Melihat Laporan Media Amerika Serikat ‘The Dodo’Tentang Atraksi Topeng Monyet yang Kini Dilarang Ditampilkan Karena Dinilai Menyiksa Hewan

179
Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Erabaru.net. Setiap tahunnya, ribuan bayi monyet diambil dari hutan Indonesia dan dipaksa melakukan atraksi untuk menghibur para penonton.

Hal ini tentu berdampak buruk bagi mereka, karena bisa membuat mereka trauma, bahkan setelah mereka telah diselamatkan. Seperti kisah memilukan yang dialami monyet bernama Dodo ini.

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Pada bulan Oktober 2016, The Dodo melaporkan kisah mengerikan tentang seekor bayi kera, bernama Dodo, yang diselamatkan oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Laporan ini ditulis oleh situs berita asal Amerika Serikat ini dengan judul Baby Monkey Forced To ‘Dance’ For Tourists Is Finally Freed.

Laporan ini menuliskan, atas bantuan polisi, para staf JAAN menemukan Dodo di Bandung,  Jawa Barat, yang diikat dengan rantai logam di lehernya dan dipaksa tampil di atas panggung kayu setiap kali pawangnya menarik rantai itu.

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Setelah Dodo diselamatkan, Femke den Haas, salah satu pendiri JAAN, prihatin terhadap penderitaan hewan malang tersebut.

Mereka mengatakan: “Saat kami menyelamatkannya, kondisi Dodo sangatlah buruk. Dia tampak sangat, sangat tertekan, dan tidak bisa menikmati hidup dengan semestinya. Dia tidak memberikan reaksi bahagia terhadap apapun, kecuali makanan.”

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

“Selama makan, Dodo hanya duduk dengan ekspresi tertekan di sudut sangkar, terlepas dari semua usaha para staf JAAN agar dia bisa merasakan kebahagiaan sejenak.”

Dodo adalah salah satu dari banyak monyet yang dipaksa untuk melakukan atraksi “topeng monyet” di Indonesia yang dipaksa melakukan trik seperti menari, memainkan alat musik, mengendarai sepeda, atau melakukan trik akrobatik. Mereka juga disuruh memakai topeng yang dibuat atau dimiliki oleh pawangnya.

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Agar mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan, para pawang melatih mereka dengan kejam. Mereka mengikat lengan para monyet di belakang punggung mereka atau mengalungkan tangan mereka di leher, sehingga memaksa mereka berdiri tegak seperti manusia.

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Jika mereka mencoba kabur, mereka akan disiksa. Para pawing ini juga sering membiarkan monyet-monyet ini merasakan lapar dan sakit saat mengajari mereka sebuah trik.

Proses pelatihan berlangsung hingga enam jam sehari dan membutuhkan empat sampai enam bulan untuk melatih mereka hingga terampil.

Monyet tersebut kemudian disuruh tampil di depan penonton selama lima sampai sepuluh tahun, sebelum para pawing menyembelihnya untuk mendapatkan dagingnya dan dijual.

Hal ini dilakukan karena pada usia tersebut, monyet berubah menjadi terlalu agresif. Dan para pawing juga tak pernah melepaskan rantai logam di lehernya, padahal itu bisa menyebabkan infeksi serius pada kulit monyet.

Diperkirakan lebih dari 3.000 monyet bayi dirampas dari ibu mereka di hutan Indonesia setiap tahun dan dijual ke universitas atau kelompok farmasi internasional untuk tujuan penelitian, atau dijual sebagai hewan peliharaan di pasar satwa liar, atau digunakan sebagai pelaku utama dalam atraksi topeng monyet.

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

Sejak 2009, JAAN mulai berkampanye pelarangan atraksi topeng monyet. Untungnya, usaha tersebut berhasil direalisasikan pada tahun 2013, di mana pemerintah Jakarta mulai memberlakukan larangan melakukan pertunjukkan atraksi monyet. Peraturan yang sama juga mulai berlaku di Provinsi Jawa Barat tahun 2016.

Organisasi seperti JAAN telah berusaha melakukan semua yang mereka bisa untuk mengakhiri perlakuan tidak manusiawi terhadap para hewan malang ini.

Perhatikan cerita Dodo di bawah ini yang diunggah di Youtube 2 Agustus 2017 :

Kredit foto: Facebook | Jakarta Animal Aid Network (JAAN) .

(intan/asr)

Sumber : the dodo/ntd.tv