Erabaru.net. Untuk beberapa alasan, beberapa orang takut jika memiliki sesuatu yang berbeda dari manusia lainnya.

Terkadang begitu banyak, sehingga mereka bahkan akan mencoba menyakiti atau menghancurkan apa yang berbeda. Termasuk salah satunya yang dialami oleh putra Amanda Makris, George yang terlahir berbeda.

Dia memiliki Sindrom Asperger dan menyukai musik orkestra. Itu membuatnya sedikit berbeda dengan anak sebayanya.

Ini juga menjadikannya sebagai sasaran para pembuli yang sering memanggilnya “Classic FM Boy” dan “Georgina”.

Bullying atau perundungan tersebut membuat George terisolasi dan tak bisa menghabiskan waktu istirahat dengan temannya.

Untuk diketahui, Sindrom Asperger  adalah salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.

Namun sindrom Asperger dibedakan dengan gejala autisme lainnya dilihat dari kemampuan linguistik dan kognitif para penderitanya yang relatif tidak mengalami penurunan, bahkan dengan IQ yang relatif tinggi atau rata-rata.

George diganggu begitu buruk oleh teman sekolahnya, bahkan bulian tersebut berubah menjadi penganiayaan fisik.

Sumber: Mercury Press / Media Ltd.

Pelecehan fisik yang membuat lengan George terluka, setelah dia ditendang ke lantai saat seorang gurunya sedang sibuk mengajar di kelas.

Mirisnya, sekolah tersebut bahkan tidak akan membiarkan George memanggil ibunya setelah menderita akibat serangan tersebut dan mengatakan kepadanya bahwa “jangan panik.”

Mengetahui anaknya mendapat perlakuan semena-mena, ibunya, Amanda segera menarik anaknya dari sekolahnya dan tidak pernah membawanya kembali.

George akhirnya mengatakan pada ibunya bahwa dia memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Dia membawanya untuk mendapatkan bantuan terapi dari orang yang profesional.

Amanda juga  ingin melakukan sebuah hal penting dan membiarkan dunia tahu tentang betapa bahayanya aksi bulian yang marak terjadi di sekolah dan masyarakat, dengan memasang foto anaknya setelah ia dibuli di media sosialnya.

Sumber: Mercury Press / Media Ltd.

“Satu gambar mengatakan seribu kata,” katanya kepada Daily Mail .

“Hanya dengan melihatnya, Anda bisa mengatakan bahwa dia tidak bisa bersenang-senang dan menghabiskan masa mudanya karena aksi pembulian.”

“Saya pikir aksi bulian memiliki efek yang kuat. Ini adalah gambaran yang sangat menjengkelkan bagi saya, karena membawa saya kembali ke momen-momen dimana anak saya menjadi target bulian di sekolahnya.”

“Saya rasa postingan ini sangat penting untuk disebarluaskan, agar orang lain bisa melihat dampak aksi bulian terhadap manusia. ”

Foto yang dipostingkan di media sosial itu mendapat berbagai tanggapan yang luar biasa dari warganet. Jadi Amanda berpikir untuk menggunakan respon positif tersebut untuk menghibur George pada hari ulang tahunnya.

Dia meminta warganet untuk mengirim George beberapa kartu untuk ulang tahunnya, agar dia tahu bahwa masih ada orang di luar sana yang sangat peduli padanya dan ingin menjadi teman-teman George.

Sumber: Mercury Press / Media Ltd.

Sejak itu ratusan orang telah menghubungi dia untuk bertanya kemana mereka bisa mengirim kartu mereka.

Orang-orang bahkan telah menyumbangkan sebuah mainan kastil, mesin popcorn, perjalanan dengan menggunakan mobil limousin, dan mesin pembuat gulali untuk pesta ulang tahunnya yang ke 13.

Seorang ibu datang membawa sebuah kartu dan beberapa permen untuk George dan membawa sang anak bersamanya. Mereka pun ikut merayakan hari ulang tahun George.

“Saya pikir penting untuk menunjukkan bahwa orang-orang berpikir tentang dia untuk membangun kepercayaan dirinya lagi dan memberinya harapan,” katanya.

“Saya juga ingin menunjukkan kepadanya bahwa tidak semua orang itu memiliki sifat buruk.”

Sumber: Mirror

George telah menerima kartu dan hadiah dari semua warganet, yang mana kartu ucapan dan hadiah tersebut mampu membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya.

George akan mulai masuk di sekolah barunya pada bulan September ini, dengan semangat barunya.

“Ini akan menjadi hari ulang tahun yang akan menjadi memori terindah dalam hidup saya,” kata George kepada Mirror.

“Saya tidak tahu bagaimana diri saya akan melakukannya jika ibu saya tidak memposting hal tersebut di media sosialnya,” pungkasnya.

Sumber: The Sun/Shearbly.net

Share

Video Popular