Erabaru.net. Apa yang terlintas dalam benak Anda tentang Jerman ? Oktoberfest (Festival Bir), Mercedes, atau Nazi ? Tapi yang pertama kali terlintas dalam benak saya adalah, mengapa di jalan-jalan di Negara Jerman ini, tidak ada anjing liar yang berkeliaran di jalanan?

Jika ditemukan ada hewan liar yang berkeliaran juga akan dibawa ke tempat penampungan hewan, dan akan dipelihara oleh orang-orang khusus.

“Mengapa ?”

Jerman mengalami perang berkali-kali, setelah Perang Dunia Pertama, Jerman tidak hanya menyelamatkan manusia tapi juga anjing saat merekonstruksi daerah konflik.

Konsep pembangunan tempat penampungan untuk anjing jalanan, sudah tertanam sejak awal dalam hati rakyat Jerman ketika itu.

Sekarang, hewan peliharaan tak ubahnya seperti anak bagi rakyat Jerman, mereka (anjing) memiliki status hukum yang sama dengan anak-anak di Jerman. Dan karena itu, setiap anjing peliharaan pasti memiliki pemiliknya.

Anda tidak akan menemukan anjing liar di jalan-jalan di Jerman, banyak pemilik toko, alat transportasi umum juga membiarkan pemiliknya membawa anjingnya keluar masuk.

Meskipun kepadatan anjingnya tidak tinggi, namun 70% masyarakat Jerman yang tidak memelihara anjing menyukai anjing dan tingkat adopsi di tempat penampungan mencapai hingga 90%.

Anjing bersantai di depan pintu, tampak sangat nyaman berdekatan dengan orang-orang

Di Jerman, selain anjing polisi, anjing pemandu dan anjing layanan lainnya, juga perlu membayar “pajak anjing”sama seperti pajak kepemilikan mobil.

Setiap tahun butuh 120 Euro atau sekitar Rp. 1,9 juta untuk pajak seekor anjing di Berlin, dan perlu membayar pajak lagi sebesar 180 Euro atau sekitar Rp.2.8 juta per tahun jika memelihara anjing kedua.

Apabila memelihara secara diam-diam tanpa membayar pajak, atau tidak segera melaporkan pajak, akan didenda 10.000 euro atau sekitar Rp. 159 juta .

Anjing-anjing itu dengan tenang dan sabar menunggu pemiliknya

Agar bisa menjadi “bagian masyarakat”dalam kehidupan sehari-hari, anjing di Jerman harus kursus bersama dengan pemiliknya selama 3 bulan.

Kursus ini mencakup pelatihan ketaatan, tidak sensitif terhadap gangguan luar, pelatihan pendamping anjing dan manusia secara harmonis, pelatihan tanda-tanda harian seperti lampu lalu lintas dan pelatihan lainnya.

Setelah kursus juga perlu diuji lagi, dan bagi yang memenuhi standard kelayakan akan mendapatkan “Ijazah” atau semacam sertifikat “kelulusan”.

Anjing yang memiliki sertifikat bisa menikmati perlakuan dasar yang sama dengan pemiliknya, mendapatkan akses naik bus.

Anda bisa melihat anjing saat berkunjung ke mall atau hotel dan stasiun kereta api dan kepentingan publik lainnya, begitu juga dengan di toko-toko buku.

Toko hewan peliharaan di Jerman tidak akan menjual hewan peliharaan, sang pemilik toko akan langsung memberi tahu kita : “Karena kita memandang hewan peliharaan itu sebagai anak kecil, jadi bagaimana boleh menjualnya di toko ?”

Jadi, jika orang Jerman ingin membeli hewan peliharaan, maka ia harus membelinya di tempat pengembangbiakan profesional, tapi ketentuan tempat pengembangbiakan sangat ketat, dan harganya relatif tinggi.

Misalnya, untuk membeli seekor anjing Labrador butuh 2.000 euro atau sekitar Rp. 31,8 juta.

Banyak orang yang beralih ke adopsi di tempat penampungan, karena itu, tingkat adopsi hewan peliharaan di Jerman mencap;ai 90 persen tingginya.

Di Jerman tidak jarang ditemukan anjing ras Jerman, tapi tempat pengembangbiakan memiliki ketentuan yang sangat detail untuk melindungi kepentingan anjing.

Bisa dilihat bahwa sistem di Jerman itu memang sangat ketat dan komprehensif, hal ini jugalah yang menciptakan lingkungan yang harmonis dan bersahabat antara manusia dan anjing di Jerman.

Sikap sebuah negara terhadap hewan liar dapat mencerminkan tingkat peradabannya di sana!(jhn/yant)

Sumber: kknews.cc

Share

Video Popular