mata sedih sekaligus haru bercampur aduk. (jhony/rp)

Sumber: ettoday.et

Share

Video Popular