Pada siang hari di bulan Juni, panas matahari membakar seperti bola api di lereng bukit, burung-burung bersembunyi di tempat teduh. Si paman juga membawa keponakannya bersejuk sejenak di bawah pohon besar.

Tepat pada saat itu, ada beberapa burung yang terbang mondar mandir di bawah terik matahari. Melihat itu, keponakannya bertanya : “Paman, burung-burung gagak itu tidak takut panas ya? kenapa mereka terbang kesana kemari, apa sih yang dicarinya?

Pamannya menunjuk ke sarang burung itu, dan berkata : “Sepertinya di dalam sarang itu, ada seekor gagak tua yang tidak sanggup terbang lagi, sedang mendongakkan kepala sambil membuka mulutnya menyantap makanan yang disuapi anak-anaknya.”

“Jika tidak ada burung gagak yang bisa memahami kondisinya dan menyuapinya makan, maka gagak tua itu akan mati kelaparan.”

Inilah yang dinamakan bakti kepada orangtua. Keponakan itu mendengarkan dan diam-diam menundukkan kepala.

Pada suatu hari, paman dan keponakannya meletakkan beberapa ekor anak domba di dalam kandang. Keponakannya melihat anak-anak domba itu minum susu sambil berlutut, ia pun merasa heran.

Lalu bertanya pada pamannya : “Paman, mengapa anak-anak domba itu minum susu sambil berlutut ya ?

Pamannya yang sedang duduk santai di atas batu itu, lalu bercerita tentang asal usul anak domba yang menyusu sambil berlutut.

Dahulu kala, seekor induk domba melahirkan seekor anak domba. Induk domba ini sangat menyayangi anaknya, si domba kecil.

Malam saat tidur ia menyusui anaknya, memberinya kehangatan dengan badannya, agar domba kecil bisa tidur nyenyak dan nyaman.

Paginya saat makan rumput segar, induk domba kembali membawa domba kecil berjalan di sisinya.

Apabila melihat hewan lain menindas domba kecil, induk domba akan melindunginya dengan menundukkan kepala.

Share

Video Popular