Prinsip Altruisme pada Mobil Tanpa Awak (1)

98
Mobil swakemudi dari BMW – Tesla. (internet)

Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Erabaru.net. Mobil tanpa awak (driverless vehicles) atau swakemudi, entah disukai atau tidak, ditentang atau didukung, disambut atau ditolak, sedang melangkah menuju masyarakat manusia dengan kecepatan yang tak terduga berkat dorongan dari banyak kekuatan sosial.

Juli tahun ini, Komisi Energi dan Bisnis pada Dewan Kongres AS dengan suara bulat 54-0 suara meloloskan rancangan undang-undang versi ralat, mempercepat mobil tanpa awak untuk beroperasi di jalan raya.

Juga melarang pemerintah negara bagian untuk menghentikan mobil tanpa awak.

Dengan kata lain, beroperasinya mobil tanpa awak di AS telah tidak terhindarkan lagi.

Negara lain di dunia juga akan mengikuti jejak AS. Tapi, peraturan dan undang-undang dan aturan main terkait, belum juga dipastikan.

Jadi masyarakat harus memiliki pemahaman yang cukup terhadap risiko yang akan segera datang ini.

Terhadap mobil tanpa awak yang seolah sudah hampir terwujud, harus dipastikan prinsip yang harus dipatuhi, serangkaian prinsip, agar tidak membuat masyarakat manusia menjadi pasif dan terjebak dalam bahaya.

Prinsip ini, bagi penulis, hanya bisa berpondasi pada landasan “kebajikan” dalam ajaran Buddha, harus bisa mengembangkan sebuah prinsip bersifat “altruisme” dari “kebajikan” ini, baru bisa memenuhi kebutuhan manusia.

Inilah yang disebut penulis sebagai “Altruistic Principle of Driverless Vehicles, atau APD.

Foto adalah mobil tanpa awak dari Mercedes Benz yang dipamerkan untuk pertama kalinya di Shanghai tahun 2015 pada Pameran Elektronik Konsumen Pertama Asia. (Getty Images)

RUU pemerintah federal AS akan mengijinkan produsen otomotif untuk mendapatkan hak kebal hukum.

Pada tahun pertama boleh memproduksi 25.000 unit mobil tanpa awak dengan standard keamanan tidak mencapai standar mobil saat ini.

Dalam tiga tahun meningkatkan produksi sampai 100.000 unit.

General Motors, Alphabet Company, Tesla Company, Volkswagen dan lain-lain sedang melobi Dewan Kongres membuat undang-undang yang mendorong diberinya kelonggaran peraturan pengawasan ini, agar mobil tanpa awak dapat segera beroperasi.

Mobil tanpa awak yang dikembangkan oleh Korea Selatan akan diujicoba pertama kalinya di Seoul pada Mei mendatang.

Hyundai Motor kini telah memiliki teknologi yang lebih tinggi, mobil tanpa awak Hyundai yang bernama “Ioniq” telah memasuki tahap “sama sekali tidak ada pengemudi”.

Instansi survey pasar memprediksi, sebelum tahun 2020 mobil tanpa awak akan memasuki tahap komersialisasi.

Selain GM, Benz, Toyota, Bosch, dan produsen mobil konvensional lainnya, juga ada Google, Apple, dan perusahaan hi-tech ikut terjun dalam pengembangan mobil tanpa awak.

IHS memprediksi, jumlah penjualan mobil tanpa awak akan melonjak dari 230.000 unit pada 2025 menjadi 11,8 juta unit pada 2035.

Walaupun produsen otomotif harus membuktikan, bahwa mobil tanpa awak sama amannya dengan mobil konvensional, namun mobil tanpa awak bakal menimbulkan sejumlah kondisi baru yang belum pernah terjadi selama ini.

Mobil tanpa awak pada dasarnya adalah sebuah mesin atau robot, merupakan alat transportasi manusia yang telah dipasangkan dengan piranti lunak berupa program kendali komputer dan piranti keras berikut kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

Namun manusia robot yang dikembangkan oleh sejumlah negara baru-baru ini, mereka menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia untuk berkomunikasi.

Bahkan mengakibatkan manusia yang mengoperasikannya terpaksa harus mematikannya, dan hal ini sungguh mengkhawatirkan.

Foto adalah mobil tanpa awak dari Mercedes Benz yang dipamerkan untuk pertama kalinya di Shanghai tahun 2015 pada Pameran Elektronik Konsumen Pertama Asia. (Getty Images)

Bila suatu hari manusia tidak dapat mematikan mesin ini, apa yang akan terjadi?

Setelah dimatikan oleh manusia, robot dan kemampuan AI-nya diaktifkan atau dinyalakan kembali, lalu bisa beroperasi sendiri, apa yang harus dilakukan?

Ini membuat manusia harus berpikir dan meragukannya, sebenarnya apa, siapa, atau kekuatan seperti apa, yang pada akhirnya mengendalikan dan mengoperasikan mesin dan AI ini?

Mesin dan kecerdasan buatan seperti ini jika diaplikasikan pada mobil tanpa awak, begitu mobil tanpa awak beroperasi di jalan raya, begitu manusia menjadi penumpang yang pasif bagi mobil tanpa awak ini, apa yang akan terjadi?

Apakah nyawa dan keselamatan manusia, berikut jiwa dan kehidupan manusia, telah dikendalikan di tangan robot ini, dikendalikan oleh kekuatan yang ada di balik mesin-mesin ini, apakah ini yang dikehendaki manusia?

Apakah kita rela melepaskan kuasa atas nyawa kita sendiri?

Jadi, orang yang bajik dan berhati mulia pasti akan, dan memang harus, mengemukakan semua prakondisi bagi mobil tanpa awak berikut kecerdasan buatan, untuk menghindari manusia menjadi budak bagi robot, atau komputer, atau AI atau kekuasaan yang ada di baliknya.

Apa yang akan ditimbulkan oleh AI atau kecerdasan buatan terhadap manusia?

Wakil kepala staf gabungan AS yakni Jendral bintang empat Paul Selva memperingatkan, robot mungkin sebaliknya akan menguasai manusia, sistem senjata otomatis bisa membuat manusia kehilangan kemampuan tempur.

Ia berpendapat, menggunakan robot untuk memutuskan mengambil nyawa seseorang adalah tidak sesuai dengan prinsip kemanusiaan.

Jendral Selva berpendapat, walaupun dalam perang, tetap harus mempertahankan “prinsip moralitas yang sesuai dengan kemanusiaan.”

Oleh sebab itu sistem senjata otomatis harus dikendalikan oleh manusia, dan tidak boleh membiarkan robot memutuskan bagaimana harus bertempur.

Penulis dalam artikel berjudul “Robot Memenangkan Perang atas umat manusia, Hal Baik atau Buruk?” telah mengungkapkan, meningkatkan kecerdasan robot mungkin adalah hal baik.

Pihak militer AS telah mengembangkan robot untuk bertempur, yang tidak akan merasa lelah dalam peperangan apa pun, juga tidak perlu makan minum dan tidur, juga tidak temperamental, berperang selama apa pun bisa.

Namun militer AS mendapati satu kelemahan yang mematikan,yakni begitu terjadi masalah, robot itu akan berbalik arah, juga bisa tanpa makan minum dan tidur akan membantai tanpa ampun pihaknya sendiri!

Ini memberitahu manusia, bahwa perbedaan terbesar antara robot dengan manusia adalah robot tidak memiliki konsep moral.

Ada sifat manusia atau tidak, perkembangan ilmu pengetahuan seharusnya adalah untuk mensejahterakan manusia, dan bukannya justru menjadi ancaman bagi umat manusia. (sud/whs/rp)

BERSABUNG