- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ingat Dalam Sepanjang Hidup Anda Hanya Berutang Pada Dua Orang Ini, Simak Cerita Ini

Erabaru.net. Sepanjang hidup manusia, kamu hanya berutang pada dua orang : Pertama, Ibu-mu, Kedua adalah Ayah-mu. Seperti kata pepatah, berbakti kepada orangtua adalah prioritas utama di antara sekian bakti lainnya.

Berbakti adalah kebajikan tradisional bangsa Timur yang telah ribuan tahun sejarahnya, merawat dan menghormati orangtua, bukan hanya semacam prilaku atau tindakan moral, tapi juga harus mematuhi hukum.

Kasih sayang keluarga adalah sebuah manifestasi komprehensif dari kebaikan hati, cinta kasih dan hati nurani. Berbakti dan menghormati orangtua, menghormati generasi tua, adalah kewajiban sebagai seorang insan yang bermoral.

Sikap ini juga merupakan kebajikan yang rasional, sekaligus prasyarat dari pembentukan berbagai moral, sehingga selalu dipuji oleh orang-orang selama ini.

Coba bayangkan sejenak, seseorang jika sampai tidak bisa berbakti, menghormati orangtuanya atas budi yang telah melahirkan, mendidik dan merawat serta membesarkannya sejak kecil itu, lantas siapa yang akan percaya dengan sosok “Makhluk” seperti ini ?

Dan siapa yang mau berhubungan dengan orang seperti ini ?

Mungkin kisah berikut ini layak kita renungkan. Mari simak bersama…

[1]Alkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang anak yang sangat tidak berbakti pada orangtuanya. Ayah dan ibunya tidak berdaya sama sekali dengan sikap anaknya, hingga akhirnya mereka minta bantuan paman anaknya.

Pamannya adalah seorang gembala, setiap hari mengiring dombanya ke lereng bukit. Meski sang paman tidak berbudaya, namun dia ahli dalam pendidikan anak-anak.

Sang paman kemudian berkata pada orangtua keponakannya : “Serahkan saja dia pada saya, tidak berapa lama lagi dia akan berubah pikiran dan menjadi anak yang baik, menghormati dan berbakti kepada orangtuanya.”

Keesokannya, anak itu pun diantar ke rumah pamannya. Begitu melihat keponakannya, sang paman tidak marah, juga tidak memukulnya, dan tanpa banyak bicara lagi ia memberikan cambuk dombanya kepada keponakannya.

Pada siang hari di bulan Juni, panas matahari membakar seperti bola api di lereng bukit, burung-burung bersembunyi di tempat teduh. Si paman juga membawa keponakannya bersejuk sejenak di bawah pohon besar.

Tepat pada saat itu, ada beberapa burung yang terbang mondar mandir di bawah terik matahari. Melihat itu, keponakannya bertanya : “Paman, burung-burung gagak itu tidak takut panas ya? kenapa mereka terbang kesana kemari, apa sih yang dicarinya?

[2]Pamannya menunjuk ke sarang burung itu, dan berkata : “Sepertinya di dalam sarang itu, ada seekor gagak tua yang tidak sanggup terbang lagi, sedang mendongakkan kepala sambil membuka mulutnya menyantap makanan yang disuapi anak-anaknya.”

“Jika tidak ada burung gagak yang bisa memahami kondisinya dan menyuapinya makan, maka gagak tua itu akan mati kelaparan.”

Inilah yang dinamakan bakti kepada orangtua. Keponakan itu mendengarkan dan diam-diam menundukkan kepala.

Pada suatu hari, paman dan keponakannya meletakkan beberapa ekor anak domba di dalam kandang. Keponakannya melihat anak-anak domba itu minum susu sambil berlutut, ia pun merasa heran.

Lalu bertanya pada pamannya : “Paman, mengapa anak-anak domba itu minum susu sambil berlutut ya ?

Pamannya yang sedang duduk santai di atas batu itu, lalu bercerita tentang asal usul anak domba yang menyusu sambil berlutut.

Dahulu kala, seekor induk domba melahirkan seekor anak domba. Induk domba ini sangat menyayangi anaknya, si domba kecil.

Malam saat tidur ia menyusui anaknya, memberinya kehangatan dengan badannya, agar domba kecil bisa tidur nyenyak dan nyaman.

Paginya saat makan rumput segar, induk domba kembali membawa domba kecil berjalan di sisinya.

Apabila melihat hewan lain menindas domba kecil, induk domba akan melindunginya dengan menundukkan kepala.

Suatu ketika, saat induk domba sedang menyusui domba kecil, seekor induk ayam menghampirinya dan berkata : “mama domba, akhir-akhir ini kamu kelihatan kurus, makanan yang kamu makan itu semuanya pindah ke perut domba kecilmu.

Coba lihat nih aku, aku tak pernah pedulikan mau makan apa anak-anak ayamku itu, biar mereka yang cari makan sendiri.

Induk domba yang tidak suka dengan ucapan induk ayam, lalu dengan ketus mengatakan : “Kamu bicaranya ngawur dan asal bunyi saja, pada akhirnya nanti melakukan kesalahan dan digorok lehernya, memangnya ada manfaatnya buat kamu ?

Setelah dengan sengaja membuat ayam itu pergi, domba kecilnya berkata : “Bu, ibu begitu sayang pada saya, bagaimana nanti aku membalas budi ibu?

“Ibu tidak perlu balasan apa pun darimu nak, selama kamu punya niat itu, ibu juga sudah puas,” kata ibu domba.

[3]

Tak terasa air mata domba kecil pun berlinang setelah mendengar kata ibunya, lalu berlutut di atas tanah, sebagai makna sulit untuk bisa membalas cinta dan kasih sayang ibu domba yang dalam.

Sejak itu, anak domba pun selalu berlutut setiap kali minum susu ibunya. Ia tahu sang ibu telah membesarkannya dengan air susu ibu, jadi minum susu sambil berlutut itu sebagai ucapan terima kasih anak domba atas susu sang ibu.

Inilah sekelumit cerita tentang anak domba yang menyusu sambil berlutut.

Setelah hening beberapa saat, pamannya kembali berkata : “Burung gagak saja tahu membalas budi atau berbakti dengan cara merawat dan menjaga ibu gagak yang sudah tua.”

“Sementara anak domba menyusu sambil berlutut sebagai ucapakan terima kasih, lantas bagaimana dengan manusia, yang katanya makhluk berakal, masa tidak tahu membalas budi, berbakti dan menghormati orangtuanya sendiri ?”

Mendengar kata-kata sang paman, keponakannya itu pun menangis seketika menyesali sikapnya pada orangtuanya selama ini.

Pamannya tahu kalau anak itu telah menyadari kesalahannya, lalu menggendong seekor anak domba dan diberikan kepada keponakannya : “ Pulanglah nak, ortumu pasti sedang merindukanmu di rumah.”

[4]Bocah itu terus berdendang “anak domba, anak domba….”di sepanjang perjalanan pulangnya, dan tak tahan ia pun memanggil “Ibu, Ibuuu…”

Sejak itu, bocah itu pun dikenal sebagai sesosok anak yang berbakti di mana-mana. Anak domba menyusu sambil berlutut, anak gagak menyuapi makan ibunya yang sudah tua tak mampu terbang lagi.

Sementara manusia, sebagai makhluk yang berakal justru harus lebih berbakti lagi, bukankah begitu.

“Seseorang lahir ke dunia mengandalkan orang tua, kemudian harus mengandalkan kerja keras mereka lagi untuk merawat dan membesarkan kita hingga tumbuh dewasa, dan menjadi sesosok orang seutuhnya. “

Ada berapa banyak ortu yang cemas dan khawatir sepanjang hari saat anaknya sakit, mereka tidak bisa makan dan tidur karena memikirkan keadaaan anaknya yang sakit.

Ada berapa banyak ortu yang rela berhemat demi anak-anaknya supaya bisa makan kenyang, dan berapa banyak ayah-ibu yang bekerja sampai lupa waktu makan dan istirahat demi agar anak-anakanya punya penghidupan yang lebih baik.

Segala sesuatu yang ayah-ibu kita lakukan semuanya demi kebaikan kita anak-anaknya.

Jadi, renungkanlah sejenak perjalanan hidupmu dari kecil sampai sekarang, semuanya itu tak bisa lepas dari peran orangtua.

Akhir kata, semoga ortu di dunia selalu dalam lindungan-Nya….

(joni/asr)

Sumber : Aboutfighter