- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dua Peramal Ini Saling Bersaing, Orang-orang Bersorak Adu Ilmu Siapa Lebih Sakti, Hasilnya Peramal Satunya Kalah Sedangkan Peramal Lainnya Tragis Disambar Petir

Erabaru.net. Peristiwanya terjadi di Tiongkok semasa 1946-1949, di Kota Longyang, ada sebuah jembatan berusia ratusan tahun. Jembatan ini bernama Jembatan Laiyang, dibangun pada pertengahan masa Dinasti Qing. Arus masuk masyarakat di sana sangat besar kala itu, adalah tempat yang harus dilalui oleh penduduk antar selat di Sungai Laiyang.

Dulu, ada sebuah area kosong di jembatan Laiyang ini, setiap menjelang malam, penduduk sekitar suka beristirahat santai, atau sekadar ngobrol di jembatan ini, sehingga jembatan pun seketika menjadi hiruk pikuk saking ramainya.

[1]

Awalnya di area kosong jembatan itu ada seorang peramal, bermarga Chen, atau Chen Ban Xian, nama lengkapnya, sudah sekitar 3 atau 4 tahun membuka usaha ramal-meramal di jembatan tersebut.

Dan entah sejak kapan, muncul lagi seorang peramal di jembatan Laiyang itu, seorang peramal bernama Wu Shan yang membuka lapak ramalnya di sana.

Menekan peramal Chen Ban Xian, sehingga ia pun tidak senang, lalu adu jotos dengan Wu Shan, si peramal baru. Akhirnya Chen kalah dan pergi dari situ. Sejak itu, bisnis ramal-meramal di tempat itu pun hanya dimonopoli oleh Wu Shan.

[2]

Bisnis meramal Wu Shan lumayan bagus. Ramalannya juga lebih akurat, ada beberapa orang yang minta diramal olehnya setiap hari. Apalagi di malam hari, lapaknya dikerumuni orang-orang yang tentu saja melihat ramalannya.

Karena bisnis ramal Wu Shan sangat ramai, apalagi tempatnya juga strategis, sehingga membuat iri peramal lainnya.

Betapa tidak, hari itu datang lagi seorang peramal tua dan mengenakan kacamata hitam di jembatan Laiyang, lalu membuka lapaknya jembatan itu, dan kebetulan berdampingan dengan peramal Wushan, sepertinya punya maksud bersaing dengan Wushan.

Baru saja mengusir peramal Chen Ban Xian, sekarang muncul seorang peramal tua.

Wu Shan melihat sejenak peramal berkacamata hitam itu, dan menggelengkan kepala tanda tidak mengenal, juga belum pernah melihatnya. Dalam hatinya Wushan menggumam : “dasar tua bangka tak tahu diri, mau merebut lapak usahaku, mampuslah kau pak tua.”

Orang-orang di jembatan itu agak khawatir, karena sebelumnya Chen Ban Xian telah pergi setelah kalah dengan Wu Shan. Sekarang datang peramal baru, yang membuat peramal Wu Shan tidak senang, apakah Wu Shan akan adu jotos dengan peramal tua?

[3]

Tapi kali ini Wu Shan memilih menggunakan cara lembut, jika tidak, orang-orang akan menganggapnya menindas orang tua. Dia memutuskan bertaruh dengan peramal tua itu dengan cara mengadu ilmu (ramal) siapa yang akurat dan hebat.

Bagi ramalannya akurat bisa membuka lapaknya, sementara yang meleset segera pergi dari lapaknya.

Orang-orang pun bertepuk tangan setuju dengan cara mengadu ilmu.

Sebelumnya dulu orang-orang tidak punya pilihan, karena hanya ada satu peramal yakni Chen Ban Xian. Sekarang ada peramal Wu Shan dan pak tua.

Wushan dan peramal tua itu masing-masing mengklaim sebagai peramal ulung. Baik meramal dengan cara melihat garis tangan, wajah, perbintangan dan sebagainya semuanya mereka kuasai.

Tapi kata-kata mereka tentu saja tidak akan meyakinkan orang-orang begitu saja tanpa bukti. Kalau begitu, siapa yang harus dipercaya, dan siapa yang paling akurat meramalnya?

Tepat pada saat itu, seorang pria setengah baya keluar di antara kerumunan orang-orang.

Lalu berkata pada peramal Wu Shan dan pak tua : “Begini saja, karena kalian seprofesi yaitu sama-sama peramal. Jadi, kalian meramal saja, siapa yang paling tepat meramalnya.”

[4]
Ilustrasi

“Misalnya tentang cuaca besok, apakah cerah atau mendung (hujan) menurut kalian ? selain itu, menurut ramalan kalian, jam berapa polisi akan ke jembatan Laiyang, dan berapa total polisi yang akan melewati jembatan?”

Apa ini yang namanya meramal? itu jelas-jelas menyuruh mereka bertaruh, mana mungkin mereka tahu cuaca besok cerah atau hujan, jam berapa polisi akan ke jembatan. Namun, orang-orang justru bersorak gembira mendengar usul dari pria setengah baya itu.

Wushan dan peramal tua saling pandang sejenak. Kemudian Wu Shan menatap ke langit dan berpikir sejenak, lalu berkata, “Cuaca besok cerah. Polisi biasanya akan melewati Jembatan Laiyang malam menjelang pulang kerja, dan total ada delapan polisi.”

Mendengar ramalan Wu Shan itu, peramal tua tampak tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Ramalan saya mengatakan besok akan turun hujan, dan ada orang yang disambar petir. Karena hujan, mana mungkin polisi datang, jadi saya bertaruh polisi tidak akan datang besok.”

[5]
Ilustrasi hujan lebat (Dwleindecker/iStock)

Orang-orang pun bertanya mengapa polisi tidak akan datang, karena mereka tahu polisi pasti akan melewati jembatan Laiyang ini setiap hari, itu adalah hukum wajib yang tak tergoyahkan. Jadi mereka pun berpikir peramal tua itu akan kalah. “Kita buktikan saja besok,” kata si peramal tua.

Sepulangnya ke rumah, Wushan tidak bisa tidur malam itu, ia bolak-balik berpikir sepanjang malam. Dia tidak bisa menerawang peramal tua itu, dia takut bertemu dengan peramal sakti yang sebenarnya, dulu dia hanya belajar sedikit dari seorang guru.

Jika peramal tua itu benar-benar hebat, dia takut kalah di tangan peramal tua itu. Dan kalau memang seperti itu, maka sejak itu ia tidak akan bisa lagi mencari makan di kota Longyang.

Wushan memutuskan besok tidak membuka dulu lapaknya, tapi dia akan menyamar untuk melihat-lihat situasi di sana. Dia berharap jangan sampai ada yang mengenalinya, dan jangan sampai dianggap peramal tua bahwa dia melarikan diri.

Dia sangat yakin bahwa besok polisi akan ke Jembatan Laiyang, karena itu adalah hukum patroli yang tak tergoyahkan, dan dia baru akan menunjukkan jati dirinya setelah polisi ke jembatan itu. Ini dilakukannya untuk membuktikan bahwa dia yang menang.

Jika polisi tidak datang seperti yang dikatakan peramal tua, ia bisa memanfaatkan penyamarannya untuk kabur, dengan begitu dia bisa maju maupun mundur tergantung situasi, dan ia akan bilang sakit jika ada yang menanyainya.

Singkatnya, tidak akan membiarkan peramal tua itu menyepaknya.

Sore keesokannya, orang-orang sudah berkerumun di lapak jembatan Laiyang, untuk menyaksikan hasil ramalan dari kedua peramal tersebut.

Namun, ketika Wu Shan tiba di jembatan Laiyang, ia tidak melihat peramal tua, juga tidak terlihat ada di lapaknya. Wu Shan pun merasa lega.

Namun, saat menjelang malam, langit tiba-tiba mendung diselimuti awan gelap, lalu terdengar sambaran petir, dan hujan lebat tumpah ruah dari langit. Orang-orang yang berkerumun pun seketika melarikan diri.

[6]
Ilustrasi

Begitu juga dengan Wu Shan yang segera lari ke bawah pohon besar untuk berteduh. Dan tiba-tiba seberkas kilat menyambarnya, tampak seberkas asap merebak keluar dari tubuhnya yang terkena sambaran petir, kemudian jatuh tergeletak pingsan di bawah pohon.

Setelah siuman dari pingsannya, Wushan segera berlari ke rumah, sehingga lolos dari maut.

Hari itu cuacanya buruk, dan polisi memang tidak datang, Wu Shan juga hampir tewas disambar petir. Wushan pun harus percaya bahwa dia telah bertemu dengan peramal sakti.

[7]
Ilustrasi petir (Petr Svab/The Epoch Times)

Wushan sadar dirinya bukanlah lawan si peramal tua, jika bertaruh lagi dengannya, ia pasti akan mati konyol. Lalu dia pun memutuskan untuk menarik diri dari lapaknya di jembatan Laiyang, dan memberikannya kepada peramal tua tersebut.

Tiga bulan kemudian, Wushan bertemu dengan si paman di jalan, pria paruh baya itu langsung mengenali Wu Shan dan berkata : “Bukankah Anda peramal Wu Shan ?

Wu Shan juga mengenalinya, dan terlanjur dikenali, ia pun tak bisa menghindar lagi.

Pria paruh baya itu menghentikan langkah kaki Wu Shan dan berkata : “Anda tertipu.”

“Peramal tua yang bertaruh dengan anda itu adalah gurunya Chen Ban Xian, dan polisi tidak datang pada hari itu, karena mereka minta bantuan guru Chen Ban Xian untuk melihat feng shui di kantor polisi. Paham, kan?,” tutur pria paruh baya itu.

Wushan pun terkejut mendengarnya, dia menarik tangan pria itu dan berkata : “Bagaimana kamu tahu? Bukankah ramalannya sangat akurat, sampai-sampai hujan lebat disertai guntur saja bisa diramalnya.”

Pria itu menghela napas sejenak dan berkata : “Ramalannya memang tepat, tapi, ramalan tentang polisi yang tidak datang itu bukan hasil ramalannya, karena dia sudah tahu polisi itu tidak akan datang. Namun, Anda memang kalah, karena ramalan anda meleset waktu itu.”

Meski begitu, Wushan meyakini bahwa peramal tua itu memang memiliki ilmu yang tinggi.

“Siapa yang menggelar lapak di jembatan itu?” tanya Wu Shan.

“Chen Ban Xian,” jawab si pria. Lalu bertanya lagi pada Wushan : “Anda masih akan menggelar lapak ramalan di jembatan itu ?”

“Saya bisa meramal awalnya, tapi tidak bisa meramal akhirnya,” kata Wu Shan.

“Peramal tua tersebut hanya memperingatkan saya melalui sambaran petir itu. Saya sudah cukup puas sekarang. Kalau memang itu milik orang lain, sebaiknya dikembalikan kepadanya,” kata Wu Shan.

(joni/asr)

Sumber : twgreatdaily.com