Erabaru.net. Aku seorang ibu, menikah pada usia sangat belia, saat usia 17 tahun. Tak disangka Steven, putraku juga mengikuti jejakku. Usia 18 tahun mulai pacaran dan menikah pada usia 20 tahun.

Suatu hari dia membawa pacarnya ke rumah, dia mengatakan bahwa dia akan menikahi gadis itu.

Melihat pacarnya sebaya dengan putraku, aku pun bilang tentu saja sangat bagus kalian sekarang pacaran untuk tujuan menikah nantinya, tapi sekarang usia kalian masih sangat belia dan belum dewasa secara fisik dan mental kataku.

Karena aku tahu betul seperti apa pernikahan terlalu dini itu pada akhirnya, dan aku tidak ingin anak dan menantuku menapak jalan yang pernah kujalani ini.

Jadi aku menasihati mereka untuk penjajakan beberapa tahun lagi, tunggu nanti setelah perasaan masing-masing sudah relatif stabil baru menikah.

Tak disangka, sifat Sinta ternyata agak keras kepala dan juga sedikit angkuh.

Sebelum menikah, dia mengatakan terang-terangan kepadaku : Dia mengajukan 3 syarat sebelum menikah dengan putraku, Steven.

Ilustrasi. (internet)

Pertama, dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Karena dia tak pernah melakukan itu sejak kecil di keluarganya.

Kedua, dia tidak bisa masak dan mecuci pakaian, karena (asap masakan) akan merusak kulitnya dan menjadikannya tampak tua.

Ketiga, dia belum mau punya momongan karena masih muda.

Mendengar syarat yang diajukan itu, aku merasa gadis ini lucu juga.

“Baik, aku setuju, tapi kita sepakati dulu sebelumnya.” Kataku, tidak mau kalah.

Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, tapi kamu harus beresin kamarmu sendiri. Tempat lain biar kami yang kerjakan.

Kamu tidak mau masak juga tidak apa-apa, kita beli makanan di luar saja, lagipula aku juga tidak suka ke dapur, tapi makanannya bayar masing-masing.

Karena kalian sudah dewasa, jadi tidak boleh lagi menyuruh orangtua kalian yang membiayai kalian setelah menikah.

Aku juga tidak akan mendesak kalian untuk segera punya momongan, aku baru 40 tahun, masih tergolong muda, dan aku juga tak ingin buru-buru dipanggil nenek.

Sinta juga tidak keberatan dengan semua syarat yang aku minta. Selain itu, ia juga mengatakan, bahwa ia akan pulang ke rumah beberapa kali setiap bulan, karena ingin merawat anjing dan kucingnya.

Aku bilang terserah, kamu bebas pulang ke rumahmu, orangtuamu telah membesarkamu sejak kecil, jadi sudah seharusnya berbakti kepada mereka.

Singkat kata, setelah dia menikah dengan putraku, tak disangka hubungan kami begitu harmonis.

Ilustrasi.

Dan hal lebih mengejutkan lagi, menantuku itu, bukan saja mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tapi juga sudah pintar memasak, dan memberiku dua cucu. Dan karena takut aku kerepotan, ia bahkan berperan sebagai ibu rumah tangga total.

Ah, aku sudah bilang pada teman-temanku tidak akan menjadi nenek sebelum usia 45 tahun, tapi sekarang telah dipatahkan mereka.

Sebenarnya, yang ingin kukatakan adalah bahwa setiap orang itu terbuat dari daging. Selama kamu baik padanya, dengan sendirinya dia juga akan baik padamu.

Awalnya, dia memang benar-benar tidak pernah mengerjakan apa pun di rumah, tidak memasak dan sebagainya.

Karena aku pikir mereka masih muda dan suka main, aku pun membersihkan rumah setiap hari, dan tentu saja, termasuk membersihkan kamar mereka walau pada awalnya aku bilang tidak akan mengurus kamar mereka.

Terkadang aku juga bisa malas masak dan pesan makanan dari luar. Saat membeli makanan di luar aku juga membelikan mereka, bukannya benar-benar membayar masing-masing.

Pakaiannya juga aku bantu mencucinya saat dia pulang kerja dan lelah, kemudian menggosok dan membawa ke kamar mereka.

Ketika Sinta, menantuku itu hendak pulang ke rumah orangtuanya, aku selalu mengingatkan putraku menyiapkan oleh-oleh untuk mertuanya.

Setiap saat hari raya, aku selalu mengingatkan putraku untuk mengajaknya beromantis sejenak di luar, dan menyiapkan hadiah untuknya.

Mungkin karena melihat semua itu, perlahan-lahan ia pun berubah. Awalnya dari kaget, lalu menjadi kejutan, sampai pada akhirnya terharu. Dan terakhir, ia pun berubah.

Sinta, menantuku itu kemudian mulai belajar mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak.

Walau pada awalnya masakannya tidak enak, tapi aku bisa melihat kesungguhannya. Saat akhir pekan, ia juga belajar memasak, dan berguru padaku.

Dia bahkan bilang padaku, kalau sudah bisa masak seperti aku, aku disuruh istirahat, biar dia yang akan memasak untuk keluarga.

Belakangan Sinta hamil, meski di luar rencana, tapi dia tetap berkeras melahirkannya.

Aku yang pada awalnya melihat sifat seorang gadis yang keras kepala dan sedikit angkuh, perlahan mulai menjadi lembut, dan hatiku juga sangat bahagia.

Setelah anak itu lahir, aku juga menawarkan untuk menjaga anaknya.

Meskipun pada awalnya aku juga tidak ingin menjadi nenek muda, tapi aku merasa bahagia begitu melihat cucuku yang lucu itu.

Melihat aku kecapekan menjaga anaknya, ia pun berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga.

Ilustrasi.

Sekarang, hubungan kami tidak tampak seperti mertua dan menantu, tetapi bisa dikatakan seperti sahabat.

Kami mengobrol bersama, membicarakan hal-hal yang tentang anakku, Steven dan bermain dengan cucu yang lucu.

Meski keluarga kita tidak kaya, namun keluarga kita sangat rukun-harmonis, dan penuh kehangatan.(jhn/yant)

Sumber: kknews.cc

Share

Video Popular