Erabaru.net. Seluruh hidup Rosemary Johnson, seorang violinis berbakat yang kerap tampil di Orkestra Nasional Welsh, berubah drastis saat dia mengalami kecelakaan mobil yang mengerikan pada 1988.

Akibat kecelakaan tersebut, ia menderita koma selama tujuh bulan, dan bahkan setelah dia terbangun, dia mengalami cedera kepala yang parah sehingga membuatnya tidak dapat berbicara atau bergerak.

Violinist Rosemary Johnson

Cedera itu juga membuatnya tidak dapat memainkan alat musik yang ia cintai sepanjang sisa hidupnya. Dampaknya, tentu saja telah benar-benar mengubah jalan hidupnya.

Meski dampaknya telah mengubah jalan hidupnya selamanya, teknologi baru telah membawa peluang baru yang akan membantunya dapat menciptakan musik sekali lagi.

Universitas Plymouth dan Royal Hospital for Neuro-Disability telah bekerja sama untuk menciptakan perangkat lunak yang disebut Komputer Otak.  Perangkat ini dapat membaca pikiran Johnson untuk menulis lagu dan menghidupkan musiknya.

Melalui program ilmiah ini, ia dapat bermain musik lagi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini di bulan Juli dengan sebuah orkestra di sebuah tempat pusat kota London yang dipimpin oleh sahabat baiknya, Alison Balfour.

PLYMOUTH UNIVERSITY

Mereka berdua terakhir bermain bersama sebagai salah satu pengisi acara Opera Orkestra Nasional Welsh.

“Gagasan untuk bermain dengan Rosie lagi setelah bertahun-tahun adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan akan menjadi mungkin,” kata Alison kepada The Telegraph dalam sebuah wawancara, yang sekarang tampil bersama Bath Philharmonia.

PLYMOUTH UNIVERSITY

“Saya merasa terhormat bisa melakukan ini bersamanya, menjadi suaranya, musik, dan alunan  biola, dan ia memainkannya dengan sangat indah,” lanjutnya.

“Musik memiliki kekuatan luar biasa untuk menggerakkan orang, karena musik bisa membuat suara tersalurkan, bisa memberi mereka kesempatan untuk mengekspresikan diri. Ini bisa menjadi pelepasan emosi dan hubungan dengan orang lain.”

Sumber: PLYMOUTH UNIVERSITY

Perangkat lunak ini bekerja dengan membiarkan Johnson fokus pada berbagai lampu berwarna, yang akan membantu menerjemahkan apa yang ada di pikirannya. Lalu tercatat di sebuah layar yang dapat dibaca oleh para musisi.

Bergantung pada intensitasnya, dia juga bisa mengendalikan kecepatan dan volume lintasan.

Pemimpin proyek ilmiah perangkat lunak ini, Professor Eduardo Miranda dari Universitas Plymouth menjelaskan lebih lanjut kepada The Telegraph bagaimana program bekerja dan bagaimana ia merasa melihat itu semua seperti hidup dan nyata.

“Sistemnya sedang membaca gelombang otak Rosie. Butuh waktu dua puluh tahun. Itu tidak akan tercapai jika saya tidak memiliki kesempatan untuk bekerja dengan Rosie.”

“Kami semua menangis. Kita bisa merasakan kegembiraan yang datang darinya karena ia kini bisa kembali membuat musik,” tambah Professor Eduardo.

Dia terus berkata, “Saat itu sungguh ajaib. Saya tidak bisa menggambarkannya. Itu adalah mimpi yang saya miliki dan mimpi yang sepertinya tidak mungkin akan terjadi. ”

Johnson mengaku akan terus membuat karya musik sendiri, apalagi dia yakin bisa mendapatkan MBE, sebuah penghargaan bergengsi dari Kerajaan Inggris, tahun ini untuk semua karyanya dalam bidang musik.

Tim peneliti proyek ini akan terus mengembangkan teknologinya agar mudah menjangkau lebih banyak orang seperti Johnson, dan membantu mereka mengekspresikan diri mereka melalui musik. (intan/asr)

Sumber: The Telegraph/PLYMOUTH UNIVERSITY

Share

Video Popular