Erabaru.net. Sepanjang hidup manusia, kamu hanya berutang pada dua orang : Pertama, Ibu-mu, Kedua adalah Ayah-mu. Seperti kata pepatah, berbakti kepada orangtua adalah prioritas utama di antara sekian bakti lainnya.

Berbakti adalah kebajikan tradisional bangsa Timur yang telah ribuan tahun sejarahnya, merawat dan menghormati orangtua, bukan hanya semacam prilaku atau tindakan moral, tapi juga harus mematuhi hukum.

Kasih sayang keluarga adalah sebuah manifestasi komprehensif dari kebaikan hati, cinta kasih dan hati nurani. Berbakti dan menghormati orangtua, menghormati generasi tua, adalah kewajiban sebagai seorang insan yang bermoral.

Sikap ini juga merupakan kebajikan yang rasional, sekaligus prasyarat dari pembentukan berbagai moral, sehingga selalu dipuji oleh orang-orang selama ini.

Coba bayangkan sejenak, seseorang jika sampai tidak bisa berbakti, menghormati orangtuanya atas budi yang telah melahirkan, mendidik dan merawat serta membesarkannya sejak kecil itu, lantas siapa yang akan percaya dengan sosok “Makhluk” seperti ini ?

Dan siapa yang mau berhubungan dengan orang seperti ini ?

Mungkin kisah berikut ini layak kita renungkan. Mari simak bersama…

Alkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang anak yang sangat tidak berbakti pada orangtuanya. Ayah dan ibunya tidak berdaya sama sekali dengan sikap anaknya, hingga akhirnya mereka minta bantuan paman anaknya.

Pamannya adalah seorang gembala, setiap hari mengiring dombanya ke lereng bukit. Meski sang paman tidak berbudaya, namun dia ahli dalam pendidikan anak-anak.

Sang paman kemudian berkata pada orangtua keponakannya : “Serahkan saja dia pada saya, tidak berapa lama lagi dia akan berubah pikiran dan menjadi anak yang baik, menghormati dan berbakti kepada orangtuanya.”

Keesokannya, anak itu pun diantar ke rumah pamannya. Begitu melihat keponakannya, sang paman tidak marah, juga tidak memukulnya, dan tanpa banyak bicara lagi ia memberikan cambuk dombanya kepada keponakannya.

Share

Video Popular