Pembantu Bisu yang Sudah 10 Tahun Mengabdi di Rumahku Ini Mengungkapkan Satu Rahasia, dan Aku pun Berlutut Menangis di Hadapannya

117
pengasuh bisu

Erabaru.net. Ayahku adalah seorang pedagang kecil, sementara ibu seorang guru sekolah dasar, meski bukan keluarga berada, tapi hidup kami lumayan baik dan nyaman.

Di rumah kami ada bibi Liu yang merupakan pembantu di rumah kami, sudah sepuluh tahun lamanya bibi Liu bekerja di rumah kami, dan kami pun telah menganggapnya seperti keluarga.

Bibi Liu ditemukan ibuku terbaring di jalanan dengan pakaian yang lusuh, kondisinya benar-benar menyedihkan.

Ilustrasi. (Internet)

Ketika itu, ibu mau membawanya ke rumah sakit, tapi dia menolak sambil menggerakkan tangan “berkata tidak”, kemudian ibu membawanya pulang ke rumah.

Ibu memberinya pakaian yang bersih, dan memberinya makan. Tampaknya ia mulai tampak sehat setelah makan, terus mengucapkan terima kasih dengan bahasa isyarat.

Ketika ibu bilang kalau sudah enakkan boleh meninggalkan rumah, tiba-tiba ia berlutut, memohon agar menerimanya tinggal di rumah.

Bibi Liu menulis di atas kertas menerangkan bahwa ia tidak punya anak dan keluarga, ingin bekerja sebagai pembantu di rumah, mencuci atau memasak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Dan juga bilang tidak perlu terlalu banyak upah, yang penting ada tempat tinggal dan makan, itu juga sudah cukup.

Ibuku orangnya lembut dan baik, karena kasihan  ibu akhirnya menyetujuinya.

Bibi Liu, meski tidak bisa bicara, tapi ia rajin, setiap hari mengepel hingga bersih, bahkan bisa membuat aneka masakan yang enak.

Saat ayah-ibu sedang sibuk, bibi Liu yang bertanggung jawab menjaga dan merawatku, bibi Liu sepertinya sangat perhatian padaku, dia selalu mengupas buah-buahan untukku saat sedang mengerjakan PR, atau mengantar dan menjemputku pulang maupun berangkat sekolah.

Suatu ketika ayah dan ibu pergi ke luar kota, saat tengah malam aku demam tinggi, bibi Liu tampak sangat cemas, lalu memapahku naik taksi ke dokter, dia tidak bisa berbicara, tapi karena cemas dan panik, sampai-sampai berkeringat meski di malam hari pada musim dingin.

Setiba di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa terlambat sedikit saja, gejala sakit saya bisa berkembang menjadi pneumonia yakni infeksi atau peradangan pada salah satu atau kedua paru-paru.

Sudah sepuluh tahun bibi Liu bekerja di rumah, dan tak pernah mau bersantai sejenak pun, tidak membolehkan ibu saya kerja apa pun.

Upah yang diberikan untuknya juga tak pernah dipakainya, sehari-hari hanya memakai beberapa potong pakaian yang itu-itu juga, tapi sangat bersih dan rapi.

Tak disangka setelah bibi Liu menginjak usia 45 tahun, ia menderita penyakit serius, yaitu kanker hati stadium akhir, kami bermaksud membiayai pengobatannya, tapi bibi Liu menolaknya, dia bilang tidak perlu membuang-buang uang, dan tak disangka bibi Liu mulai berbicara sambil menangis terisak, dan tentu saja hal itu sangat mengejutkan kami.

“Nak, aku merasa lega dan tenang sekarang setelah melihat hidupmu bahagia, aku hanya berharap sebelum pergi, kamu bisa memanggilku ibu.” Kata bibi Liu.

Setelah bibi Liu bercerita panjang lebar, aku baru tahu ternyata orangtuaku yang sekarang adalah orangtua angkat, dan bibi Liu adalah ibu kandungku.

Ilustrasi.(Internet)

Bibi Liu mendapati dirinya hamil setelah putus dengan pacarnya ketika itu. Dan tanpa peduli dengan segala upaya, ia melahirkanku.

Karena hal ini, ia pun dimarahi dan dipukuli orangtuanya, demikian juga dengan penduduk desa yang mengumpatnya wanita tak tahu diri.

Karena bibi Liu sangat sayang padaku, dia tidak mau hidupku kelak sengsara dan terlunta-lunta.

Sudah lama dia mengamati sebuah keluarga tanpa anak, kondisi ekonomi juga lumayan bagus, lalu meletakkanku di depan pintu rumah keluarga itu.

Ilustrasi.

Karena sudah sekian tahun dan dia merasa rindu padaku, ia pun datang dan ingin bekerja sebagai pembantu di rumahku, dan karena takut menghancurkan masa depanku, ia pun berpura-pura tidak bisa berbicara.

Aku pun tercengang kaget, dan menangis.

Ilustrasi.

Ibuku kemudian berkata kepadaku “Panggilah ibu, nak, dia tak pernah melakukan kesalahan apa pun padamu, hanya nasibnya saja yang terlalu getir.”

Aku pun berlutut di hadapannya dan menangis tersedu-sedu, kemudian memanggi bibi Liu “Ibu”.

Setelah rahasia itu terbuka, bibi Liu atau ibu kandungku pamit ingin pergi.

Sebelum pergi, bibi Liu ‘ibu kandungku’ meninggalkan uang simpanannya sekitar 200 juta rupiah untuku, itu adalah upah dari bekerja di rumahku yang tak pernah dipakainya selama 10 tahun .

Ia hanya berharap aku menjalani hidupku dengan bahagia bersama keluarga seperti selama ini.(jhn/yant)

Sumber: twgreatdaily.com