Kisah Kejadian Memilukan, Bayi Deborah Meninggal Dunia Karena Ditolak Rumah Sakit Ini Gara-gara Ortunya Kurang Bayar Uang Muka

183
Ilustasi bayi (cmshannon7/iStock)

Erabaru.net. Bayi Tiara Deborah Simanjorang yang baru berusia 4 bulan 10 hari harus meninggalkan dunia fana ini.

Tiara Deborah Simanjorang meninggal dunia gara-gara persoalan administrasi di rumah sakit ini. Dia sebelumnya selama 7,5 jam merasakan penderitaannya hingga mengembuskan nafas terakhir pada pukul 10.00 WIB, Minggu 3 September 2017.

Menurut cerita Brigaldo Sinaga berdasarkan penuturannya rekannya Henny (ibunda Deborah) peristiwa ini terjadi pada Minggu dini hari, 3 September 2017, sekitar pukul 02.30 WIB, saat itu bayi Debora sedang sesak nafas dan sempat batuk-batuk dengan mengeluarkan dahak.

Pasutri ini selanjutnya memutuskan membawa bayi mereka segera ke rumah sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat. Saat itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 03.30 WIB untuk mencapai rumah sakit itu dan tiba pukul 03.40 WIB.

Saat tindakan pertolongan pertama diberikan, ayah Deborah diminta mengurus administrasi pasien.

Sekitar pukul 04.10 WIB, orangtua Deborah dipanggil dokter Iren dan didiagnosa bayi Deborah harus segera dibawa ke ruang PICU (pediatric intensive care unit) karena kondisinya memburuk.

Kekurangan Uang Muka

Setelah menerima saran dari dokter ini, kedua orangtuanya mengangguk cemas. Pasutri ini disarankan segera mengurus ke bagian administrasi. Apa yang mereka dengar dari ruang administrasi tak lain seperti ini.

“Maaf, Pak, bapak harus membayar uang muka sebesar Rp19.800.000 agar anak Bapak bisa masuk PICU,” ujar Ifa petugas administrasi seperti ditulis kembali Brigaldo.

Saat itu ayah Deborah meminta agar anaknya diselamatkan terlebih awal namun pihak rumah sakit meminta agar menyelesaikan biaya administrasi. Ayah Deborah tak menyerah, dia tergopogh-gopoh pulang ke rumah untuk mengambil dompet yang ketinggalan, lalu dia kembali ke RS hanya membawa uang Rp 5 juta.

“Ini, Mbak, lima juta rupiah. Barusan saya tarik dari ATM. Mohonlah dimasukkan anakku di ruang PICU. Saya berjanji siang nanti akan mencari kekurangannya,” mohon ayah Deborah.

“Tapi maaf, Pak, ini masih kurang,” jawab petugas itu.

Sekitar 10 menit kemudian, petugas administrasi menyampaikan bahwa atasannya tak memberikan izin dimasukkan ke PICU sebelum menyelesaikan uang muka. Mendengar perkataan itu, ortu Deborah mulai hancur, ia pun menghubungi rekan-rekannya untuk meminta bantuan.

Saat itu teman baiknya, Iyoh teman baiknya mengecek ke RS Koja. Lalu Dokter Iren menemui kedua orangtua Debora menanyai tentang administrasi. Tak banyak kata-kata disampaikan oleh orangtua Deborah, mereka pun pasrah. Sementara itu menit ke menit, jam ke jam terus berlalu dengan kondisi Deborah semakin memburuk di IGD.

Bunda Deborah, Henny mengunggah kegalauannya di akun fesbuknya dan direspon rekan-rekannya. Pasutri ini terus berusaha mencari rumah sakit yang punya ruang PICU. Selanjutnya pada pukul 09.39 WIB, Henny memberikan ponselnya ke dokter Irfan, dokter penjaga pengganti dokter Iren.

Ternyata saat itu Iyoh temannya berhasil menemui dokter di RS Koja dan Bayi Debora akan dievakuasi secepatnya ke RS Koja. Saat itu, dokter di Koja ingin mendengar pandangan dokter Irfan atas kondisi pasien.

Tiara Deborah Simanjorang yang baru berusia 4 bulan 10 hari (Foto : Facebook/Dokumen Brigaldo Sinaga)

Sekitar pukul 10.00 WIB, perawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga memanggil kedua orangtua Deborah. Saat itu Bunda Deborah menggapai tangan bayinya. Deborah sudah tiada, meninggal dunia dalam dingin.

Tanggapan RS Mitra Keluarga

Berdasarkan siaran pers RS Mitra Keluarga, Jumat, 8 September 2017, terdapat lima poin klarifikasi dari RS ini atas kejadian tersebut.

1. Pasien (Deborah Simanjorang yang terdaftar sebagai Tiara Deborah) berumur empat bulan, berat badan 3,2 kilogram datang ke IGD MItra Keluarga Kalideres pada 3 September 2017 pukul 03.40 WIB dalam keadaan tidak sadar dan kondisi tubuh tampak membiru.

Pasien dengan riwayat lahir premature memiliki riwayat penyakit jantung bawaan (PDA) dan keadaan gizi kurang baik.

Dalam pemeriksaan didapatkan napas berat dan banyak dahak, saturasi oksigen sangat rendah, nadi 60 kali per menit, suhu badan 39 derajat celcius.

Pasien segera dilakukan tindakan penyelamatan nyawa (life svaging) berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang napas), lalu dilakukan bagging atau pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang napas, infus, obat suntikan, dan diberikan pengencer dahak (nebulizer)

Pemeriksaan laboratorium dan radiologi segera dilakukan.

Kondisi setelah dilakukan intubasi lebih baik, sianosis (kebiruan) berkurang, saturasi oksigen membaik, walaupun kondisi pasien masih sangat kritis.

Dokter juga menjelaskan kondisi pasien kepada sang ibu. Kemudian dianjurkan untuk penanganan di ruang khusus ICU.

2. Ibu pasien mengurus di bagian administrasi, dan dijelaskan oleh petugas tentang biaya rawat inap ruang khusus ICU, tetapi ibu pasien menyatakan keberatan mengingat kondisi keuangan.

3. Ibu pasien kembali ke IGD, dokter IGD menanyakan kepesertaan BPJS kepada ibu pasien, dan ibu pasien menyatakan punya kartu BPJS. Dokter pun menawarkan kepada ibu pasien untuk dibantu merujuk ke RS yang bekerjasama dengan BPJS, demi memandang efisiensi dan efektivitas biaya perawatan pasien.

Ibu pasien setuju. Dokter pun membuat surat rujukan dan kemudian pihak RS berusaha menghubungi beberapa RS yang merupakan mitra BPJS. Dalam proses pencarian RS tersebut, baik keluarga pasien maupun pihak rumah sakit kesulitan mendapatkan tempat.

4. Pukul 09.15 WIB, keluarga mendapatkan tempat di salah satu rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Dokter rumah sakit tersebut menghubungi dokter Mitra Keluarga Kalideres untuk menanyakan kondisi Deborah. Sementara berkomunikasi antar dokter, perawat yang menjaga dan memonitoring pasien memberitahukan kepada dokter bahwa kondisi pasien tiba-tiba memburuk.

5. Dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien.

Pihak rumah sakit ini juga menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa untuk keluarga Rudianto dan Henny Silalahi atas kepergian Deborah Simanjorang. (asr)